Tuesday, May 22, 2018

Princess Mimosa Pudica Syndrome


Oleh : Mia Yunita


 Aih...Siapakah dia Princess Mimosa Pudica?  Apakah dia cewek yang pemalu?  Bila disentuh sedikit saja, ia pun  spontan menyembunyikan dirinya. Wah... jadi  ngebayangin nih gimana rupa si Princess Mimosa Pudica. Baidewei Gaes, Mimosa Pudica sendiri adalah nama latin dari tumbuhan liar yang bila ia disentuh maka spontan daun-daunnya pun menutup diri untuk beberapa saat.


Nah, maksud dari Princess Mimosa Pudica syndrome ini sebenarnya berdasarkan analisisku pribadi mengenai cewek yang shy shy cat alias malu-malu kucing dalam lingkungan pergaulannya.  Sukanya menyendiri,bersembunyi dalam dunianya dan nggak mau berbaur.  Berinteraksi pun pilih-pilih, nunggu ada yang sreg di hati.  Wow.. berasa kesepian nggak tuh?  Yup, cewek yang kaya gini dikenal sebagai individu yang introvert (pemalu,  pendiam & tertutup) dan akhirnya terbiasa dengan ‘lonely in crowded’ (sendiri dalam keramaian).


Aku pribadi cenderung prihatin dengan eksistensi Princess Mimosa Pudica.  Why?  Dalam situs psikologid.com , cewek Princess Mimosa Pudica didiagnosis memiliki gangguan kepribadian (kalo menurutku sih, gangguan perilaku).  Nah, berdasarkan pengamatan yang berulang-ulang pada tingkah laku para manusia, akhirnya para psikolog pun menyimpulkan bahwa orang-orang yang memiliki hubungan sosial yang tidak begitu baik (termasuk Princess Mimosa Pudica) biasanya :

1. Paranoid: gangguan kepribadian yang didasari dengan rasa ketidakpercayaan yang berlebihan terhadap apa pun.

2. Schizoid: gangguan kepribadian yang didasari dengan kurangnya minat sosial, menarik diri dari lingkungan, penyendiri, dan tidak memiliki ekspresi emosional (datar). Beberapa dari mereka memiliki hewan peliharaan dan mencurahkan perhatian serta waktunya untuk hewan peliharaannya.

3. Skizotipal: kepribadian yang didasari dengan rasa tidak nyaman dalam hubungan dengan orang lain, penyimpangan pola pikir, memiliki persepsi dan perilaku yang aneh.

4. Avoidant: gangguan kepribadian yang didasari dengan sifat pemalu, menghindari hubungan sosial karena takut akan penolakan dan kritik. Mereka tidak akan memasuki hubungan tanpa ada jaminan penerimaan. Mereka menghindari percakapan dengan orang lain, dan menyendiri.



Princess Mimosa Pudica Tergantung Sikon


Nah Gaes, pernah liat seseorang yang bersikap beda 180 derajat di suatu tempat & kondisi yang berbeda? Di sekolah dia pendiam & menarik diri dari pergaulan, eh di luar sekolah ternyata sosoknya berbeda jauh nggak seperti di sekolah.  Ceria, ceplas-ceplos. Pokoknya, wah beda jauh dengan sikap yang biasa dia perlihatkan di sekolah.


Well, kalo seseorang sampai memiliki perilaku berbeda di antara satu tempat dengan tempat lainnya ya tentunya ada faktor-faktor baik internal maupun eksternal yang membuat seseorang menjadi begitu.


Faktor internal biasanya dipicu oleh rasa kurangnya percaya diri, bisa jadi akibat adanya kekurangan pada fisik, kondisi keluarga yang kurang harmonis, juga hidup pada taraf ekonomi yang rendah sehingga berimbas pada penampilan yang biasa-biasa saja tidak se-up to date teman-teman lainnya.  Kemudian akhirnya timbul rasa tidak percaya pada lingkungan & orang-orang di sekitarnya.  Di lingkungan yang ia rasa cenderung ‘menolak’ kehadirannya atau ia merasa uncomfort alias tidak nyaman, di situ ia pun akhirnya menutup diri.  Begitu ia masuk pada lingkungan yang menerima dirinya dengan apa adanya, ia pun kembali ceria.


