Monday, May 28, 2018

Ramadhan Mengkristalkan Kesabaran


Oleh : Ruruh Anjar


Ramadhan menyimpan berjuta pelajaran yang begitu mempesona bagi kaum yang memikirkannya. Salah satunya adalah melatih kesabaran. Di bulan ini, kaum muslimin dilatih untuk bersabar dalam menerima ketetapan Allah,  bersabar dalam melaksanakan perintah Allah, dan bersabar untuk menjauhi laranganNya.  Bisa jadi tanpa disadari sebenarnya kita telah bersabar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, bersabar menjaga agar amal-amal ibadah dapat diterima oleh Allah, bersabar menderita haus dan lapar semata-mata karena mengikuti perintah Allah, dan sebagainya.


Kesabaran adalah salah satu karakteristik mendasar orang bertakwa, bahkan sebagian ulama menyebutnya setengah keimanan. Hanya saja masih ada yang menganggap bahwa sabar adalah bersikap pasrah menerima keadaan, padahal tidak seperti itu. Para ulama menyebutkan bahwa sabar adalah mendorong jiwa untuk ridha menerima ketentuan Allah (berupa hukum, qadha, atau kejadian di luar kuasa manusia), mendorong untuk terikat dengan Islam, dan meleburkan diri di dalam Islam. Bahkan kemudian mendorong manusia untuk tidak berdiam diri jika ada yang tidak sesuai dengan syariat Islam.


Di bulan Ramadhan ini kaum muslimin dilatih bersabar agar terbiasa dan siap menerima perintah dan menderita lebih besar lagi di jalan Allah. Hal ini seperti yang disampaikan Syaikh Muhammad Ali ash-Shobuni ketika menjelaskan hukum disyariatkannya ibadah puasa di bulan Ramadhan bahwa dengan berpuasa di bulan Ramadhan kaum muslimin dibiasakan menderita, merasakan kesulitan agar mereka siap menerima penderitaan yang lebih besar lagi yaitu penderitaan saat jihad fi sabilillah.


Di dalam Alquran juga perintah berjihad tercantum setelah perintah berpuasa Ramadhan                 (Al Baqarah :190). Terbukti banyak sekali perjuangan-perjuangan yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat saat bulan Ramadhan, seperti perang Badar, perang Tabuk, penaklukan Kota Mekah, perang Ain Jalut, dan sebagainya.


Oleh sebab itu sabar yang diinginkan oleh Allah dan RasulNya bukan sekedar kesabaran dalam melaksanakan ibadah ritual dan menahan lapar dahaga saja, melainkan lebih dari itu merupakan kesabaran dalam berjuang dan berjihad di jalan Allah.  Sabar merupakan kunci kemenangan sebuah pertarungan antara yang haq dan yang bathil.  Jika tidak ada kesabaran pada diri Rasul dan para sahabat dalam berdakwah di jalan Allah, maka tidak akan ada peristiwa hijrah dan jihad. Tidak akan terjadi penyebaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan kegemilangan peradaban Islam. 


Hal ini dapat disimak dari salah satu nasihat Rasulullah kepada Ibnu Abbas :

   “ Ketahuilah nak…, sesungguhnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran”

Juga di dalam firman Allah :


Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah, lipatgandakanlah kesabaran kalian, berjaga-jagalah di benteng-benteng perbatasan (dari serangan musuh) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kalian beruntung (mendapatkan kemenangan)” (QS Ali-Imran: 200)


Dengan demikian,  kesabaran yang sedang kita jalani saat ini sejatinya adalah kesabaran yang membawa perubahan. Kesabaran yang akan mengkristal dan membekas terus dalam hati dan perilaku keseharian kita dalam memegang tali agama Allah menuju tegaknya izzul Islam wal muslimin. 

Wallahu a’lam bishshowwab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!