Saturday, May 26, 2018

“We Are Muslim" Bersaudara Karena Islam


Oleh: Nor Aniyah, S.Pd


Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (TQS. Al-Hujurat: 10).


Kaum Muslim seluruhnya adalah bersaudara. Di mana pun kita berada. Mau beda kampung, kota, negara ataupun benua. Tinggal di wilayah Timur, Barat, Utara, Selatan. Warna kulit putih, cokelat, merah atau hitam tidak masalah. Kita semua bisa dihubungkan dalam satu ikatan, dengan landasan iman. 


Layaknya satu tubuh. Saat anggota badan lagi demam. Tidak mungkin bisa tidur nyenyak. Yang ada, akan terbangun sepanjang malam. Karena merasakan derita yang sama. 


Saudara pun tidak akan pernah meninggalkan. Tidak hanya ada saat bahagia, tapi juga menguatkan saat diterpa kesulitan. Tak sekadar bersama saat dapat berkah, saudaralah tetap bersamamu dalam musibah. 


Saling percaya dan mendoakan kebaikan. Bila ada keributan itu antar saudara wajar, sebab ada sedikit perbedaan. Namun, sebentar kemudian berbaikan dan saling memaafkan. Merekatkan lagi tali persaudaraan. Saling mengasihi dalam ukhuwah Islamiyah. 


Di bulan Ramadhan ini, alhamdulillah  kita bisa makan sahur dengan aneka lauk-pauk yang enak. Kemudian berbuka dengan makanan manis dan nikmat. Bisa bukber dengan keluarga dan sanak saudara. 


Karena seluruh Muslim di dunia adalah bersaudara. Baik dekat maupun jauh. Nah, gimana ya keadaan saudara kita lainnya? Yang ada di Palestina, Ghouta, Rohingya, China, dan Afrika. Apakah mereka juga bisa menjalankan ibadah puasa seperti kita? 


Sedih sekali ketika teringat, berita kondisi negeri saudara-saudara kita di Palestina. Hujan bom dan peluru mengguyuri mereka tak kenal waktu, siang dan malam. Hamparan tanahnya hampir selalu basah dengan tumpahan darah. Sampai anak-anak dan perempuan pun menjadi korban, seakan tanpa berkesudahan. 


Bagaimana pula keadaan mereka di bulan puasa ini? Om Hamda Thabet, seorang warga Palestina yang tinggal di Gaza kepada Asharq Al-Aswad menerangkan bagaimana dia mengalami saat-saat yang sulit selama sahur pertama bulan Ramadhan, karena ia tidak dapat menemukan apapun di kulkasnya yang sudah usang untuk diberikan kepada anak-anaknya dan suaminya yang memakai kursi roda. 


Dia hanya berhasil menemukan sedikit thyme Palestina (rempah daun) untuk ditaruh disamping secangkir teh untuk keluarganya yang terdiri dari tujuh orang. Sambil berharap akan dapat menyediakan beberapa lentil (sejenis kacang kering yang lunak) untuk menu berbuka puasa setelah 14 jam puasa. Begitulah, ribuan keluarga di jalur Gaza hidup dalam kondisi yang sama, pada saat otoritas telah berhenti memberikan bantuan.


Dalam sebuah pernyataan Jamal Khoudary, anggota Parlemen Palestina dan Ketua Komite Rakyat Melawan Pengepungan mengungkapkan sejumlah besar kondisi kemanusiaan di Gaza. Sekitar 80 % penduduknya berada di bawah garis kemiskinan dan warga hanya mendapatkan listrik empat jam di siang hari. Bahkan 95 % dari air di Gaza tidak dapat diminum, dan terdapat seperempat juta warga Palestina yang menganggur dan ribuan lulusan sekolah tidak memiliki kesempatan mencari pekerjaan (Mediaumat.news). 


Nampak tiada habisnya. Derita saudara kita di Palestina pasca runtuhnya khilafah tak pernah berhenti sampai kini. Bahkan bisa dikatakan termasuk tragedi kemanusiaan terbesar dan terlama sepanjang sejarah yang ada. 


Seperti inilah, di bawah sistem demokrasi, nasib Palestina kian hancur. Israel perampas negeri Palestina malah didaulat sebagai penguasa sah Palestina. Penduduk asli Palestina malah terusir dari rumah dan negaranya. 


