Wednesday, May 30, 2018

NASEHAT ‘ATHA’ BIN ABI RABAH PADA PENGUASA


Oleh : Irianti Aminatun (member AMK dan Penulis Bela Islam)


Saat ini sering kita dapati ulama datang ke istana. Bukan untuk menasehati penguasa, tapi datang untuk memuji-mujinya seolah-olah apa yang dilakukan penguasa itu sudah selaras dengan Islam. Pujian itu dimaksudkan agar ia memperoleh bagian “kue” kekuasaan. Maka tak heran jika kita dapati penguasa yang semakin jauh dari tuntunan syariat. Padahal mereka adalah muslim, yang kelak akan dimintakan pertanggungjawabkan atas amanah kekuasaan yang ada dipundaknya, apakah sejalan dengan perintah Islam atau tidak.


Daulah islam, dalam sejarahnya yang panjang, telah bersentuhan dengan peran ulama yang mulia dan menyatu dengan para penguasa. Peran mereka yang dihiasi dengan kejujuran, keberanian dan keikhlasan terhadap Allah dan agama, telah menjadi bintang dan cahaya yang memberikan petunjuk kepada para penguasa dan rakyat dalam kegelapan hidup.


Para ulama pada masa itu, telah menampakkan keagungan Islam dan menerangkan di dalamnya hakikat syariat islam yang murni dan bersih untuk meluruskan para penguasa yang membelot walaupun sejengkal dan untuk mengobati seluruh penyakit pemerintah yang dipimpin penguasa yang dianut rakyatnya. Ulama menaklukkan dunia dengan keteguhan iman, dengan ketabahan, kesabaran dan keberanian, sehingga berani mengatakan kebenaran di depan penguasa lalim.


Salah satu diantara ulama itu adalah ‘Atha’ bin Abi Rabah, seorang ulama tabi’in, pewaris ‘Abdullah bin ‘Abbas. 


Dunia dengan gemerlapnya telah merayu dan berusaha menggoyahkan ‘Atha’ bin Abi Rabah. Namun ia menghindar dan sangat kuat menolaknya. Sungguh para Khalifah telah meminta dirinya untuk menemani mereka. Namun ia tidak bersedia. Ia khawatir agamanya akan rusak gara-gara dunia. Namun terkadang ia mengunjungi Khalifah apabila hal tersebut bermanfaat bagi kaum Muslimin dan membuahkan kebaikan bagi Islam.


Suatu saat ‘Atha’ bin Abi Rabah mengunjungi istana. Ketika tahu bahwa ‘Atha’ berada di depan pintu, Khalifah Hisyam bin Abdil Malik mempersilahkannya masuk. Hisyam berkata, “marhaban .....marhaban....Selamat datang. Silakan masuk! Marilah kesini!” demikian ia ucapkan terus menerus.


Hisyam lalu menghadap ‘Atha’ dan mengajaknya berdialog.


“Apa keperluan Anda, wahai Abu Muhammad?” tanya Hisyam.


“Wahai Amirul Mukminin, Penduduk Haramain, keluarga Allah dan tetangga Rasulullah seharusnya mendapat pembagian rezeki dan pemberian,” kata ‘Atha’


“Ya benar”


“Wahal Sekretaris, tulislah untuk penduduk Mekah dan penduduk Madinah rezeki dan pemberian bagi mereka selama setahun! Ada yang lain wahai Abu Muhammad?” kata sang Khalifah


“Ya, Wahai Amirul Mukminin. Orang-orang Hijaz dan Nejed, asal muasal orang Arab dan para pemimpin Islam, kelebihan sedekah mereka jangan diambil!” Jawab ‘Atha’.


“Baiklah. Catat, tolaklah kelebihan sedekah mereka!” kata Khalifah.


“Ada yang lain?”


“Ya, Wahai Amirul Mukminin. Ahluts tsughur, (para pejuang dan penjaga perbatasan), mereka berdiri di hadapan musuh kalian. Mereka membunuh siapa saja yang menimpakan keburukan kepada kaum muslimin. Mereka seharusnya diberi dan dikirim rezeki. Sebab jika mereka terbunuh, perbatasan akan lenyap”.


“Anda benar. Tulis, kirimkan jatah dan rezeki bagi mereka!”


“Masih ada yang lain?’ lagi-lagi sang khalifah bertanya.


“Masih Wahai Amirul Mukminin. Ahlu dzimmah (warga negara khilafah yang non-muslim) jangan dibebani dengan hal yang diluar kemampuan mereka. Sebab, ketundukan mereka kepada kalian akan membantu dalam menghadapi musuh”.


“Tulis! Ahlu dzimah  tidak boleh dibebani dengan hal yang diluar kemampuan mereka.”


“Masih tersisa?”


“Ya, bertakwalah kepada Allah atas diri Anda, Wahai Amirul Mukminin! Ketahuilah, Anda diciptakan seorang diri. Andapun akan mati seorang diri, lalu dikumpulkan seorang diri juga. Bahkan, Anda akan dihisab dan dihitung seorang diri. Demi Allah, tidak akan ada seorangpun yang menyertai Anda. Tidak ada seorang pun yang akan Anda lihat.”


Hisyam pun tersungkur ke tanah, dengan isak tangis.


Ketika ‘Atha’ keluar dari pintu, tiba-tiba datang seseorang yang mengikutinya. Orang itu membawa bejana yang tidak diketahui isinya.


“Sesungguhnya Amirul Mukminin mengirimkan ini untuk Anda,” kata orang tadi.


“Tidak, aku tidak mau,” kata ‘Atha’. Lalu ia membaca firman Allah SWT yang artinya : “Dan aku sekali-kali tidak meminta imbalan atas ajakan-ajakan itu. Sungguh imbalanku hanyalah di sisi Rabb semesta alam.” (TQS asy-Syu’ara ayat 109).


‘Atha’ masuk menemui sang Khalifah, kemudian keluar beranjak darinya tanpa seteguk airpun ia minum.


Dari kisah diatas,sungguh terdapat pelajaran yang sangat berharga yang bisa dijadikan cermin bagi ulama dan para penguasa. Pertama Ada tanggung jawab besar yang dipikul ulama untuk membersamai penguasa dalam mengatur seluruh urusan rakyat agar ketika penguasa lalai ulama mengingatkan. Ranah muhasabah ulama bukan sebatas masalah ibadah mahdhoh tapi mencakup seluruh urusan kenegaraan baik menyangkut kesejahteraan rakyat, hak-hak rakyat yang harus dipenuhi,  keamanan negara,   perlakuan terhadap non Muslim, dan yang lainnya yang kesemuanya menjadi tanggungjawab penguasa yang kelak akan dimintakan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Kedua Penguasa yang memuliakan ulama  karena capabiltas keulamaannya, serta siap menerima koreksi dari ulama demi kebaikan negara yang dipimpinnya. Ketiga Ulama yang tidak tergiur imbalan dunia, hingga kepalanya bisa tegak dengan suara lantang melakukan koreksi kepada penguasa tanpa terbebani “balas budi” karena imbalan yang pernah diterima.

Wallahu a’lam bi showab.


Sumber : Dr. Abdurrrahman Ra’fat Basya Kisah-kisah menakjubkan dari perjalan hidup generasi terbaik kedua uamt islam, At-Tuqa Yogyakarta.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!