Saturday, June 2, 2018

Di Jalan Dakwah Ku Ingin Setia (Part 5)


Oleh: Ratu Ika Chairunnisa


Hidup di alam Sekulerisme memang tak mudah. Di tengah lingkungan yang mencerabut nyawa agama dari kehidupan, materi yang seolah menjadi Tuhan tandingan. Hidup serba sulit. Membuat semua orang menjerit. Tak jarang dilanda dilema hebat saat situasi terhimpit. Ambil jalan haram saja susah. Apalagi yang halal, begitulah kata orang banyak berhujjah.


Uang yang seolah Maha Berkuasa. Mau sehat butuh uang, sudah sakit keluarkan banyak uang, mau makan harus punya uang, mau pendidikan berkualitas harus siap merogoh kocek lebih dalam. Mencari kerja saja banyak yang gunakan uang sogokkan. Mau menang di pengadilan pun harus ada uang dan dukungan kekuasaan. Hmm...makanya kalah yaps di pengadilan. Ups.. Nggak apa-apa yang penting Allah yang selalu dimenangkan😊


Tanpa sadar, pola pikir, rasa dan tingkah laku kita pun mengaamiinkan tuk jadikan uang sebagai tujuan. Hingga tak jarang kita tersungkur pada tapal batas keimanan. Terpelanting pada rimba dunia tuk bergelut habiskan jatah hidup hanya tuk dapat sebanyak-banyaknya harta, tahta dan kuasa.


Walhasil, menggenggam Islam saat ini, benar tak ubah seperti menggenggam bara api. Panas. Sakit. Berat. Jika tanpa keimanan yang mengakar kuat, niscaya kemaksiatan tanpa sadar jauh lebih memikat. Kewarasan terkadang hilang seketika. Dilema yang meraja. Jika tak bekerja (bagi perempuan), bagaimana bisa cukupkan hidup keluarga? Sedangkan, tuk menghidupi dakwah saja butuh dana. Padahal, suami hanya mendapat gaji seadanya. Namun, jika memilih bekerja, bagaimana dengan kewajiban sebagai ibu rumah tangga? Bagaimana pula dengan kewajiban dakwah. Apakah layak kewajiban justru diberi jatah waktu sisa?

.

.

Hmm..lagi-lagi hidup memang penuh dengan beragam pilihan. Akal yang dibimbing imanlah yang kan tunjukan benderangnya jalan, sekelam apapun mereka bungkus kebenaran.


Dan pilihan terbaik bagi setiap diri yang beriman, termasuk pengemban dakwahnya tentulah Islam. Islam yang sudah kita pilih sebagai jalan hidup kita. Islam pula yang telah memuliakan kita di dunia. Dan kelak menyelamatkan kita di akhirat sana. Hukum syara'lah yang harusnya jadi timbangan.

.

.

Niscaya, suatu hal yang mustahil bagi secerdas apapun akal manusia, kan menjadi niscays jika iman yang sudah bicara. Ya, karena iman mampu menembus batas tertinggi logika. Meretas segala hambatan yang terbentang rintangi jalan perjuangan.


Dan dahsyatnya kekuatan iman telah dibuktikan oleh Rasulullah SAW dan sahabatnya yang mulia. Mereka para generasi terbaik yang Allah cipta. Terbaik bukan karena harta. Tapi karena iman yang terus menyala. Bagiku, membaca kisah mereka mampu membakar kembali api semangat yang sempat terpadam oleh hiruk pikuk dunia.


Lihatlah Abu Bakar yang rela kehilangan seluruh harta, rela menjadi teman hijrah Rasulullah SAW walau taruhannya nyawa. Bahkan saat di gua tsur ia tetap diam saat kakinya terkena bisa beracun ular hanya karena tak ingin membangunkan Rasulullah yang sedang tertidur pulas dan bersandar di tubuhnya.


Lihatlah Abu Dzar Al-Ghifari yang datang jauh dari kampung halamannya. Mencium semerbak mewangi Islam di Mekkah. Hingga Islam menjadi pilihannya. Baru saja syahadat terucap, ia sudah tak sabar ungkapkan kebenaran yang membakar jiwanya. Ia sampaikan Islam di tengah perjalanan pulangnya. Hingga pukulan yang mendarat hantam tubuhnya. Abu Dzar bahkan tak bisa membalikkan badannya. Tapi ia bahagia. Esoknya pun ia ulangi aktivitas yang sama. Menyerukan Islam di tempat terbuka. Hingga pukulan datang untuk kedua kalinya. Dan ia tetap saja bahagia, saat iman berhasil dibuktikannya. Ia menjadi kekuatan tak terkalahkan.


Lihat pula Sa'ad Bin Abi Waqash Ketika Saad bin Abi Waqqash memeluk Islam, menerima risalah kerasulan Muhammad ﷺ, dan meninggalkan agama nenek moyangnya, ibunya sangat menentangnya. Sang ibu ingin agar putranya kembali satu keyakinan bersamanya. Menyembah berhala dan melestarikan ajaran leluhur.


Ibunya mulai mogok makan dan minum untuk menarik simpati putranya yang sangat menyayanginya. Ia baru akan makan dan minum kalau Saad meninggalkan agama baru tersebut.


Setelah beberapa lama, kondisi ibu Saad terlihat mengkhawatirkan. Keluarganya pun memanggil Saad dan memperlihatkan keadaan ibunya yang sekarat. Pertemuan ini seolah-olah hari perpisahan jelang kematian. Keluarganya berharap Saad iba kepada ibunda.


Saad menyaksikan kondisi ibunya yang begitu menderita. Namun keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya berada di atas segalanya. Ia berkata, “Ibu… demi Allah, seandainya ibu mempunyai 100 nyawa. Lalu satu per satu nyawa itu binasa. Aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikit pun. Makanlah wahai ibu.. jika ibu menginginkannya. Jika tidak, itu juga pilihan ibu”.


Ibunya pun menghentikan mogok makan dan minum. Ia sadar, kecintaan anaknya terhadap agamanya tidak akan berubah dengan aksi mogok yang ia lakukan. Berkaitan dengan persitiwa ini, Allah pun menurunkan sebuah ayat yang membenarkan sikap Saad bin Abi Waqqash.


Masya Allah. Jika mereka rela mengorbankan semua yang mereka cintai untuk Islam. Untuk tetap setia pada dakwah. Layakkah kita terpelanting dari arena dakwah hanya karena ujian dunia yang sesaat kam sirna?


Cukuplah perkataan Ibnul Qayyim sebagai penutup.


Ibnul Qayyim dalam Al Fawaid dengan cerdik menyindir orang-orang yang berleha-leha padahal tahu bahwa sebenarnya inilah jalan para Nabi dan Rasul, beliau berkata:


“Wahai orang yang berjiwa banci, di manakah kamu dari jalan para Nabi, jalan di mana Adam kelelahan, Nuh mengeluh, Ibrahim dilempar ke dalam api, Ismail dibentangkan untuk disembelih, Yusuf dijual dengan harga murah dan dipenjara selama beberapa tahun, Zakaria digergaji, Yahya disembelih, Ayub menderita penyakit, Daud menangis melebihi kadar semestinya, Isa berjalan sendirian, dan Muhammad saw mendapatkan kefakiran dan berbagai gangguan, sementara kamu bersantai ria dan bermain-main?”


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!