Tuesday, May 22, 2018

Lagi-Lagi, Miras Bikin Miris


Oleh: Eka Purwaningsih, S.Pd (Pemerhati Generasi)


Miris, itulah satu kata yang patut diucapkan ketika melihat banyaknya korban yang berjatuhan akibat menenggak minuman keras (Miras) oplosan. Banyaknya korban yang berjatuhan akibat miras oplosan di berbagai wilayah di Indonesia, maka tahun ini miras oplosan ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Tahun 2017, Jawa Barat menempati peringkat terbanyak korban miras oplosan. berikutnya Jawa Tengah dan di peringkat ketiga DKI Jakarta. (Kriminologi.id 07/04/2018).


Jumlah korban miras oplosan yang menjalani perawatan di rumah sakit umum daerah (RSUD) Cicalengka, Kabupaten Bandung hingga Rabu (11/4) pukul 08.00 WIB mencapai 157 orang (Republika.co.id 11/04/2018). Total 91 orang dilaporkan tewas, 58 orang di Jawa Barat, 33 orang di Jakarta dan sekitarnya (Kompas.com 13/04/2018). Ini banyaknya korban yang terdata, sedangkan korban miras yang keracunan, meninggal di rumah, dan tidak sempat dibawa ke rumah sakit, tentunya tak kalah banyak. Banyaknya korban miras oplosan sebetulnya bukan kasus yang baru. Dari tahun ketahun kasus ini terus berulang. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mau berapa banyak lagi korban yang menjadi tumbal miras oplosan?


Upaya terus dilakukan oleh semua pihak untuk memberantas miras, pabrik-pabrik yang memproduksi miras oplosan digerebek dan ditutup. Pemilik warung yang menjual miras oplosan ditangkap. Namun, apakah penjual miras skala besar ditangkap? Pabrik produsen miras yang memiliki izin/legal di hukum dan di tindak tegas? Jawabannya tidak.


Wajarlah jika eksistensi miras tidak dapat diberantas selama negeri ini terkungkung dengan aturan Kapitalistik. Aturan yang akan berpihak kepada apapun yang mendatangkan keuntungan materi yang besar. Karena menjadi salah satu pemasukan negara dari pajak. Pendapatan negara dari minuman beralkohol dilaporkan pada tahun 2017 mencapai Rp 5,6 Triliun (Republika.co.id 13/04/2018). Bahkan, Dirktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai, Heru Pambudi menyatakan Pemerintah menargetkan setoran Cukai minuman mengandung etil alkohol (MMEA) sebesar Rp 6,5 triliun di tahun 2018 (Liputan 6.com 07/11/2017).


Miras bukanlah suatu yang haram di Negeri ini. Keberadaannya tidak dilarang, tetapi diatur dan diawasi. Sementara masih banyak terjadi pelanggaran dan kelonggaran pengawasan. Buktinya banyak anak di bawah umur yang dengan mudah mengakses dan membeli miras. Bahkan pengonsumsi miras paling banyak adalah kaula muda. Harga miras legal selangit, sudah tentu tidak dapat dijangkau oleh mereka yang sudah kadung kecanduan miras namun kontong pas-pasan. Akhirnya mengkonsumsi miras oplosan yang ramah di kantong dan mudah didapat menjadi pilihan. Padahal, tidak dapat dipungkiri bahwa terjadinya tindakan kriminal, kecelakaan lalulintas, pembunuhan, pemerkosaan yang terjadi akibat miras sebagai pemicunya. Miras juga akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan bagi peminumnya. Mulai dari keracunan, kerusakan organ penting, kerusakan syaraf hingga kematian.

Paradigma Kapitalistik inilah sesungguhnya yang menyebabkan penyelesaian kasus miras tak ada ujungnya. Akhirnya kasus serupa terus saja terjadi dan berulang. Sementara kerusakan moral, kerusakan sosial, rusaknya generasi sudah sangat jelas di depan mata. Tak heran, karena di negeri yang menganut Kapitalisme-Sekuler, kepentingan pemilik modal lebih didengar sementara aturan agama di kesampingkan.


Jika sudah sangat merusak,mengapa masih saja paradigma Kapitalistik yang digunakan? Kembali saja pada Islam. Islam sudah sangat jelas menyatakan bahwa semua yang memabukkan itu haram, termasuk miras. Maka bukan hanya mengkonsumsinya, memproduksinya, menjualnya dan lain-lain pun tidak diperbolehkan. Dari Anas ra. "Sesungguhnya Rasulullah SAW melaknat dalam khamr sepulu personel yaitu: pemerasnya (pembuatnya), distributor, peminumnya, pembawanya, pengirimnya, penuangnya, penjualnya, pemakan uang hasilnya, pembayarnya, pemesannya." (HR Ibnu Majah dan Tirmidzhi).


Islam akan menutup rapat keran Miras dari hulu sampai ke hilir. Memberikan hukuman yang tegas bagi siapa saja yang melanggarnya. Islam memandang bahwa menjaga keamanan, kehormatan rakyat, dan keselamatan generasi adalah tanggung jawab negara yang jauh lebih berharga nilainya dibandingkan dengan keuntungan materi. Penerapan Syari'at Islam secara sistemik akan mampu melenyapkan kemirisan akibat miras, semua masalah dan kerusakan yang ditimbulkannya. Dengan begitu akan mendatangkan keberkahan di langit dan di bumi sebab Allah ridho karenanya.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!