Sunday, June 10, 2018

Agar Iman Membekas Tanpa Batas


Oleh: Ita Wahyuni

(Member Writing Class With Has)

 


Tak terasa kita sudah berada dipenghujung Ramadhan. Artinya, lebaran tinggal menghitung hari. Ye, hari yang penuh kegembiraan pun tak sabar tuk dinanti. Eits, tunggu dulu. Gembira boleh. Tapi, jangan lupa juga tanyakan pada diri apa yang sudah didapatkan selama Ramadhan? Amalan ibadah apa saja yang sudah kita kerjakan? Udah maksimalis atau masih minimalis?


Pertanyaan ini penting ya. Agar kita bisa mengukur sejauh mana amalan ibadah yang sudah kita lakukan selama Ramadhan. Harapannya jangan sampai kita udah puasa sebulanan, tapi nggak dapat apapun. Yang didapat sekedar lapar dan haus dahaga, sedangkan keutamaan dan berkahnya tak dapat dirasa. Sayang bukan.


Sesungguhnya, Ramadhan adalah bulan untuk menempa keimanan. Semua ibadah yang dilakukan merupakan bentuk ketaatan. Selama sebulan kita belajar mengontrol hawa nafsu. Melakukan banyak aktivitas yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tentunya kita melakukan semua itu dengan penuh keikhlasan, semata-mata mengharapkan pahala dan ridha dari-Nya.


Namun, semua amalan yang sudah kita lakukan harusnya terus berlanjut hingga kita bertemu dengan bulan berikutnya. Artinya, ibadah selama Ramadhan harus membekas. Iman yang sudah dibangun harus tetap kokoh dan akan mempengaruhi 11 bulan lainnya. Harus selalu konsisten dalam menjalankan perintah Allah dan tidak putus di tengah jalan. Karena konsisten dalam beramal lebih dicintai Allah daripada amalan yang sesekali saja dilakukan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Aisyah ra, beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,


“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit.” (HR. Bukhari)


Oleh karena itu, amalan yang sedikit tapi konsisten dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.


Nah, agar iman tetap membekas, ada beberapa hal yang harus kita lakukan:


Pertama, memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan benar. Kalimat syahadat adalah pokok keimanan. Allah SWT berfirman: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)


Kedua, Mengkaji Alquran dengan menghayati dan merenungkannya. Alquran dapat meneguhkan hati orang-orang yang beriman dan ia sebagai petunjuk jalan yang lurus. Allah SWT berfirman: 


“Katakanlah: “Ruhul Kudus (Jibril) menurunkan Alquran itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (QS. An Nahl: 102)


Ketiga, membaca kisah-kisah orang shalih sehingga bisa dijadikan uswah (teladan). Dalam Alquran banyak dicerikan kisah-kisah para Nabi, Rasul, dan orang-orang yang beriman yang terdahulu. Kisah tersebut Allah jadikan sebagai peneguh hati Rasulullah SAW dengan mengambil sebagai teladan ketika menghadapi permusuhan orang kafir. Allah SWT berfirman: 


“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami cerikan kepadamu. Ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud: 11)


Keempat, menyampaikan Alquan dan Islam. Jalan termudah agar iman tetap membekas adalah dengan mendakwahkan Alquran dan Islam kepada orang lain. Selain itu aktivitas dakwah juga diwajibakan bagi setiap muslim. Allah SWT berfirman:


“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..” (QS. Ali Imron: 110)


Kelima, memperbanyak doa kepada Allah agar diberikan keistiqomahan dalam iman. Doa merupakan ibadah. Dan di antara sifat orang yang beriman adalah selalu memohon dan berdoa kepada Allah agar diberikan keteguhan di atas kebenaran. Allah SWT berfirman: 


“Dan berapa banyaknya para Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai oran-orang yang bersabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran:146-148) 


Keenam, bergaul dengan orang-orang shalih. Nabi SAW mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita. Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:


“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk.” (HR. Bukhari, Muslim)


Demikianlah beberapa hal yang harus dilakukan agar selalu istiqomah dalam Iman yang akan terus membekas tanpa batas. Semoga Allah senantiasa meneguhkan hati kita agar tetap berada di jalan ajaran agama yang lurus ini. Aamiin


Wallahu’alam bisshowab.


* Dari berbagai sumber


#temanselamaramadhan

#writingclasswithhas


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!