Monday, May 28, 2018

Masihkah Ada Keadilan Itu?


Oleh : Ummu Hanif Gresik


Dunia maya akhir – akhir ini dihebohkan video yang diunggah pemilik akun Instagram @jojo__ismyname. Dalam video berdurasi tak kurang dari lima menit itu, terdapat seorang pemuda bekacamata mengancam Presiden Jokowi sambil telanjang dada. Pemuda itu juga memegang dan menunjuk-nunjuk foto Jokowi. Selain mengancam akan menembak, pemuda itu juga menghina-hina Presiden Jokowi dengan kata-kata yang tidak etis. Bahkan, dia meminta Jokowi mencarinya dalam waktu 24 jam. Beredarnya video ini sontak membuat warganet beraksi keras.


Namun, sejak kamis (24/5/2018), lini massa media sosial diramaikan kritik dan hujatan kepada Polri setelah Polda Metro Jaya menangkap RJ, namun kemudian membebaskannya karena menganggap tindakan remaja keturunan Tionghua yang berusia 16 tahun yang mengancam akan menembak Presiden Jokowi, ingin membakar rumahnya, dan bahkan menyebut Jokowi sebagai kacung, hanya lucu-lucuan dan hanya merupakan kenakalan remaja. (Harianumum.com, 25/5/2018)


Masyarakat umumnya tidak dapat menerima alasan ini, karena perbuatan RJ dinilai jauh lebih parah dibanding tersangka penghinaan lain terhadap Jokowi, yang rata-rata tidak sampai mengancam akan membunuh dan membakar rumah Jokowi. Selain hal itu, polisi juga dikritik karena saat Agro memberikan keterangan kepada pers, RJ tidak diperlihatkan. Berbeda dengan perlakuan polisi saat menangkap siswa SMK yang dianggap menghina Jokowi dan kemudian dipidana 1,5 tahun, saat mengekspos kasus tersangka ujaran kebencian Asma Dewi dan lain-lain.


Melihat keadaan ini, sangatlah tepat untuk kita renungkan kembali, tawaran islam sebagai solusi kehidupan. Dalam islam,semua aspek pengaturan masyarakat diatur oleh hukum yang jelas. Dalam Islam, kedaulatan dalam penger-tian sumber hukum tertinggi (source of legislation) adalah hukum syara'. Al Qur'an dan Sunnah menjadi satu-satunya sumber hukum, sehingga standar baik dan buruk dalam Islam adalah halal dan haram. Hal ini membuat sistem hukum Islam menjadi mandiri dari intervensi kepentingan manusia. Hal ini berbeda dengan sistem Kapitalis yang menjadikan manusia atas nama rakyat sebagai sumber hukum tertinggi. Ketika manusia menjadi sang pembuat hukum, pastilah berbagai kepentingan dari manusia tersebut masuk di dalamnya.


Persamaan kedudukan di depan hukum, dijamin di dalam sistem islam. Rasulullah SAW menegaskan hal ini saat mengatakan, “Seandainya anakku Fatimah mencuri, akan kupotong tangannya. Hadits itu bermula ketika seorang sahabat terdekatnya, meminta Rasulullah untuk tidak menghukum seorang wanita terpandang. Rasulullah marah dan menegaskan bahwa siapapun yang bersalah, meskipun anaknya sendiri akan dia hukum.


Kebijakan ini pun diikuti oleh para khalifah maupun qadhi (hakim) setelah Rosulullah wafat. Khalifah Ali bin Abi Thalib ra yang menjadi penguasa tertinggi pada saat itu bahkan pernah dikalahkan dalam peradilan Islam. Pasalnya, dia tidak bisa membuktikan tuduhan bahwa baju besinya memang benar telah dicuri oleh seorang warga Yahudi. Pengadilan Tunggal Tidak Berjenjang. Islam tidak mengenal pengadilan bertingkat. Pengadilan dilakukan dengan asumsi harus dilakukan secara terbaik oleh hakim manapun, dengan pembuktian yang menunjang. Hal ini akan menjaga kepastian hukum dan dapat mencegah timbunan perkara akibat peradilan bertingkat seperti dalam sistem kapitalis, termasuk yang ada di Indonesia.


Dan saat ini, independensi peradilan di Indonesia sedang diuji. Apakah peradilan akan berjalan sesuai azasnya, ataukah kepentingan berbagai pihak akan mengarahkan hukum ke arah yang jauh dari maka “adil” itu sendiri. Wallhu a’lam.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!