Sedangkan faktor eksternal, sebenarnya agak berkaitan dengan faktor internal yang udah saya jelaskan sebelumnya.  Tapi ada juga yang memang hanya dipicu semata-mata dari faktor eksternal alias lingkungan, karena dari faktor internal pada dirinya ternyata ia tidak memiliki kekurangan sedikit pun.  Contoh: misalnya karena pindah sekolah atau pindah rumah yang otomatis membuat seseorang harus berusaha beradaptasi dengan lingkungannya yang baru.  Hal-hal yang ia senangi di lingkungannya yang dulu dan kemudian ia bandingkan dengan lingkungan yang baru ternyata begitu bertolak belakang.  Sangat membuatnya uncomfort. Tentu hal ini membuat kecewa pada diri seseorang.  Tak ada teman yang ia rasa bisa mengerti dirinya sebagaimana di tempat yang dulu.  Tak ada guru-guru yang mampu mendidiknya sebaik yang ia rasakan sewaktu di sekolah yang dulu. Dan seterusnya.


Kalo dualisme sikap begini dipelihara, bisa-bisa pusing sendiri deh. Bahayanya bila kemudian berlanjut pada split personality.  Menurutku, kita harus punya sikap berani untuk mengubah diri kita agar bisa bersikap seperti sedia kala. Ya tentunya agar kita sebagai manusia yang notabene adalah makhluk sosial dapat berinteraksi secara wajar dengan sesama manusia dalam kehidupan yaitu  menjalin silah ukhuwah & ta’awun (kerja sama) yang sinergis. 


Salahkah Menjadi Pemalu, Pendiam & Penyendiri?


Sebenarnya, menjadi pemalu sih sah-sah saja.  Bahkan Rasulullah menjadikan malu sebagai akhlak yang baik pada diri muslimah. Malu yang seperti apakah itu? Misalnya malu pamer aurat, pacaran dan berbuat maksiat lainnya.  Sayang pake banget kalo untuk nunjukkin potensi diri masih malu. Nanya jalan pun malu.  Ya, gimana nggak tersesat di jalan coba? Udah jelas kan tuh kata pepatah : Malu bertanya sesat di jalan, hehehe.

Rasulullah bersabda mengenai malu:

 “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.” Shahîh: HR.al-Bukhâri dalam al-Adâbul Mufrad (no. 598), Muslim (no. 35), Abû Dâwud (no. 4676), an-Nasâ-i (VIII/110) dan Ibnu Mâjah (no. 57), dari Shahabat Abû Hurairah. Lihat Shahîhul Jâmi’ ash-Shaghîr (no. 2800).

Maka sudah semestinya kita malu untuk bermaksiat, bukan malu dalam hal-hal yang diperintahkan oleh Allah Swt.  Apalagi dalam menjalin ukhuwah.


Menjadi cewek pendiam juga fine-fine aja, karena berakhlak yang baik ya memang sudah semestinya nggak ngomongin hal-hal yang nggak penting.  Apalagi sampai ngomongin orang, seperti mengghibah, memfitnah.  Euuww... na’udzubillah min dzalik!  Tapi eh tapi sayang banget kalo pendiamnya dipelihara sampai-sampai untuk menyampaikan kebenaran pun ia enggan.  

Hadis Rasulullah mengenai orang yang pendiam:


"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam." 

(HR. Bukhari).


Menyendiri pada saat-saat tertentu juga perlu.  Apalagi kalo buang hajat ke toilet, masa ditemenin?  Hehehe.  Apalagi kalo sedang belajar atau melakukan hal-hal yang memerlukan konsentrasi tingkat tinggi tentu kita nggak mau terganggu & diganggu.  Bahkan saat qiyamul lail pun kita pengennya sendirian kan?  Agar bisa fokus beribadah, bermunajat & introspeksi diri mengevaluasi amal perbuatan kita untuk menjadi individu yang lebih baik dari sebelumnya. 

Rasulullah bersabda mengenai orang yang menutup diri:


“Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HR. At Tirmidzi 2507, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 388, Ahmad 5/365, syaikh Musthafa Al ‘Adawi mengatakan hadits ini shahih dalam Mafatihul Fiqh 44).



Let’s Move On


Manusia pada dasarnya memiliki naluri mempertahankan diri (gharizah baqo’).  Princess Mimosa Pudica sendiri menurutku adalah eksistensi dari gharizah baqo ini. Saran aku nih, penuhilah gharizah baqo kita dengan sikap mempertahankan diri yang memang sesuai dengan hukum syara’.  Kalaupun bersikap malu, pendiam dan menyendiri tentunya harus sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Berhentilah mengisolasi diri dari kehidupan nyata yang kita jalani.  

So, sudah saatnya untuk membuka diri dalam pergaulan.  Good bye Princess Mimosa Pudica syndrome.  Let’s be the real you yang taat di jalan Allah SWT.

(*Blogger . Tinggal di Banjarmasin.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!