Wednesday, May 30, 2018

Rasisme Berkedok Toleransi


Oleh: Vier A. Leventa


“Sribaginda, itu bukan pemberontakan, itu REVOLUSI” 

–Hertog de la Rochefoucauld Liancourt-


Di Indonesia saat ini, berkembang pendapat kuat bahwa negara merupakan sebuah lembaga yang netral, tidak berpihak, berdiri di atas semua golongan, dan mengabdi pada kepentingan umum. Karena itulah slogan-slogan semacam, “Demi kepentingan umum”, “Negara tidak mungkin ingin mencelakakan warganya”, “Menjaga persatuan bangsa”, dan ribuan slogan lainnya yang serupa selalu dikumandangkan oleh para petinggi negara. 


Demi kepentingan umum, rakyat harus mau pindah dari pemukimannya meskipun kesengsaraan hidup di depan mata. Kita harus percaya bahwa penguasa tak mungkin mencelakakan rakyatnya, maka segala kebijakan yang mencekik leher kita hari ini praktis menjadi legal. Menjual aset-aset negara kepada asing merupakan langkah taktis yang mesti diaminkan dengan mata tertutup. Media massa harus menjaga lidah panasnya dari mengkritik pemerintah, demi menjaga ketertiban umum. Sedang media penjilat penguasa bebas berbicara apapun dan mendiskreditkan kelompok yang berusaha mengkritisi status quo yang kian beringas. Dengan alasan menjaga persatuan bangsa, penguasa bebas membubarkan kelompok yang mencoba membongkar borok mereka.


Kepentingan anggota masyarakat dianggap “kepentingan kelompok” yang bersifat sektarian, sedangkan kepentingan negara adalah “kepentingan umum”. Demi kepentingan umum ini negara bisa membuat sebuah pembenaran terhadap penggunaan kekuasaan untuk memaksa seorang atau kelompok agar bersedia mematuhi negara. Negara bahkan berhak mencabut dan mengabaikan hak warganya jika melanggar hukum yang bagi negara mewakili kepentingan umum.


 Arif Budiman di dalam sebuah bukunya yang berjudul “Teori Negara”, memberikan setidaknya beberapa kesimpulan mengenai persoalan ini.


Pertama, negara merupakan lembaga yang memiliki kekuasaan yang sangat besar di dalam sebuah masyarakat.


Kedua, kekuasaan yang sangat besar ini diperoleh karena negara merupakan pelembagaan kepentingan umum.


Kemudian, semakin dekat pada hari ini, kita akan merasakan definisi Weber telah menemukan realitasnya, bahwa negara merupakan, “Lembaga yang berhasil memiliki monopoli hukum untuk menggunakan kekerasan fisik di atas suatu daerah tertentu.” (Gerth & Mills, 1962: 78). Oleh karena itu, jika negara kehilangan keabsahannya, maka ia akan sama saja dengan penjahat.


Sekarang pandangan inilah yang dominan di Indonesia. Kalaupun negara tidak berpihak pada kepentingan umum, maka ini dianggap abnormal, padahal di beberapa negara justru mungkin negara yang menyeleweng inilah kasus normal, termasuk Indonesia. Di mana-mana negara biasanya melayani kepentingan satu atau beberapa kelompok yang dominan. Contoh kecil saja saat ini, ketika kita saksikan hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Saat kekayaan alam dimonopoli oleh sebagian kecil pemodal lewat berbagai macam rekayasa kebijakan, apakah ini merupakan kepentingan umum mayoritas masyarakat kita? Mari kita jawab bersama-sama! Apakah pendidikan mahal itu kehendak mayoritas rakyat ini? Apakah hutang sampai ribuan triliun itu kehendak kita bersama? Realitasnya, bahwa rezim hanya memihak pemodal, menjadi antek-antek asing dan aseng untuk memperkosa hak milik rakyat Indonesia. Sungguh benar tengah kita saksikan, bahwa Negara yang netral merupakan sebuah konsep teoritis yang utopis.


 Pada kenyataan hari ini, siapa yang sanggup menafikan bahwa rezim berkuasa telah memonopoli kebenaran hanya di pihak mereka? Dengan berbagai macam cara telah dilakukan serangkaian operasi senyap di bawah langit yang sunyi, hanya untuk memberangus kelompok-kelompok yang tak sepaham. Tafsir atas kehendak umum hanya berlaku bagi pihak pemerintah. Apa yang diklaim sebagai ideologi terbuka kita semakin nyata tertutup dari nasehat dan masukan. Toleransi yang diteriakkan terhalang dinding tebal keangkuhan kelompok berkuasa. 


Jika berpikir ekstrem, rezim hari ini hampir sulit dibedakan dari satu kelompok rasis yang pernah eksis di awal abad ke-20, yakni Ku Kluk Klan (KKK) atau dikenal sebagai “The Klan”. Kelompok ini merupakan sebuah kelompok rasis ekstrem di Amerika Serikat, berdiri pada tanggal 24 Desember 1865. Mereka berkeyakinan bahwa ras kulit putih adalah ras terbaik, mereka berjuang untuk memberantas kelompok yang berbeda dengan ras mereka. Apapun yang tak “berwarna” sama akan disingkirkan dari pentas kekuasaan mereka, slogan-slogan semacam “Kematian untuk orang-orang tak beriman”, “Kematian untuk para musuh kita”, jadi seruan pembakar kebangkitan mentalitas nasionalis brutal atas nama supremasi putih. 


 Teror yang kita saksikan pada hari ini kepada kelompok-kelompok pengkritik penguasa, hampir mirip dengan teror yang dilakukan oleh KKK. Dengan slogan-slogan yang nyaris serupa, pilar-pilar negeri ini mutlak berada di bawah kaki mereka. Tanpa diskusi terbuka dengan nalar logis penuh tanggungwajab, rezim telah menutup kemungkinan kebangkitan negeri ini dari penjajahan paradigma yang semakin mengkhawatirkan. Toleransi yang terus diteriakkan hari ini oleh rezim tak lebih dari omong kosong kaum intoleran melebihi rasisnya Ku Klux Klan. Ku Klux Klan terang-terangan berdiri pada ideologi rasis mereka. Sedang Rezim hari ini menyembunyikan “rasisme mereka” pada toleransi yang tak bisa diperdebatkan. 


Padahal pada satu kesempatan, salah satu tokoh negeri ini, M. Natsir pernah mengatakan,


“Toleransi tanpa konfrontasi sesungguhnya bukanlah toleransi yang kita maksud, itu hanya berarti; mengelakkan persoalan. Sehingga mungkin kita akhirnya, hanya mendapat toleransi dan bukan konstisusi.


Yang kita perlukan ialah konfrontasi dalam suasana toleransi sehingga perbenturan-perbenturan antara ide-ide dan pemikiran. Du choc des opinions jaillit la verite.”


 Maka, jika rezim hari ini hendak mempertahankan statusnya sebagai pihak yang netral, bukalah diskusi selebar-lebarnya. Realisasikan segala slogan yang selama ini kehilangan realitasnya. Jika tidak, jangan salahkan kami jika menuduh kalian, “Kaum Rasis berkedok Pancasila”.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!