Wednesday, May 30, 2018

Urgensitas Dakwah Dan Jebakan Baper


Oleh: Astia Putriana, SE

Mahasiswi Pascasarjana FEB UB Malang dan 

Anggota Komunitas Penulis “Pena Langit”


Baper memang masih menjadi momok bagi tiap manusia untuk bangkit. Baper kehilangan orang yang dicintai, baper kehilangan barang, baper ditimpa musibah dan baper baper lainnya. Baper adalah hal yang lumrah ada pada diri manusia. Wanita apalagi. Sudah menjadi capnya mudah baper. Namun, bagi seorang pengemban dakwah, tepatkah untuk bersikap baper?


Ketika menegur kemaksiatan, lantas dicaci

Ketika menyebarkan kebaikan, lantas dipersekusi

Ketika membuat kajian, lantas dibubarkan

Baper ga sih? Ya iya baper... 


Saya senang menggunakan hashtag #RasulpunBegitu untuk selalu memotivasi kita dalam dakwah. Baper juga pernah dialami Rasul, sebagaimana beliau pernah "curhat" kepada Allah mengenai nasib kaumnya yang keras dan menentang dakwahnya. Para Sahabat pun tak luput dari Baper. Baper terbesar dan terdalam yang pernah ada di muka bumi ini (lebay ya) mungkin baper yang dialami oleh Umar bin Khattab ra. Beliau, seorang yang keras sekalipun bahkan baper ketika mendapati kenyataan pahit. Betapa pedang telah terhunus dan kemarahan memuncak kepada siapa saja yang menyebut Rasulullah telah wafat.


Karena baper adalah hal lumrah, maka keberadaannya pun tak terelakkan ada pada diri manusia. Hanya saja, seorang pengemban dakwah harus menyandarkan bapernya juga kepada kaidah syari. Ada banyak sekali ayat-ayat Allah yang mendorong kita untuk tidak menempatkan baper diatas pemikiran kita.


"Katakanlah, Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. At-Taubah 9: Ayat 24) atau pada ayat lain " ... boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216).


Kecintaan dan ketaatan pada Rabb lah yang memunculkan kekuatan bagi Rasul keluar dari baper berlebihan. Pun ini terjadi pada Umar ra. Ketika beliau diingatkan apakah tidak menyadari bahwa Rasul juga manusia, beliau sontak memohon ampun kepada Allah. 


Satu hikmah penting dibalik berbagai peristiwa baper yang dialami Nabi dan Sahabat adalah ketaatan kepada ayat-ayat Allah mampu membangkitkan diri mereka. Itu saja sudah cukup. 


Rasul mampu bertahan dalam dakwah yang sukar dengan keyakinan dan ketaatan, bahkan dakwahnya bertambah kuat. Umar ra mampu bangkit dari kesedihan bahkan bersama sahabat dan kaum muslimin rela menunda mengubur jenazah Nabi 3 hari 2 malam demi teringat pesan untuk memikirkan keadaan kaum muslimin agar tetap bersatu sepeninggalnya. Urgensitas dakwah Islam diatas baper. Inilah kekuatan keyakinan dan ketaatan. 


Lantas jika ayat-ayat Allah masih tak mampu mengetuk hatimu untuk kuat dalam dakwah, lalu mau dikuatkan dengan apa lagi???


Oleh: Astia Putriana, SE

Mahasiswi Pascasarjana FEB UB Malang dan 

Anggota Komunitas Penulis “Pena Langit”


30 Mei 2018



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!