Monday, May 28, 2018

Kokohkan Perjuangan di Bulan Ramadhan


Oleh: Nor Aniyah, S.Pd


Ramadhan merupakan bulan perjuangan. Di bulan ini, kita semua kaum Muslim sedikit banyak akan berjuang dalam ketaatan. Tak hanya meninggalkan hal yang haram, bahkan hal yang halal pun harus dijauhi sementara. Agar tidak membatalkan ibadah puasa yang sedang dijalankan. 


Insya Allah, pahala atas ketaatan yang kita lakukan akan dilipatgandakan. Tentunya, ketaatan yang dikehendaki bukan sebagian-sebagian alias parsial. Harus ketaatan yang total. Yaitu, melaksanakan seluruh perintah Allah SWT dan mejauhi semua larangan-Nya. 


Akan tetapi, jangan sampai ketaatan itu hanya sifatnya kadang-kadang atau temporal saja. Di bagian awal Ramadhan menggebu-gebu. Pertengahnnya mulai berkurang, dan setelah usai Ramadhan berakhir pula ketatan. Nau dzubillah. Mudah-mudahan terhindar dari keadaan seperti ini. 


Ingatlah nasehat Rasulullah saw: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasa tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga (haus) saja.” (HR. Ibnu Majah). 


Ramadhan yang mulia ini memang harus kita jalani dengan penuh semangat dan gembira. Ada peluang untuk memperbanyak pahala dan menghapuskan dosa. Supaya bisa merubah diri menjadi insan yang lebih baik. Menjadi seorang hamba yang taat.


Nah, sekarang kita ingat-ingat lagi, kira-kira sudah berapa kali bulan Ramadhan yang kita lalui? Mungkin ada yang sampai sudah berulang, sesuai dengan berapa puluhan tahun hidup di dunia sampai sekarang. Lalu bagaimana nih kondisi ketatan kita? Apakah tambah taat atau jalan di tempat. Seperti itu-itu saja dari dulu. 


Mungkin mudah saja buat beribadah banyak-banyak. Meningkatkan amalan kita secara pribadi.Tapi, kita juga nggak mau kan bersikap cuek. Nafsi-nafsi. Mau baik dan taat hanya sendiri. Biar saja mereka mau maksiat, yang penting aku taat!


Tidak boleh begitu, karena itu menunjukkan bukan gambaran seorang Muslim. Apalagi Rasulullah sudah berpesan untuk selalu berbuat baik pada manusia yang lain. Harus peduli. Kalau tidak mau peduli, bisa jadi tidak diakui Rasulullah saw sebagai umatnya nanti di hari kiamat. Jadi,  mari peduli sesama!


Kita lihat di sisi lain kondisi umat Islam dari Ramadhan ke Ramadhan masih tidak dapat melaksanakan kemudahan untuk berbuat ketaatan. Umat masih belum bisa beranjak dari keterpurukan. Umat makin jauh dari aturan syariah. 


Padahal Islam hadir untuk memberikan solusi bagi kehidupan. Akan tetapi, sebagian dari kita masih enggan mengambil solusi dari ilahi. Muslim kok menghindari bahkan alergi dengan ajaran agama sendiri. Ini aneh, bukan?


Inilah yang sedang terjadi hari ini. Saat sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Membuat aturan sendiri dari manusia yang lemah dan terbatas. Akhirnya, yang terjadi maraknya kerusakan dan kezaliman dari berbagai sisi dan dari berbagai usia. Masih banyak remaja yang terlibat prostitusi, dan narkoba. Para penguasa yang korupsi dan pengelapan dana. Mungkin, berhenti sebentar saat Ramadhan, setelah usai balik lagi ke perbuatan asal. 


Ramadhan merupakan bulan perjuangan. Berjuang untuk menjadikan ketaatan pada Allah SWT dan Rasul-Nya jauh di atas hawa nafsu. Yang idel, ketaatan kita makin bertambah. Dalam perilaku keseharian kita merasa ingin selalu terikat dengan aturan syariah. 


Firman Allah SWT: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Ali Imran: 31).


Ramadhan haruslah kita maknai tak sekedar melakukan perjuangan ritual saja, tapi sebagai bulan perjuangan sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw dan para sahabat ra. Terlebih kondisi umat masih jauh dari kemuliaan. Termasuk massifnya upaya stigmatisasi negatif terhadap umat Islam. Yang tidak lain dimotori oleh negara Barat. Agar membuat Muslim sendiri terjangkiti Islamophobia, anti terhadap Islam. 


Kita lihat Rasulullah saw teladan kita, tidak mencukupkan diri hanya membuat baik dirinya dan keluarganya saja. Namun, mereka menyeru secara sama, berkelompok berdakwah untuk memperbaiki seluruh mayarakat. Agar seluruh manusia mengetahui keagungan Islam. 


Rasulullah saw terus melakukan perjuangan dakwah secara pemikiran dan tanpa kekerasan. Meskipun menghadapi siksaan dan kejahatan, tapi beliau saw tidak membalasnya. Dengan sabar menyampaikan ajaran Islam. Sehingga perlahan-lahan orang-orang semakin tercerahkan dengan kemuliaan Islam. Memeluk Islam dalam dirinya, dan turut serta menyampaikannya. 


Banyangkan, di tengah panas terik gurun pasir, Bilal bin Rabbah teguh berjuang untuk bertahan dalam keimanan. Rasanya seperti apa? Semakin keras siksaan dan usaha menghalang-halangi dakwah Rasulullah saw dan para sahabatnya, mereka tetap semakin sabar dan tegar berada di jalan yang benar. 


Hingga kata “Islam,” “Muhammad” dan “Rasulullah” menjadi semakin akrab didengar. Bahkan dirindukan oleh kalangan Anshar di Madinah. Itulah kekuasaan Allah SWT, makin dibenci kaum kafir Quraisy, namun dirindukan orang yang beriman. 


Ya, perjuangan memang memerlukan usaha yang penuh dengan pengorbanan, karena bisa saja didapati kesukaran dan bahaya. Mungkin harus mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, uang sampai jiwa dan raga. Insya Allah, dengan niat yang ikhlas semua akan dibalas dengan hidup mulia di bawah naungan syariah dan nikmat di kehidupan surga kelak dengan penuh rahmat. 


Semoga fajar pertolongan-Nya pun semakin dekat. Di mana kini kata “Syariah,” “Khilafah” dan “Khalifah sudah fenomenal. Banyak yang telah membicarakannya. Hanya menunggu ketetapan waktu dari Allah SWT saja. 


Ingatlah, berkat adanya perjuangan, seorang pendaki gunung yang tak kenal menyerah akan dapat mencapai puncak tertinggi. Semua rasa penat, kehujanan, kelaparan atau luka karena semak duri tak dirasakan lagi. Dia merasa lunas sudah semua, terbayar dengan bisa menyaksikan pemandangan yang mengagumkan. 


Karenanya, wahai sekalian insan yang mau dan tengah rela berjuang memikul amanah mulia sebagai pengemban dakwah. Ramadhan bisa jadi momen untuk meningkatkan semangat dan kokohkan jiwa juangmu. Bersabar dan tetap ikutilah Rasulullah saw. Terus gelorakan perjuangan dakwah Islam![]





*) Pemerhati Masalah Sosial dan Remaja, berdomisili di Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel. Penulis dari Komunitas Muslimah Banua Menulis.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!