Thursday, May 24, 2018

Kaleidoskop Ramadhan di Masa Kesultanan Islam Nusantara


Oleh Ammylia Rostikasari, S.S. (Akademi Menulis Kreatif /Komunitas Penulis Bela Islam)


Ramadhan adalah tamu agung yang selalu dirindukan. Begitu banyak peristiwa bersejarah di masa Kesultanan Islam Nusantara. Mulai dari peralihan sistem pemerintahan yang mulanya bentuk kerajaan dengan corak Hindu-Budha, hingga penerapan syariat Islam di kesultanan. Berikut kilasan di antaranya.


1 Ramadhan

Adanya batu nisan Sultan Firman Syah, cucu Sultan Johan Syah di Gampong Pande, Banda Aceh. Situs bersejarah itu merupakan prasasti yang menyatakan bahwa Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam. Ini berlangsung pada Jum’at 1 Ramadhan yang bertepatan dengan 22 April 1205 M. Ini disahkan pasca Sultan Johan Syah menaklukkan Kerajaan Hindu-Budha Indra Purba yang beribu kota di Bandar Lamuri.


2 Ramadhan

Kerajaan Bone yang berada di Sulawesi Selatan berdiri pada 1392 dengan Matasilompoe sebagai raja pertamanya (1392-1424). Raja ke 10 yaitu Ratu We Tenrituppu (1590-1607) ialah pemimpin Bone perdana yang memeluk Islam. Namun, karena berproses cukup panjang, Islam baru dapat diterima secara reami oleh negara pada masa Raja Bone ke 12 yaitu Arumpone La Tenripale Matinroe ri Tallo (1608-1628).


Oleh sebab itu, tertanggal 2 Ramadhan (23 November 1611), Kerajaan Bone berubah menjadi Kesultanan Bone. Rajanya berubah gelar predikat dan nama menjadi Sultan Abdullah Matinroe Tallo. Begitu pun dengan susunan hadat Bone juga ikut berubah. Ada penambahan jabatan Parewa Sara atau pejabat syariah yaitu Petta Kalil atau Qadhi (hakim).


8 Ramadhan

Tanggal ini merupakan hari wafatnya Sultan Abdul Kahir. Sultan pertama di Kesultanan Mbojo. Berdasarkan Bo yaitu catatan kuno istana Bima atau Mbojo, pada 15 Rabiul Awal 1050H, Sangaji (raja) XXVII Bima La Kai Ta Ma Bata Wadu memeluk Islam. Setelah itu, ia berganti nama menjadi Abdul Kahir.


Abdul Kahir menikah dengan adik istri Sultan Gowa Alauddin yang bernama Daeng Sikontu, Puteri Karaeng Kassuarang. Setelah itu, Sangaji Bima XXVII tersebut digelari dengan Sultan Mbojo I. Pada saat itu pulalah, Kerajaan Bima yang bercorak Hindu-Budha telah berakhir dan berubah menjadi Kesultanan Mbojo yang menerapkan syariat Islam. Hukumnya bersumber dari Kitabullah dan Sunah Rasulullah.


15-16 Ramadhan


Tanggal ini tercatat sebagai hari masuk Islamnya Raja Luwu (Sulawesi Selatan) yang digelari Sultan Muhammad. Ia berislam pasca meneruma dakwah tiga datuk dari Kota Tengah, Minangkabau.


Ketiga datuk yang masih bersaudara tersebut ialah Abdul Makmur (Khatib Tunggal), Dato’ri Pattimang (Dato’ Sulaemana atau Khatib Sulung) dan Dato’ri Tiro (Abdul Jawad alias Khatib Bungsu).


Ketiga alim ulama tersebut mendakwahkan Islam kepada para raja setelah lebih dulu mendalami kebudayaan Bugis-Makassar di Riau dan Johor. Karena di dua tempat tersebut ditemui banyak etnis Bugis bermukim. Sehingga ia memanfaatkannya untuk me dapatkan informasi yang dibutuhkan.


Sesampainya di Makasar, 3 datuk mendapati informasi terkait raja-raja yang berpengaruh dari para pedagang. 3 raja yang begitu berpengaruh ialah Datuk Luwu’ yang palung dihormati, sementara Raja Tallo dan Raja Gowa sebagai Raja yang paling kuat.  Inilah sasaran dakwahnya.


Alhamdulillah, akhirnya 3 raja tersebut akhirnya berislam. Ketiga kerajaannya bersatu menjadi kesultanan Gowa-Tallo. Jika “Serambi Mekah” julukan yang diberikan untuk Aceh, maka “Serambi Madinah” disematkan untuk Gowa-Tallo.


Kesultanan ini telah menerapkan syariah Islam dan menyebarkan dakwah di Sulawesi dan bagian timur Indonesia dengan begitu pesat. Kesultanan Gowa telah sukses menorehkan tinta emas sejarah peletakan dasar dan penyebaran Islam di Timur Nusantara.


30 Ramadhan


Tanggal ini adalah momentum penyerahan kekuasaan kembali secara damai dari Ratu Sunda Kelapa kepada Fatahillah. Penyerahan damai tanpa peperangan tersebab Sultan Trenggono atau Sultan Damak sebagai pemegang komando tertinggi melarang para mujahiddin berperang. Hal demikian sebagai penghormatan kepada Bulan Ramadhan.


Masa itu memang sudah banyak penguasa Sunda Kelapa yang memeluk Islam. Ini terbukti dengan ikut sertanya mereka dalam jihad bersama Kesultanan Damak guna menggempur Portugis di Malaka (1512 M).


Demikianlah serangkaian peristiwa bersejarah yang begitu kental dengan penerapan syariat Islam di Nusantara. Dengan kembali merujuk kepada Kitabullah dan Sunah Rasulullah, niscaya nusantara akan dilimpahi berkah dari bumi dan langit. wallahu’alam bishowab





SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!