Terhadap hal ini kita mesti peduli. Bisa juga dengan melakukan aksi solidaritas. Tergerak atas dorongan sesama Muslim. Seperti Aksi Bela Palestina yang menuntut pembatalan pemindahan Kedubes AS. Ribuan warga menggelar aksi solidaritas untuk Palestina di Monas, Jakarta Pusat (12/05). Massa menolak pemindahan Ibu Kota Israel ke Yerusalem. Aksi diikuti massa dari berbagai ormas yang bergerak dari Masjid Istiqlal dan Monas menuju Kedutaan Besar Amerika Serikat.


Massa menuntut Pemerintah AS membatalkan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem yang akan dilakukan 14 Mei. Massa menilai dengan pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem secara tak langsung AS mendukung Yerusalem menjadi Ibu Kota Israel. (http://www.beritasatu.tv/news/massa-aksi-bela-palestina-tuntut-pembatalan-pemindahan-kedubes-as/).


Tentu keadaan saat ini sangatlah berbeda saat Islam berkuasa pada masa dulu. Tiga agama dapat hidup berdampingan dan sejahtera. Ini terbukti dalam catatan sejarah.


Penguasaan Khilafah Islamiyah atas tanah Palestina dimulai pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Wilayah Palestina yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur), berhasil dikuasai oleh tentara Islam pada tahun 638 Masehi atau bertepatan dengan tahun 16 Hijriah. Pada saat itu, Palestina memang merupakan wilayah yang tersisa di kawasan Timur Tengah, yang belum dikuasai oleh Kekhalifahan Islam.


Dikisahkan, ketika tiba di Yerusalem, Khalifah Umar mengunjungi tempat-tempat suci umat Nasrani, salah satunya adalah Gereja Holy Sepulchre. Saat sedang berada di gereja ini, waktu shalat umat Islam pun tiba. Uskup Sophorius pun mempersilakan Umar untuk shalat di tempat ia berada, tapi Umar menolaknya.


Umar mencontohkan perilaku Rasulullah saw dan keterangan Al-Qur’an, yang menjelaskan, “Bagi kamu agamamu dan bagi kami agama kami.” (TQS. Al-Kafirun: 6).


“Andai saya shalat dalam gereja, umat Islam akan mengenang kejadian ini dengan mendirikan sebuah masjid di sana, dan ini berarti mereka akan memusnahkan Holy Sepulchre,” jelas Umar. Ia pun pergi dan mendirikan shalat di tempat yang agak jauh dari gereja, namun lokasinya berhadapan langsung dengan Holy Sepulchre.


Palestina di bawah kekuasaan Islam saat itu, berkembang menjadi sebuah wilayah yang multikultur. Umat Islam, Nasrani, dan Yahudi yang berdiam di wilayah Palestina pada masa itu hidup berdampingan secara damai dan tertib. Sejak awal menaklukkan wilayah Palestina, penguasa Islam tidak pernah memaksakan agamanya kepada penduduk setempat. Mereka tetap diperbolehkan menganut keyakinan lama mereka dan diberi kebebasan beribadah. (http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/05/11/p8k09y313-sejarah-palestina-di-kekuasaan-islam)


Terhadap saudara kita di Palestina saat ini rasanya tak cukup sekadar mendoakan saja. Tidak cukup hanya sebatas mengirimkan bantuan bahan makanan dan obat-obatan. Akan selalu ada di antara mereka orang-orang yang menderita dan terluka. Selama permasalahan utamanya tidak dihilangkan. 


Saudara kita perlu segera ditolong. Mereka harus dibebaskan dari penindasan. Yakni dengan mewujudkan seorang pemimpin kaum Muslimin yang akan memerintahkan pasukannya untuk menolong. Membebaskan mereka dari segala bentuk penjajahan. 


Yakinlah, sistem Islam akan bisa menyelamatkan. Yang akan memberikan rasa aman dan perlindungan.  Hanya seorang Khalifah seperti Umar bin Khaththab satu-satunya yang dapat diharapkan sebagai pelindung nyata bagi negeri para nabi tersebut. Insya Allah, Islam akan segera hadir kembali menebar rahmat bagi semesta dan umat manusia seluruhnya.[]




*) Pemerhati Masalah Sosial dan Remaja, Penulis dari Komunitas Muslimah Banua Menulis. Berdomisili di Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!