Thursday, May 24, 2018

Sekulerisasi Masjid

 

Oleh : Nurul Sakinah Bayti, S.Hut. (Motivator)


Saatnya masjid menjadi sorotan. Padahal awalnya apapun kegiatan bisa dilakukan di masjid. Mulai dari obrolan seputar keluarga sampai masalah ke negara. Diskusi masalah ringan hingga masalah yang paling serius sekalipun. Semuanya tak masalah dilakukan di masjid.


Namun saat ini fungsi masjid dipolitisasi. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan meminta takmir masjid menjadi garda terdepan dalam membentengi tempat ibadah dari paham radikal maupun politik praktis. Tujuannya, agar masjid tidak menjadi tempat penyebaran ujaran kebencian, terutama menjelang tahun-tahun politik. (Sabtu, 28/04/2018)


Mengamputasi Islam


Banyak hal yang bisa dilakukan di masjid. Acara pengajian, pembinaan ummat dan diskusi keislaman. Diskusi seputar ibadah, problem hidup bahkan diskusi politik. Menjadi sah-sah saja.


Menganggap masjid sebagai tempat beredarnya paham radikalisme adalah fitnah. Bahkan menjadikan masjid hanya untuk urusan sholat, sama saja mengkerdilkan fungsi masjid. Menjadikan masjid untuk fungsi ibadah semata, adalah cara mengamputasi terhadap islam.


Tuduhan masjid menjadi tempat paham radikalisme serasa mengada-ada. Radikalisme ketika diidentikkan denga gerakan islam radikal atau islam garis keras, justru fitnah yang tanpa dasar. Karena radikalisme sering menjadi isu yang dimunculkan di tengah kita.


Ketika islam dianggap sebagai sumber radikalisme, sejatinya isu ini ingin menjauhkan islam dari kehidupan. Sehingga banyak orang merasa takut ketika belajar islam lebih serius. Ini bentuk penjajahan dalam islam. Yang dampaknya banyak ajaran-ajaran islam yang ditinggalkan ummat. Ummat hanya mengambil ajaran islam yang sifatnya ritual saja. 


Menjadikan fungsi masjid sebatas sholat inilah yang dikehendaki. Ingin menjauhkan ummat dari fungsi masjid yang sesungguhnya. Ketika ummat sudah menjauh dari aktivitas-aktivitas masjid. Dampaknya ummat tidak lagi menjadikan islam sebagai pengatur hidup. Islam tinggal namanya saja. Sementara ajarannya semakin jauh dari kehidupan masyarakat.


Politisasi Masjid 


Makna politik sesungguhnya adalah pengaturan urusan ummat baik di dalam negeri atau luar negeri berdasarkan hukum syariat. Politik yang mencakup semua aspek hidup. Tidak ada pembatasan. 


Membicarakan hal politik dalam masjid menjadi hal biasa. Karena kebutuhan ummat semakin mendesak. Problem ummat semakin banyak. Dan semuanya membutuhkan solusi. Inilah yang dikatakan politik. 


Politik adalah bagian dari islam. Dan islam tidak bisa dipisahkan dari politik. Ketika melarang ummat islam berpolitik, walhasil akan semakin menumpuk beban hidup yang dirasakan unmat.


Melarang ceramah politik di dalam masjid, adalah bentuk politisasi islam. Urusan politik merupakan urusan rakyat. Pembatasannya akan menyebabkan hilangnya fungsi  politik ummat. Bahkan semakin jauhnya solusi ummat 


Menjauhkan ummat dari politik adalah bentuk pembodohan. Masalah pada ummat akan terselesaikan ketika ummat paham politik. Paham tanggungjawab negara dalam mengurusi urusan rakyatnya. Ketika ummat diam, maka negara menjadi lalai. Bahkan abai terhadap kepentingan rakyatnya. 


Sekukerisasi di masjid sudah merambah. Menjadikan masjid sebagai tempat suci yang hanya mengatur hubungan dengan Pencipta adalah keliru. Masjid hanya dimanfaatkan untuk aktifiktas ibadah semata. Menghindari masjid dari berbicara politik, bentuk keberhasilan sekulerisme. Paham yang ingin memisahkan agama dari kehidupan. Menghilangkan peran agama dalam kehidupan. Sementara probem ummat disolusikan dengan selain islam. 


Dalam islam agama dan politik ibarat saudara kembar. Imam Al ghozali berkata : " Agama adalah pondasi. Dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan runtuh. Dan segala sesuatu  yang tanpa penjaga niscaya akan hilang. 


Sayangnya apa yang dipesankan oleh imam Al Ghozali saat ini tidak dilaksanakan. Problem umat semakin bertambah. Gambaran solusi jauh dari benak ummat. Umat semakin terpuruk pada kehancuran. 


Sekulerisme inti masalahnya. Termasuk larangan membicarakan masalah politik di dalam masjid adalah dampak dari sekulerisasi masjid dalam kehidupan. Umat harus paham dan waspada. 


Mengembalikan fungsi masjid sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rosululloh saw menjadi hal penting. Masjid menjadi pusat ibadah sekaligus pusat menyelesaikan masalah ummat. Bahkan di masa Rosul pun masjid menjadi tempat untuk menerima delegasi-delegasi negara lain. Masjid menjadi pusat pemerintahan. Dan masjid juga menjadi pusat kegiatan politik kenegaraan. Inilah fungsi masjid yang harus dikembalikan umat islam.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!