Wednesday, May 30, 2018

Mengatasi Pengemis Musiman


Oleh: Deasy Rosnawati, S.T.P 


Harianmomentum.com—Jumlah pengemis selalu meningkat selama Ramadan, termasuk di kota Bandar Lampung.


Kondisi itu terjadi antara lain karena para pengemis memanfaatkan ghirah umat islam yang lebih giat beramal pada bulan suci Ramadan, termasuk beramal kepada fakir miskin.


Pada sisi lain, Kepala Bidang (Kabid) Ketertiban Umum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kota Bandar Lampung, Jan Roma, mengungkapkan dugaan, ada yang mengorganisasi para pengemis untuk mencari uang. [http://m.harianmomentum.com/read/8859/ada-yang-organisir-pengemis-di-bandarlampung]


KOMENTAR


Inilah fakta sosial berulang yang terjadi setiap tahun. Semangat kaum muslimin untuk gemar bershadaqah di bulan ramadan dimanfaatkan sekelompok orang untuk meraih keuntungan materi dengan menjadi pengemis musiman. Bahkan sebuah desa yang kabarnya dihuni para pengemis, yaitu desa yang dikenal dengan sebutan desa Teksas di Teluk Betung Bandar Lampung, yang sehari-hari hanya dihuni sekitar 30 orang pengemis. Akan tetapi jumlah tersebut meningkat hingga 150 orang ketika bulan ramadan tiba.


Dari fakta ini, kita melihat bahwa faktor penyebab meningkatnya jumlah pengemis musiman di setiap bulan ramadan, adalah adanya kekeliruan cara berpikir di tengah-tengah masyarakat, yang menjadikan manfaat sebagai asas. Sesuatu apa pun, sepanjang hal itu bermanfaat, maka mereka memandang baik dan layak untuk dilakukan.


Berpikir dengan cara seperti ini, keliru dalam pandangan Islam. Islam memandang yang baik adalah yang sesuai perintah Allah, dan yang buruk adalah yang bertentangan dengan perintah Allah.  


Meminta-minta bukanlah ajaran Islam. Bahkan seorang miskin sekalipun didefinisikan oleh islam bukan sebagai peminta-minta. Rasul SAW bersabda, “Orang miskin bukanlah orang yang meminta-minta kepada orang lain, lalu memperoleh sesuap atau dua suap, sebutir kurma atau dua butir kurma. Akan tetapi orang miskin ialah orang yang tidak kaya, tidak mengerti tentang keadaannya dan (orang-orang) memberikan shadaqah kepadanya. Dan jika (hal itu terjadi/orang miskin itu meminta-minta) maka ia akan meminta-minta kepada manusia. HR. Mutafaq alaihi.


Seorang yang miskin dalam Islam, tetaplah seorang yang memiliki harga diri. Ia akan menjauhkan diri dari meminta-minta kepada manusia. Meski demikian, sebagai agama yang diturunkan Allah menjadi rahmat, islam memiliki mekanisme unik untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan tempat tinggal bagi si miskin, tanpa perlu mereka meminta-minta. Mekanisme tersebut adalah sosial control. 


Nabi SAW bersabda, “Tidak beriman kepadaku, siapa saja yang tidur (sambil perutnya kenyang) di malam hari, sedangkan tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya.” HR. al-Bazzar melalui jalur Anas.


Juga sabda nabi SAW, “siapa saja penghuni rumah yang di halaman rumahnya terdapat seseorang yang kelaparan, maka jaminan Allah terlepas dari mereka.” HR. Ahmad.


Sungguh luar biasa islam yang menjadikan keimanan sebagai jaminan berjalannya sosial control. Dengan begitu, setiap anggota masyarakat akan tergerak oleh keimanannya untuk menengok tetangganya dan memastikan terpenuhi tidaknya kebutuhannya.


Bila ia mendapati tetangganya kekurangan, sedang ia kaya, maka islam mendorongnya bershadaqah. Nabi SAW bersabda, “sebaik-baik shadaqah adalah yang berasal dari orang kaya.” HR. Bukhari dari Abu Hurairah.


Akan tetapi, bila ia sendiri terkatagori fakir (sekedar cukup dalam memenuhi kebutuhan pokok), dan tak mampu bershadaqah untuk tetangganya, maka wajib baginya melaporkan kondisi tetangganya, kepada penguasa yang bertanggung jawab dalam wilayah tersebut, agar mereka mengeluarkan sejumlah harta zakat dari kas baitul mal.


Selain sosial control, islam juga mewajibkan Negara melalui aparaturnya untuk melakukan fungsi ri’ayah (mengurusi) rakyat. Para aparatur Negara wajib berinteraksi dengan rakyat setiap waktu, menjadi imam dalam shalat berjama’ah di masjid. Lalu selepas waktu shalat, mereka membuka dialog, mendengarkan berbagai keluhan rakyat dan menyelesaikannya. 


Dengan mekanisme ini, para penguasa islam di setiap jenjang kekuasaan akan betul-betul menguasai fakta persoalan masyarakat yang dipimpinnya, termasuk menguasai data kemiskinan di wilayahnya. Hingga mudah bagi mereka menggerakkan para amil (pegawai Negara yang bertugas di pos zakat Baitul mal) dalam mendistribusikan harta zakat ke tengah-tengah masyarakat setiap harinya.


Cukuplah sosok Umar ibnu al-Khattab ra sebagai buktinya. Beliau bahkan menetapkan kebijakan menafkahi seorang laki-laki tua Yahudi dengan harta yang diambil dari baitul mal khilafah, ketika beliau tahu bahwa Yahudi tua tersebut meminta-minta.

 

Sosial control, baitul mal dan ri’ayah inilah yang senantiasa ada sepanjang islam diterapkan, sejak masa Rasul SAW hingga masa khilafah Utsmaniyah, sepanjang 1300 tahun lamanya. Dan keberadaannya sepanjang waktu tersebut menjadi jaminan yang menjaga masyarakat Islam yang miskin dari aktivitas hina meminta-minta.


Adapun bagaimana islam menjaga orang-orang kaya dari meminta-minta, adalah dengan cara mengancamnya. Nabi SAW bersabda, “Tidak seorang pun yang meminta-minta sesuatu padahal ia kaya, kecuali pada hari kiamat ia datang dalam keadaan mukanya luka, terkoyak dan terkelupas. Kemudian Rasulullah ditanya, ‘wahai Rasulullah, bagaimana seseorang dapat dikatakan kaya atau apa yang menyebabkannya (pantas) dikatakan kaya?’ Rasulullah menjawab : “Ia mempunyai 50 dirham atau nilai (tesebut) yang setara dengan emas.” HR. al-Khamsah.


Dirham adalah mata uang perak dengan besaran 2,975 gram perak per satu dirham. Lima puluh dirham berarti 148,75 gram perak. Karena kisaran harga perak per mei 2018 sekitar Rp 13.000 per gram. Itu berarti 50 dirham setara dengan 1.933.750. rupiah. 


Dengan demikian, seseorang yang setelah memenuhi kebutuhan pokoknya, masih memiliki kelebihan minimal sebesar 1.933.750 rupiah, orang tersebut disebut kaya. Haram bagi mereka meminta-minta.


Rasa ta’at yang tinggi kepada Allah, rasa takut yang besar akan murka Allah, serta penerapan Islam, akan sangat efektif menghilangkan keberadaan pengemis. Baik pengemis sungguhan maupun pengemis musiman.


Wallahua’lam


-


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!