Tuesday, May 29, 2018

PUASA DAN KHALIFAH MERUPAKAN PERISAI


Oleh: Minah, S.Pd.I

(Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)


Tidak terasa bulan ramadhan telah memasuki akhir minggu kedua. Hampir separuh puasa Ramadhan telah kita lalui. Dengan demikian, Ramadhan tinggal separuh lagi. Orang yang memahami indahnya bulan Ramadhan tentu akan merasa sangat bersedih, betapa hari-hari puasa seakan cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin kita memulai, tak terasa, sekarang sudah berjalan separuh. Tentu sebentar lagi pula, Ramadhan dengan segenap keindahan, keberkahan, dan kemuliaannya akan meninggalkan kita. 


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah 183)


Menjalankan puasa dibulan ramadhan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat Muslim. Kita tidak menginginkan ramadhan yang dilalui berakhir dengan  sia-sia, hanya mendapatkan  haus dan lapar, akan tetapi, kita berharap dengan puasa yang dilalui mendapatkan ridho Allah dan menjadi orang-orang yang semakin bertaqwa kepada Allah. 


Puasa itu adalah tameng atau perisai yang melindungi seorang Muslim dari melakukan setiap kemaksiatan dan dosa. Sebab puasa itu senantiasa mengawasi dirinya, dan tetap menjaga hubungan dirinya dengan Allah. Dimana seorang yang sedang berpuasa takut akan hilangnya pahala puasanya atau puasanya menjadi sia-sia, ketika ia melanggar perintah-perintah-Nya. Sehingga ia akan senantiasa dalam pengawasan terhadap diri dengan melakukan ketaatan kepada Allah swt. Dengan begitu, jika ramadhan berakhir, hasil akhir dari puasanya akan mendapat gelar muttaqin yaitu orang-orang yang bertaqwa.


“Puasa itu junnah (tameng atau perisai). Oleh karena itu hendaklah orang yang berpuasa itu tidak berkata kotor, dan tidak mengerjakan pekerjaan orang-orang bodoh. Jika seseorang melaknatnya atau mencaci makinya, maka katakan ‘saya sedang puasa’ sebanyak dua kali (di hati dan di mulut). Sungguh, demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman tangan (kekuasaan)-Nya bahwa menyengatnya bau mulut orang yang berpuasa itu adalah lebih harum di sisi Allah SWT daripada bau minyak misik. Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan keinginan syahwatnya karena ketaatannya kepada-Ku. Puasa itu untuk-Ku, sehingga Aku yang akan membalasnya. Dimana satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikkan yang sama.” (HR. Bukhari).


Sabda Nabi, “ Puasa (ramadhan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad dan Baihaqi).


Namun, ketika tidak adanya khilafah bagi kaum Muslim yang didalamnya ada khalifah (imam/pemimpin), maka perisai itu mulai rapuh dan lemah karena digerogotin berbagai kemungkaran. Pergaulan yang kebablasan yang berakhir dengan berzina, rakyat sengsara, tidak diperhatikan kesejehteraannya, yang diuntungkan hanya pihak-pihak asing dan penguasa saja. Hukum-hukum Allah banyak dicampakkan. Lebih memilih aturan manusia daripada aturan dari Allah. Jika demikian, bagaimana kita akan berdiri dihadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita saat didunia?


Sebagai  gambaran kecil tentang pelindung bagi seorang Muslim ini, ketika ia konsisten dengan hukum-hukum seputar puasa, Gambaran-gambaran pelindung yang lebih besar dan agung, yaitu gambaran seorang imam (khalifah). Rasulullah Saw bersabda:

 “Seorang imam (khalifah) adalah tameng atau perisai, dimana di belakangnya umat berperang, dan kepadanya umat berlindung.” (HR. Muslim).


Dengan adanya imam (khalifah) sebagai perisai, berarti adanya puasa sebagai perisai, dan berarti pula adanya semua hukum yang diterapkan secara nyata di muka bumi. Untuk itu, Sampai kapan kita tetap hidup tanpa imam (khalifah), dan tanpa tameng atau perisai? Dan sampai kapan puasa kita tetap dicemari oleh berbagai kemungkaran dan pelanggaran terhadap syariah?


Yuk saatnya bagi kita untuk mengembalikan kemuliaan Islam, dan cahaya hukum (syariah) Islam dalam kehidupan kita. Saatnya kita untuk berjuang, terus mendakwahkan Islam keseluruh dunia. Serta menjalankan semua aturan dari Allah. Tunduk dan taat kepada Allah swt. Semoga ramadhan tahun ini adalah ramadhan terakhir tanpa khilafah. Aamiin.


———————————————————


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!