Monday, May 28, 2018

Kampung Halaman Yang Abadi


Oleh : Asma Ridha


Ngomongin kampung halaman, khususnya yang berasa banget jadi anak rantau. Pasti dong kampung halaman itu selalu dikenang. Dan pastinya membuat perencanaan untuk pulang, mengumpulkan segenap harta agar bisa pulang kampung, berjumpa dengan orang tua dan sanak saudara. 


Apalagi idul fitri sudah di depan mata, ada yang mulai hari ini mengambil start pemula untuk pulang kampung. Bisa di bayangkan seminggu menjelang idul fitri esok.


Inilah hakikat jiwa manusia, kemanapun merantau, kampung halaman adalah tempat yang selalu di rindui dan dikenang dalam ingatan.


Seharusnya demikian pula dengan kampung halaman kita yang sesungguhnya. Merinduinya, dan berharap kita adalah hamba yang layak mendapat syurga-Nya.


Kampung halaman telah Allah persiapkan. Karena pada hakikatnya kita berasal dari kampung syurga yang akan kembali menuju syurga-Nya. Namun kehidupan ini adalah ujian yang harus dilalui, dan sepatutnya menjadi penjara bagi umat yang beriman. Bukan justru menganggap dunia menjadi syurganya. Sehingga kebahgiaan dunia menjadi misi hidup umat manusia. Allah SWT berfirman :


يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ


Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (Al-Mu'minun : 39)


Hakikat dunia adalah negeri yang sementara, bukan negeri keabadian. Jika kita memanfaatkan dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak. Adapun jika kita menyibukkannya dengan syahwat, maka kita akan merugi, baik di dunia, apalagi di akhirat.


Hal ini sebagaimana firman Allah Taala,


خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ


“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj [22]: 11)


Orang-orang yang menyibukkan dunia dengan sesuatu yang akan bermanfaat untuknya kelak di sisi Allah Ta’ala, mereka adalah orang-orang yang beruntung, baik di dunia dan di akhirat. Dia beruntung di dunia karena menyibukkan diri dalam amal kebaikan. Demikian pula, dia beruntung di akhirat karena telah membekali diri dengan berbagai amal shalih.


Allah Taala berfirman dalam banyak ayat Al-Quran,


فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا


“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu.” (QS. Luqman [31]: 33)


Ramadhan menumbuhkan rasa rindu pada kampung halaman. Namun jangan melupakan kampung halaman yang sesungguhnya. Bekal apa yang telah dipersiapkan ? Modal apa yang telah dikeluarkan? Dan pengorbanan apa yang menjadikan syurga itu layak menjadi tempat tinggal kita kelak?


Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi tamparan keras bagi kita :


لَا تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.


“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakanserta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2416, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir jilid 10 hal 8 Hadits no. 9772 dan Hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah al-AHadits ash-Ashahihah no. 946)


Dalam Hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kita bahwasanya, kelak di hari kiamat setiap Bani Adam (manusia) akan dimintai pertanggungjawaban oleh AllahSubhanahu wa Ta’ala mengenai 5 (lima) perkara, diataranya adalah tentang:


1. Umurnya

2. Masa mudanya

3. Hartanya (dari mana ia dapatkan) 

4. Hartanya (dalam hal apa ia belanjakan)

5. Ilmu yang dimilikinya


Mari jadikan ramadhan ini, momen perubahan dalam segala hal. Memanfaatkan sisa umur dalam hal kebaikan. Menyadari apa yang ada pada diri ini hanya titipan sesaat. Dan kelak semuanya tidak luput dari pertanggung jawaban.


Wallahu A'lam..


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!