Monday, June 18, 2018

Bukan Muhrim!


Oleh: drg. Tristiana Leventi 


Sering dengar kalimat seperti itu, bukan? Biasanya dijadikan alasan agar laki-laki tidak berdekatan atau bersentuhan dengan perempuan. Sayangnya, seringkali yang mengucapkan tidak benar-benar karena ingin menjaga jarak dengan laki-laki demi menaati syariat Allah. Tapi hanya karena tidak suka saja. Atau bahkan dijadikan guyonan. 


Padahal, aturan syariat tentang hubungan laki-laki dan perempuan bukan muhrim tidak hanya soal berdekatan atau bersentuhan saja. Sebenarnya, penggunaan kata muhrim kurang tepat. Muhrim bermakna 'orang yang berihrom'. Mestinya digunakan kata 'mahrom'. Artinya, orang yang haram dinikahi  (karena sebab nasab, perkawinan dan persusuan). Siapa saja mereka? 


Mahrom karena nasab

Yakni:

1. Ayah, dan nasabnya ke atas (kakek, kakek buyut dst)

2. Anak laki-laki, dan nasabnya ke bawah (cucu, cicit dst. Termasuk juga keturunan dari anak perempuan)

3. Saudara laki-laki sekandung, seayah atau seibu. 

4. Paman, baik dari jalur ayah ataupun ibu

5. Keponakan laki2 dari saudara sekandung, seayah atau seibu


Mahrom karena perkawinan

1. Ayah mertua

2. Ayah tiri, dengan syarat sudah menggauli ibu

3. Anak tiri (anak suami) termasuk cucu tiri, dengan syarat suami sudah menggauli.

4. Menantu


Mahrom karena persusuan

Hubungan Persusuan menjadikan seluruh jenis mahrom seperti diatas dari ibu susu menjadi mahrom kita. Mulai dari suami ibu susu (bapak susu), saudara sepersusuan, bibi susu, keponakan dst. Rincian mahrom ini dijelaskan di dalam Al Qur'an surat An Nur: 31, An Nisa: 22-23.


Pembatasan mahrom ini terkait pelaksanaan hukum-hukum lainnya. Misalnya:

1. Batasan Safar (bepergian) 

Jika seorang wanita hendak Safar sendirian, maka jarak waktu yang diperbolehkan tidak melebihi 24 jam atau sehari semalam. Jika waktu tempuh lebih dari 24 jam, wajib disertai mahromnya. Kecuali umroh dan haji, meski waktu tempuh dari negeri kita kurang dari 24 jam, mutlak wajib disertai mahrom.


لاَ يَحِلُّ لامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ 


_“Tidak halal (boleh) bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir safar sejauh sehari semalam (perjalanan) dengan tanpa mahram (yang menyertainya)”. [HR Bukhari-Muslim)_


2.  Larangan khalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis)

Maka, untuk keperluan yang memungkinkan terjadi khalwat, para wanita wajib disertai mahrom atau pihak ketiga lainnya

3. Batalnya Wudhu

Bersentuhan kulit dengan lawan jenis membatalkan wudhu. Kecuali bersentuhan dengan lawan jenis yang termasuk mahrom.

4. Wajibnya menutup aurot

Kebolehan wanita memperlihatkan 'mahalul zinnah' atau tempat2 perhiasan pada anggota tubuh seperti leher ke atas, lengan atas hingga tangan, lutut hingga kaki hanya kepada laki2 yg menjadi mahromnya. Jika di hadapan lelaki asing atau bukan mahrom, wajib menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.


Namun, pelaksanaan beberapa aturan tersebut  masih diremehkan oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia. Banyak wanita menutup aurot hanya saat bepergian. Namun saat berada di rumah, tidak bersungguh-sungguh menjalankan kewajiban menutup aurot sekalipun dihadapan laki-laki kerabatnya yang bukan termasuk mahrom. 


Tidak sedikit pula wanita pergi haji atau umroh tanpa mahrom. Padahal Pemerintah Arab Saudi menerapkan hukum wajibnya mereka disertai mahrom. Akhirnya, dibuatlah mahrom rekayasa. Mereka dimahromkan dengan jamaah pria satu rombongan. Demikian juga banyak para suami yang membiarkan istrinya bepergian hanya diantar supir pribadi sehingga terjadi khalwat diantara keduanya.


Para lelaki mengabaikan kewajiban terhadap mahrom wanitanya, para wanita meremehkan peran mahrom atas dirinya. Semua terjadi karena aturan hidup yang dianut saat ini bukan aturan Islam. Melainkan aturan sekuler yang tidak menganggap penting agama untuk mengatur hidup. Bahkan harus dipisahkan. Pentingnya urusan mahrom tidak diajarkan di sekolah. Akhirnya masyarakat pun tidak memahami dan menganggap penting aturan tentang mahrom. Tidak ada kontrol sosial ketika terjadi pelanggaran, bahkan hukum direkayasa. 


Maka, urusan mahrom akan dianggap penting ketika standar perilaku dan standar hukum merujuk pada Islam. Jika demikian, masyarakat akan terdidik untuk tidak meremehkan interaksinya dengan para mahrom dan bukan mahrom. 


Bahkan, dalam Islam negara bisa memaksa para mahrom untuk memenuhi hak-hak para wanita. Hal ini pernah dilakukan Rosulullah saat ditanya seseorang yang ingin pergi berjihad, sementara istrinya ingin berhaji. Walau jihad amalan wajib, namun Rosulullah justru meminta untuk mendampingi istrinya berhaji.


“_Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin mengikuti jihad bersama pasukan ini dan itu, sedangkan istriku ingin melaksanakan haji.” Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Pergilah bersama istrimu_.” [HR. Al-Bukhari dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu'anhuma].


WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!