Wednesday, May 30, 2018

Sudah Adzan Kok Masih Makan?


Oleh : Muhammad Rivaldy Abdullah


Sebagaimana diketahui bahwasanya aktivitas makan sahur adalah sunnah yang membedakan shaum kita dengan shaumnya orang yahudi. Tentu saja selain karena ittiba' kepada Nabi, makan sahur ini mengandung faidah yang banyak, terutama terkait ketahanan fisik dalam menjalani shaum. 


Bisa jadi itulah alasan mengapa Nabi Muhammad shallallaahu 'alayhi wasallam memerintahkan kita untuk mengakhirkan makan sahur. Agar waktu shaum kita lebih pendek. Akhir batas sahur ini yang perlu kita bahas karena banyak manusia keliru dalam memahaminya.


*Batas Akhir Waktu Makan Sahur Adalah Adzan Shubuh*


Allaah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


 وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ  


“..dan makan minumlah hingga nyata bagimu benang putih dari benang hitam berupa fajar” (QS. Al-Baqarah [2]: Ayat 187)


Ayat ini menunjukkan larangan atas makan minum jika telah terbit fajar, dengan penampakan "benang putih dari benang hitam" yang ada di angkasa.


Ketentuan tersebut dikuatkan dengan riwayat hadits :


« كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الفَجْرُ »


“Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan Adzan. Karena sesungguhnya dia tidak mengumandangkan adzan hingga terbit fajar.” (HR. Bukhari No. 1918, 1919)


Ummat Islam pada saat itu tidak diperbolehkan makan minum ketika Ibnu Ummi Maktum telah mengumandangkan adzan. Perlu diketahui bahwa di masa Nabi, terdapat dua adzan di waktu akhir malam. Adzan awal dikumandangkan oleh Bilal, dan adzan kedua dikumandangkan oleh Ibn Ummi Maktum. Adzan Bilal hanya berfungsi sebagai peringatan (tanbih) untuk mengerjakan qiyamul layl; sedangkan adzan nya Ibn Ummi Maktum menjadi pertanda masuk waktu shubuh. Adzan nya Bilal saat Fajar Kadzib, dan adzan nya Ibn Ummi Maktum saat Fajar Shodiq.


إنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ


“Sesungguhnya Bilal adzan di malam hari (adzan pertama), maka kalian masih boleh makan dan minum sampai Ibnu Ummi Maktum adzan (adzan kedua atau adzan untuk shalat Subuh)”. (Muttafaq Alayh)


Berkata Imam An-Nawawi rahimahullaah dalam masalah ini :


“Berkata para ulama madzhab kami(madzhab Syafi'I) : Fajar itu ada dua, yang pertama disebut Fajar Awwal, atau Fajar Kadzib. Dan yang kedua disebut Fajar Tsani, atau Fajar Shodiq. Maka fajar awwal itu muncul membentuk panjang garis di angkasa seperti ekor serigala. Kemudian menghilang selama beberapa saat dan setelah itu muncul fajar tsani /fajar shodiq yang sinarnya merata, yakni menyebar secara merata di ufuk. Berkata ulama madzhab kami : Dan hukum hukum seluruhnya berkaitan dengan fajar tsani. Di dalamnya masuk waktu shalat shubuh; keluarnya dari waktu shalat Isya; masuknya awal shaum; mulai terlarangnya makan minum bagi orang yang shaum; dan dengan nya berakhir malam serta bermulainya siang. Tidak ada kaitan sama sekali antara fajar awwal dengan hukum apa pun berdasarkan ijma' kaum muslimin.” (Al Majmu Syarh Al Muhadzdzab, 3/44)


Kesimpulannya, makan dan minum saat adzan shubuh (fajar shodiq) berkumandang, bagi yang berniat shaum hukumnya haram. Karena waktu itu adalah waktu dimana makan dan minum sudah terlarang.


Muncul pertanyaan, bagaimana dengan hadits riwayat Abu Dawud yang memperbolehkan makan dan minum, meski adzan berkumandang?


