Sunday, May 27, 2018

Pedas tapi tidak pedis (sebuah cerpen)




Oleh: fitry assyidhidah

Episode 2

" Dek, yang kamu lakukan sekarang sedang menulis, bukan sedang orasi. Bahasa tulisan tidak seperti ini. Kemudian kamu sekarang lagi nulis opini, bukan menyampaikan berita layaknya wartawan. Ini tulisanmu kebanyakan fakta daripada analisisnya. Tidak berkesinambungan antara paragraf satu dan paragraf lainnya".


Plaakkk. Pesan itu seolah menghujami batin Ayu yang sedari tadi telah rapuh. Matanya mulai berkaca-kaca dan kemudian memenuhi kedua bola matanya. Pertanda air bening itu akan segera mengalir ke pipinya yang tirus karena efek begadang itu.

 

Hal yang sama terjadi juga pada Rina. Gadis yang sedari tadi mencoba tegar itu akhirnya tumbang juga. Pesan yang masuk ke handphonenya tak kalah pedisnya.


"Dek, dirimu itu sedang nulis opini, bukan novel. Tak perlu sepuitis itu. Biasa saja. Terus solusi yang kamu kasih itu ngambang dan tak padat, seperti orang yang tidak pernah belajar islam saja. Ini pembaca bisa pusing kalau baca tulisanmu ini"


Kata-kata singkat namun membuat jiwa berkecamuk itu perlahan membuat bulir-bulir bening seolah berlomba untuk keluar dari mata dua gadis yang beberapa malam terakhir itu dipaksa begadang itu.


 Ada perih yang tak terdefinisikan disana. Entah karena terlalu terbawa perasaan atau memang kata-kata itu akan menyakiti siapa saja yang mendapatkannya. Naluri baqo yang merupakan naluri mempertahankan diri seolah bergeliat dan meronta-ronta di kalbu dua gadis ini. Sudah merasa optimal mempersembahkan yang terbaik, namun ternyata masih terkesan minimal dimata sang mentor.


“Apa salahnya usaha kita di hargai Yu. Bukannya kita sedang berproses. Kak Humairoh itu jahat, tak berperasaan”. Ungkap Rina sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


“Iya. Tega sekali beliau berkata seperti itu.” Jawab Ayu sambil menunduk.


Saat itu, mereka akhirnya bersepakat untuk mundur. Tak sanggup dan tak mampu menjadi hal yang membulatkan tekad mereka untuk memundurkan diri dari amanah yang berat itu.

Apalagi memang keduanya yang belum pandai menyusun paragrafnya dengan apit. Sehingga masih terkesan membosankan dan tak bernyawa.


"Udahlah Yu. Aku nyerah saja. Tak sanggup. Itu kakak juga tak punya hati bisa memberikan saran yang menghujam kalbu seperti itu. Kata-katanya itu loh, sakit sekali aku rasa." Ungkap Rina sambil menyeka air matanya.


" Iya Rin, aku juga berpikiran seperti itu. Kita mundur saja. Kayaknya basicnya kita memang bukan disini. Kita gak akan bisa nulis. " balas Ayu dengan mata masih berlinang air mata.


Mereka berdua akhirnya  saat itu sepakat untuk memundurkan diri. Mereka berencana untuk mengungkapkan uneg-unegnya tersebut jika rapat team digelar.


*Bersambung*


Akankah Ayu dan Rina benar-benar akan memundurkan diri? Nantikan episode selanjutnya.. 😀😀


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!