Tuesday, May 29, 2018

"SIAPA YANG SUKA PERANG?



Oleh : Ana Nazahah


"Perang adalah kejahatan besar, dan setiap ketidakpedulian kita, kejahatan besar juga" (Fauzi Baadilla).


Ya, siapa juga yang menyukai perang. Tak ada yang ingin hidup di daerah perang. Tak ada yang inginkan pertumpahan darah, ribuan anak kehilangan ayah. Apatah lagi rumah, makan minum sulit didapat. Daerah perang, tempat penyakitan. Tempat terhoror sejagat raya. Neraka bagi jiwa-jiwa yang nestapa.


Siapa yang suka perang, mendengar bom meletus seolah petasan. Ribuan mayat-mayat bergelimpangan. Darah dan air mata menjadi tontonan. Ketakutan menyergap jiwa, bersembunyi di balik puing-puing bangunan. Setiap waktu kematian mengintai, menerkam tak kenal belas kasihan.


Siapa juga yang suka perang, tak ada taman bermain atau tempat sekolah. Mall atau pasar tempat membeli makanan dan pakaian baru saat hari raya tiba. Bioskop berupa siaran langsung di depan mata. Langit layarnya, bumi deret bangkunya. Manusia tak berdosa pemain utamanya. Kumpulan pesawat tempur membawa bom mematikan. Baaaammmm. Gendung hancur, riuh anak manusia menjerit tak terdengar. Dunia membisu, menonton atau sekedar mengecam.


Kami tidak suka perang, yang kami lakukan hanya melawan. Dengan kerikil, bola-bola tanah, atau tameng badan. Semua kami lakukan untuk melawan ketidakadilan. Bukan untuk perang, hanya untuk bertahan. Agar kelak Allah tak berpaling enggan.  Kami tak ingin duduk diam dan berpangku tangan. Saat ibu ayah kami dibantai di depan mata. Saat anak dan istri kami diperkosa tak berdaya. Hujjah kami di hadapan Allah, karenanya kami melawan.


كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 


“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah suatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Al Baqarah: 216).


Perang itu disyariatkan, bila memang harus dilakukan. Pilihan akhir jika damai tak lagi didengar. Namun adakah perang yang lebih dahsyat dari pada perang pemikiran? Sejauh ini tak ada yang selamat saat dibunuh oleh pemikiran. Saat seseorang berhasil diracuni tak ada jalan keliar selain kehancuran. 


Mereka yang dibunuh tidur sesaat, lalu bangun di tengah mata air yang mengalir, Jannatun makwa. Sedang sebagian lagi mereka terus hidup, meski jiwa dan ruh mereka sudah mati, tergadai oleh murahnya dunia dan merekalah korban perang sesungguhnya.


Siapa yang suka perang? Di tengah dentuman bom atau virus mematikan liberalisasi pemikiran, siapa yang ingin menjadi korban?


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!