Friday, May 25, 2018

Menghormati Dan Memuliakan Ulama



Oleh : Chie


Rasulullah saw. bersabda:


إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ


“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Haditsnya shahih.”)


Asy-Syaikh Shalih Fauzan mengatakan: “Kita wajib memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para nabi, maka meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasulullah saw. serta meremehkan ilmu yang mereka bawa. Barangsiapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin. Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena kedudukan mereka ditengah-tengah umat dan tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan muslimin."


Kita dianjurkan untuk menghormati dan memuliakan ulama karena ulama adalah pewaris para nabi dalam hal ilmu. Ulama yang memelihara kemurnian syariat Islam. Ulama menjadi pembeda yang haq dan yang batil. Rasulullah saw. mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, 


إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا


“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)


Bahkan salah satu tanda-tanda hari kiamat adalah diwafatkannya ulama-ulama yang hanif. Sehingga ilmu tampak sebagai kebodohan dan kebodohan tampak sebagai ilmu. Yang haq menjadi batil dan batil menjadi haq dimata manusia. 

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: Asy-Sya’bi berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.”


Di dalam Shahih Al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah), “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 60)


Apa yang menimpa para ulama saat ini sudah dikabarkan oleh Rasulullah saw. berabad-abad silam. Hal ini terjadi karena umat Islam tidak memahami tsaqafah Islam. Tsaqafah Islam sudah dihapus dari benak kaum muslimin. Bahkan ada umat Islam yang phobia terhadap agamanya sendiri. Wajar memang, karena umat Islam sudah teracuni oleh tsaqafah barat dan umat Islam terpukau dengan peradaban barat. Jauh berbeda dengan umat Islam terdahulu yamg belum teracuni oleh tsaqafah asing. Mereka sangat memuliakan ulama. Bahkan Khalifah Harun Ar Rasyid rela mendatangi ulama untuk menuntut ilmu. 


Sebagaimana tercatat dalam Al Adab As Syari’iyah oleh As Safarini, suatu saat Imam Malik diminta oleh Khalifah Harun Ar Rasyid untuk berkunjung ke istana dan mengajar hadits kepadanya. Tidak hanya menolak datang, ulama yang bergelar Imam Dar Al Hijrah itu malah meminta agar khalifah yang datang sendiri ke rumah beliau untuk belajar, ”Wahai Amirul Mukminin, ilmu itu didatangi, tidak mendatangi". Akhirnya Harun Ar Rasyid, Amirul Mukminin, mendatangi rumah Imam Malik untuk belajar.


Ada pula kisah tentang dua putra Khalifah Al Makmun yang berebut sandal sang guru. Suatu saat, setelah menyampaikan ilmu, Al Farra’ bangkit dari tempatnya untuk meninggalkan istana. Kedua putra Al Makmun berebut untuk menyiapkan sandal Al Farra’. Perebutan sandal itu pun menyebabkan keduanya berkelahi sampai akhirnya keduanya berdamai dan bersepakat bahwa masing-masing membawa satu sandal untuk diserahkan kepada Al Farra’.


Kabar mengenai perkelahian itu akhirnya sampai ke telinga Khalifah Al Makmun. Dan orang yang paling disegani di seluruh penjuru Baghdad itupun akhirnya memanggil Al Farra’. Setelah Al Farra’ menghadap Al Makmun pun bertanya, ”Siapa orang di Baghdad ini yang paling terhormat?” Al Farra’ pun menjawab, ”Paduka lah orang yang paling dihormati di negeri ini”. Lantas Al Makmun bertanya kembali, ”Lantas siapa orang yang menyebabkan perkelahian karena berebut membawa sandalnya?” Al Farra’ pun menjawab, "Hamba sebenarnya hendak melarangnya, namun hamba khawatir merusak karakter baik kedua putra paduka yang telah tertanam sebelumnya". Menyimak alasan Al Farra’, Al Makmun pun menyampaikan, ”Aku telah mengajari anakku meskipun mereka dihormati, untuk bertawadhu’ kepada tiga orang, yakni orang tuanya, gurunya serta pemimpinnya. Bahkan aku melatih mereka dalam hal ini sampai menghabiskan 20 ribu dinar. Sebab itu aku memberimu 10 ribu dirham sebagai balasan atas pendidikanmu yang baik kepada anak-anakku."


Subhanallah, begitulah Islam mengajarkan bagaimana menghormati dan memuliakan ulama. Bahkan sekaliber Khalifah, Amirul mukminin, begitu menghormati dan memuliakan ulama. Berbeda dengan saat ini. Ulama yang disabdakan Rasulullah sebagai pewaris para nabi bukannya dihormati dan dimuliakan malah dipersekusi.


----------------------------------------

Follow kami di :

Facebook  : Mutiara Ummat Batam

Instagram : @mutiaraummatbatam

----------------------------------------


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!