Haditsnya :


«إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ، فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ»


“Apabila salah seorang dari kalian mendengar adzan dalam kondisi bejana (air minum) masih berada di tangannya, jangan diletakkan sampai dia menunaikan hajatnya darinya (meminumnya)”. (HR. Abu Dawud No. 2350, Ahmad No. [2/423])


Seolah olah pada saat adzan berkumandang, orang yang shaum masih boleh untuk makan dan minum.


Jawaban bagi kemusykilan ini ialah :


(1). Riwayat hadits tersebut diperselisihkan keabsahannya. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya; dari Hammad, dari Muhammad Ibn Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah dengan lafadz sebagaimana di atas.


Hadits ini dianggap cacat oleh Ibnul Qaththan karena ketersambungan sanadnya diragukan. Imam Ahmad mengeluarkan hadits ini di dalam Musnad-nya (2/510), dan Hakim di dalam Al Mustadrak (1/203), serta Al Bayhaqi di dalam Al Kubra (4/218), dari jalur Hammad, dari 'Ammar, dari Abu Hurairah secara mauquf.


Berkata Ibn Abi Hatim di dalam Al 'Ilal (1/123) : “Aku bertanya pada Ayahku (Abu Hatim) tentang hadits mengenai hadits riwayat Rauh Ibn 'Ubadah, dari Hammad, dari Muhammad Ibn Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah dengan lafadz di atas. Diriwayatkan pula oleh Rauh, dari Hammad, dari Ammar, dari Abu Hurairah, dari Nabi dengan lafadz persis hadits diatas namun terdapat tambahan : “dan muadzin mengumandangkan adzan jika terbit fajar.” Berkata Ayahku : Kedua hadits ini tidak shahih.


At-Thahawi memandang bahwa hadits tersebut (beserta dengan hadits hadits serupa yang dijadikan syawahid), kalau lah shahih, maka kedudukannya ter-nasakh(terhapus). Sebab, bertentangan dengan nash ayat dan hadits yang melarang makan minum tatkala terbit fajar (adzan berkumandang). (Syarh Ma'ani Al Atsar, 2/52)


(2). Seandainya pun hadits diterima sebagai hujjah, maka pemahaman hadits tersebut juga mengandung ihtimal(kemungkinan penafsiran yang berbeda beda).


Imam An-Nawawi mengutip dari Imam Al Bayhaqi :


وَهَذَا إنْ صَحَّ مَحْمُولٌ عِنْدَ عَوَامِّ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِمَ أَنَّهُ يُنَادَى قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ بِحَيْثُ يَقَعُ شُرْبُهُ قُبَيْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ قَالَ ...أَوْ يَكُونَ خبرا عن الْأَذَانِ الثَّانِي


Jika hadits ini shahih, maka menurut mayoritas ulama’ dibawa kepada kemungkinan (1)bahwa “adzan” yang dimaksud pada hadits tersebut dikumandangkan sebelum fajar shodiq, dimana perintah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam untuk meminumnya, terjadi mendekati fajar shodiq, (bukan “adzan” untuk shalat Subuh)... (2) Atau, yang dimaksud “adzan” di dalam hadits itu adalah “adzan pertama”, bukan “adzan kedua” (sebagai tanda masuknya shalat Subuh)”. (Al Majmu’, 6/311-312. Maktabah Syamilah)


Maka, jelaslah bahwasanya seseorang yang berniat shaum tidak boleh makan dan minum jika adzan sudah berkumandang. Disinilah pentingnya keberadaan waktu imsak(sebagai peringatan), agar kita -di bulan Ramadhan ini- tidak jatuh pada kekeliruan berkenaan dengan batas akhir sahur. Allaahul musta'an.


✍🏻 Muhammad Rivaldy Abdullah

🌸🍃 Yuk Bantu Sebarkan! Bagian dari Amal Dakwah kita...


Instagram : www.instagram.com/ngaji_fiqh


Facebook : www.facebook.com/MuhammadRivaldyAbdullah


Telegram : Ngaji FIQH

https://telegram.me/ngajifiqh


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!