Monday, June 11, 2018

Beras Sachetan di Negeri Agraris


Oleh: N. Vera Khairunnisa


Kalau disuruh milih, emak-emak pasti lebih suka beli produk yang kardusan, karungan, botolan, ketimbang beli yang sachetan. Alasannya jelas, karena lebih hemat, nggak banyak nyampah, dan efektif. Kan nggak harus bolak balik warung atau toko demi membeli kebutuhan harian, sebab persedian di rumah banyak.


Namun sayangnya, terkadang idealisme emak-emak terkikis oleh keadaan. Apalagi yang suaminya hanya punya pendapatan harian yang pas-pasan. Dengan terpaksa emak-emak pasrah membeli barang serba sachetan. Meski seringkali, apa yang mampu dibeli tidak bisa mencukupi seluruh apa yang dibutuhkan. Misal sampo satu sachet dipakai untuk satu keluarga. Sabun satu sachet dipakai untuk mencuci baju sekeluarga.


Keadaan seperti itu sudah bisa diterima. Yang penting masih ada duit sisa buat beli beras, sayur dan lauk pauk. Meski ternyata, beras sekilo sekarang harganya lumayan mahal untuk keluarga yang penghasilan hariannya hanya dua puluh ribuan. Sepertinya, beras pun harus ada yang dijual sachetan. Berharap dengan begitu, bisa mengatasi manajemen keuangan keluarga yang dengan penghasilan ekonomi pas-pasan.


Sebagaimana yang disampaikan Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog, Karyawan Gunarso, bahwa beras sachetan yang isinya kurang lebih 200 gram dengan harganya nanti sekitar Rp 2.500. Akan mampu membuat mereka yang  punya uang Rp 10 ribu, membeli komoditi lainnya. (tribunnews. com, 24/05/2018)


Namun pada faktanya, beras 2 ons hanya cukup untuk kebutuhan satu orang dewasa. Kalau untuk anak kos-kosan, mungkin bisa jadi solusi. Tapi tidak untuk keluarga. Jika satu keluarga dikondisikan hanya cukup dengan 2 ons sehari, bisa saja menimbulkan kurang gizi. Sebab karbohidrat merupakan kebutuhan pokok yang tidak boleh disepelekan.


Kalau alasan dibuatnya beras sachetan ini demi mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan beras secara murah dan praktis, sepertinya kurang tepat. Karena sekali lagi, emak-emak lebih suka yang karungan, daripada sachetan. Lebih hemat, nggak banyak nyampah dan nggak harus bolak-balik ke warung. 


Masalahnya, nggak semua emak bisa nyetok beras karungan di rumah. Karena penghasilan suaminya harian dan pas-pasan. Apakah solusinya harus dengan beras sachetan? Sebab nyatanya beras tersebut tidak akan mampu mencukupi kebutuhan karbohidrat satu keluarga untuk satu hari.


Jika mencermati masalah yang ada, Indonesia ini kan negara agraris. Sawahnya banyak. Produksi berasnya juga melimpah. Tapi kenapa tidak semua masyarakat mampu mencukupi kebutuhan pokok beras? Bisa dipastikan, ada yang salah dengan sistem ekonomi di negeri ini. Semua ini akibat diterapkannya sistem kapitalisme. Sistem yang tidak bertanggungjawab terhadap kebutuhan pokok masyarakatnya. Sebab hubungan antara pemerintah dan masyarakat adalah hubungan bisnis. Pemerintah sebagai pihak penjual, dan masyarakat sebagai pembeli.


Banyak SDA di Indonesia yang seharusnya menjadi milik umum, malah dijual ke swasta. Sehingga pemasukan APBN diambil dari kantong-kantong rakyat, terutama pajak. Maka wajar jika harga beras juga mahal. Padahal kalau SDA dikelola negara, akan berimbas pada kesejahteraan rakyat. Misal harga beras jadi sangat murah. 


Di dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan primer rakyatnya. Yang termasuk dalam kebutuhan primer adalah sandang, pangan dan papan. Juga pendidikan dan keamanan. Karena ini merupakan tanggung jawab negara, maka Islam juga memiliki aturan bagaimana mekanisme negara dalam memenuhi kebutuhan primer rakyat.


Untuk menjamin terlaksananya strategi pemenuhan kebutuhan pokok pangan, sandang dan papan, maka Islam telah menetapkan beberapa hukum yang berperan untuk melaksanakan strategi tersebut.  Ringkasnya sebagai berikut:


Pertama, memerintahkan kepada setiap kepala keluarga untuk bekerja.


Kedua, negara menyediakan lapangan pekerjaan agar setiap orang yang mampu bekerja dapat memperoleh pekerjaan.


Ketiga, Memerintahkan kepada setiap ahli waris atau kerabat terdekat untuk bertanggungjawab memenuhi kebutuhan pokok orang-orang tertentu, jika kepala keluarganya sendiri tidak mampu memenuhi kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya.


Keempat, mewajibkan kepada tetangga terdekat yang mampu untuk memenuhi sementara kebutuhan pokok (pangan) tetangganya yang kelaparan.


Kelima, negara secara langsung memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan dari seluruh warga negara yang tidak mampu dan membutuhkan.


Demikianlah, karena masalahnya bukan terletak pada keterbatasan beras, maka solusinya bukan dengan mengeluarkan beras sachetan, namun dengan menerapkan sistem ekonomi Islam, yang akan menjamin terpenuhinya kebutuhan mendasar rakyat. Wallahua'lam.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!