Friday, May 25, 2018

Ketika Remaja Berhati Durjana


Oleh : Rut Sri Wahyuningsih


      Terasa perih di hati ketika pagi ini membaca berita  tentang pelaku pembunuhan anak dalam karung telah di temukan. Korban bernama Grace Gabriela (5) di Perumahan Bogor Adri, Cibinong, Kabupaten Bogor. Berinisial RI. Dan pelakunya adalah siswa SMP, usia 15 tahun , tetangga korban sendiri (TRIBUNNEWS/ 25 /05/ 2018). Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Bimantoro mengatakan motif pelaku menghabis nyawa korban karena memiliki dendam terhadap ibu korban. "Pelaku seolah tak merasa senang karena ibu korban kerap melaporkan perbuatan nakal pelaku terhadap ibunya. Hubungan orangtua korban dengan pelaku memang terbilang baik, tapi di sisi lain pelaku ternyata memiliki dendam tersendiri,".


       Menurut Bimantoro kejadian bermula ketika Grace bermain ke rumah pelaku. Grace berniat bermain dengan adik pelaku, C. Namun sayang, saat itu C sedang tidak ada di rumah, begitu pun dengan orangtua pelaku. "Saat itu lah pelaku membekap korban hingga kehabisan nafas yang selanjutnya di masukkan ke dalam karung beras, jadi kejadiannya di rumah pelaku, selang beberapa saat pelaku membuang jasad Grace ke area perkebunan yang lokasi tak jauh dari kediamannya. Pelaku kini telah diamankan pihaknya. Atas kesalahannya, RI dikenakan pasal berlapis, yakni 340 KUHP, 338 KUHP serta pasal 80 ayat 2 UU no 35 tahun 2015 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman pidana maksimal 20 tahun.

    

    Dalam hukum positip Negara Indosesia arti dari hukuman penjara 20 tahun adalah dimana seseorang yang di vonis bersalah dan di jatuhkan hukum penjara 20 tahun lamanya, namun di dalam dalam perjalanannya ketika  seseorang tersebut menjalani hukuman penjaranya, terpidana tersebut sewaktu waktu juga bisa mendapatkan grasi  yang berupa pengurangan masa tahanan, bisa jadi seseorang terpidana yang dijatuhi hukuman 20 tahun penjara tersebut dengan grasi maupun amnesti yang ia terima membuat masa tahanan nya menjadi lebih singkat atau kurang dari 20 tahun. Sungguh hukum yang tidak adil, terlebih jika melihat bagaimana kejamnya pelaku ketika membunuh nyawa yang tak bersalah. Tanpa hati, bahkan prilaku durjana jadi pilihan. Tak ada lagi kekuatan rasa bahwa setiap perbuatan di lihat Allah dan akan dimintai pertanggungjawabkan.

    

    Dalam Islam membunuh adalah perbuatan kriminal berat. Ini merupakan kejahatan tingkat tinggi, apalagi kalau pembunuhan itu dilaksanakan dengan sengaja. Karena biasanya efek pembunuhan itu berkepanjangan sehingga menimbulkan dendam kusumat antara keluarga terbunuh terhadap keluarga atau pembunuh itu sendiri. Kondisi dendam tersebut mengikut pengalaman berlaku baik untuk orang perorang maupun orang banyak seperti efek dari sebuah peperangan yang meninggalkan kesan dalam waktu berkepanjangan. Islam melarang umatnya membunuh seseorang manusia atau seekor binatang sekalipun, kalau itu tidak berdasarkan kebenaran hukumnya. Dalam Islam orang-orang yang halal darah atau boleh dibunuh karena perintah hukum dengan prosedurnya adalah orang-orang murtad, yaitu orang-orang Islam yang berpindah agama dari Islam ke agama lainnya. Ketentuan ini dilakukan setelah orang murtad itu diajak kembali ke agama Islam selama batas waktu tiga hari, kalau selama itu dia tidak juga sadar baru dihadapkan ke pengadilan.  Yang halal darah juga adalah pembunuh, bagi dia berlaku hukum qishash yakni diberlakukan hukuman balik oleh yang berhak atau negara melalui petugasnya. Penzina muhshan (yang sudah kawin) adalah satu pihak yang halal darah juga dalam Islam melalui eksekusi rajam, mengingat jelek dan bahayanya perbuatan dia yang sudah kawin tetapi masih berzina juga. Semua pihak yang halal darah tersebut harus dieksekusi mengikut prosedur yang telah ada dan tidak boleh dilakukan oleh seseorang yang tidak punya otaritas baginya. 


   Allah memberi perumpamaan terhadap seorang pembunuh adalah: “...barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya...” (QS. Al-Maidah: 32).


       Seseorang yang membunuh dalam Islam sangatlah berat yaitu dibunuh balik sebagai hukuman qishash ke atasnya. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS. al-Baqarah: 178).

    Qishas adalah hukuman yang akan dia terima di dunia, sementara hukuman di akhirat adalah dilemparkan dalam neraka oleh Allah SWT suatu masa nanti, sesuai dengan firman-Nya: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. an-Nisa’: 93)   Qishash ini betul-betul sebuah keadilan dalam sistem hukum pidana Islam, di mana seseorang yang membunuh orang lain tanpa salah harus dibunuh balik. Ini sama sekali tidak melanggar hak azasi manusia (HAM). Dengan adanya HAM justru keadilan tidak akan terwujud. Bagaimana mungkin kalau seseorang membunuh orang lain tanpa dibenarkan agama dapat diganti dengan hukuman penjara 5-9 tahun, sementara orang yang dibunuhnya sudah meninggal.

    

    Ketidak adilan hukum inilah salah satunya yang mengakibatkan tingkat kriminal dinmasyarakat semakin tinggi. Niat jahat bahkan merumuskan perencanaan pembunuhan tidak saja terbetik dalam benak orang dewasa, namun " anak di bawah umur" pun bisa. Selain karena ringannya hukuman, pembatasan usia di bawah umur yang menyesatkan dan  hal yang berpengaruh lainnya  adalah pendidikan, dimana kurikulum yang disusun hanya bisa menghasilkan pribadi yang rapuh, miskin nilai ruhiyah atau sama sekali tidak membangun kesadaran hubungannya dengan Allah. 

    

    Islam adalah agama yang sempurna, mencakup akidah dan peraturan. Maka, ketimpangan hukum ketika menyelesaikan persoalan tidak akan terjadi, karena perbaikan dan penjagaan masyarakatnya adalah menyeluruh dan integral. Jika hukum di bidang peradilan di benahi, maka hukum yang lain akan pula di terapkan secara sempurna, baik di bidang ekonomi, sosial, keamanan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Inilah yang di sebut syariat sebuah sistem yang berasal dari Allah zat yang Maha mengatur dan Adil. Wallahu A' lam bi Ashowab.

    

Penulis adalah Ibu Rumah Tangga dan Anggota Komunitas Revowriter Sidoarjo

    

    



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!