Wednesday, May 16, 2018

Kado Pahit Hari Pendidikan Nasional 


Oleh : Siti Ruaida S.Pd


Setiap tanggal 2 Mei kita selalu merayakan Hari Pendidikan Nasional, sebagai bentuk rasa syukur karena hari ini rakyat Indonesia bisa bersekolah dan menikmati pendidikan, bila dibandingkan dengan masa penjajahan, pendidikan adalah kemewahan yang tidak bisa di nikmati oleh rakyat biasa kecuali priyayi atau keturunan bangsawan.Padahal pendidikan adalah hal penting dalam membangun sebuah bangsa, sebagai tolak ukur kualitas suatu bangsa. Karena pendidikanlah yang akhirnya melahirkan golongan terpelajar yang menjadi harapan bangsa. 


Ahamdulillah melalui golongan terpelajar yang terketuk hatinya melihat nasib rakyat, mereka tergerak untuk mendirikan sekolah rakyat.Dari sinilah cikal bakal pendidikan mulai dinikmati oleh ràkyat.


Berbicara hari Pendidikan Nasional tidak bisa dipisahkan dari tokoh nasional Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh Pendidikan Nasional yang tergabung dalam Tiga Serangkai, atau bagian dari kaum terpelajar yang memperjuangkan pendidikan bagi rakyat.  Beliau lahir  tanggal 2 Mei, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, untuk mengenang jasa dan perjuangan beliau untuk pendidikan. 


Sekolah Taman Siswa yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara dan dari sini kita mengenal semboyan"ing ngarsa sung tuluda, ing madya mangun karsa Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahàn, ditengah dan diantara murid, guru harus bisa menciptakan prakarsa dan ide. Didepan seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik. Semboyan ini benar-benat menohok bagi seorang guru, ketika melihat perilaku siswa zaman now. Apa yang salah, apakah semboyan itu sudah tidak bisa dijadikan panduan lagi oleh seorang guru atau ada faktor lain yang merubah karakter siswa.


Potret buruk pendidikah hari ini diwarnai perilaku tidak senonoh yang dilakukan siswa diberbagai daerah, perilaku yang tidak mencerminkan siswa yang memiliki karakter santun, bermoral, beriman dan bertakwa. Kita saksikan hari ini ketika mereka merayakan kelulusan mereka mencorat coret seragam sekolah, berjoget erotis disekolah , berkonvoi liar dijalanan tanpa memperdulikan keselamatan diri dan orang lain,dan entah apa lagi yang mereka lakukan untuk merayakan kelulusan.



Bahkan konvoi kelulusan siswa memakan korban di Kintamani bali, seorang siswa terjatuh dari motor karena melakukan aksi nekat gaya surfing diatas motor,Lain lagi siswa di Sidoarjo, Lambung dan berbagai daerah melakukan aksi konvoi dijalan dan mengganggu ketertiban umum. Dihalau oleh petugas , ditangkap dan diserahkan kepada orang tua. Kendaraan yang tidak dilengkapi surat-surat disita oleh petugas.


Didaerah kita dibanjarmasin. Siswa juga merayakan kelulusan dengan cara yang sama, corat coret baju dan melakukan konvoi. Sepertinya  hal ini sudah menjadi tradisi buruk yang sulit dirubah. Padahal orang tua ,guru atau pihak sekolah selalu mengingatkan agar tidak melakukan corat coret dan konvoi.  Bahkan sudah menyediakan tempat untuk penyaluran jiwa muda siswa Tapi tidak semua pelajar atau tidak semua sekolah  berhasil mengarahkan tradisi kelulusan yang negatif  bahkan ada berujung pada hilangnya nyawa si pelajar. Perlu ada upaya agar perayaan kelulusan beralih ke hal yang positif dan mendidik, seperti  kegiatan sosial untuk berbagi dengan mengumpulkan seragam sekolah mereka untuk diberikan kepada pelajar yang membutuhkan atau menggelar kegiatan pemberian santunan sebagai wujud rasa syukur karena telah diberi kelulusan dan kesuksesan anak didik melalui satu tahapan pendidikan atau mengisi dengan kegiatan pengajian yang mematapkan akidah dan menebalkan rasa syukur serta mengingat tanggung jawab besar yang ada didepan mata, sebagai generasi untuk menjaga amanah menjaga negeri dengan berkiprah dan berbuat sesuai keahlian masing- masing. Sehingga para pelajar menyadari peran besar mereka sebagai penerus bangsa. 


Penanaman aqidah menjadi hal penting karena akidah adalah  benteng utama kehidupan di era kapitalisme liberalisme. Zaman bebas serba boleh yang meninggalkan nilai-nilai agama dan memperturutkan hawa nafsu untuk kesenangan duniawi.


Sebagian siswa hari ini benar-benar tidak memiliki jati diri, karena kegersangan hati akibat kurang sentuhan kasih sayang orang tua. Orang tua disibukkan dengan pekerjaan hingga kurang komunikasi dan perhatian, sebagai bentuk kasih sayang orang tua kepada anak. Ditambah dengan kurang pahamnya orang tua terhadap perkembangan dan kebutuhan anak sehingga anak mencari perhatian dan kesenangan dengan teman atau orang- orang disekitarnya.tentu ini beresiko besar karena anak dàlam usia labil, bisa salah memilih teman dan lingkungan pergaulan.

Dari sinilah muncul perilaku nyeleneh yang tak lazim untuk mencari perhatian dan bisa juga sebagai pelarian karena kegersangan hati yang berujung pada kekecewaan dan kemarahan.


Penyebab yang paling merusak adalah penggunaan gadget di era teknologi, yang hampir merata dimiliki anak-anak zaman now.

Diberikan orang tua disamping karena alasan sudah zamannya anak punya gadget karena tuntutan kehidupan modern dan untuk memudahkan komunikasi, yang ternyata bisa saja disalah gunakan anak untuk mengakses hal-hal yang negatif.


Diperparah dengan sistem pendidikan hari ini sering gonta ganti kurikulum, yang seakan-akan menjadikan anak didik sebagai kelinci percobaan.Kurikulum yang ada selalu dianggap sebagai kurikulum terbaik  di zamannya, tapi kemudian ada perubahan lagi , begitu seterusnya. Bahkan kadang- kadang guru  belum mengusai satu kurikulum malah ganti  kurikulum baru lagi. Bagaimana mungkin dalam kondisi seperti itu guru bisa fokus pada pendidikan dan pengajaran peserta didik.Ditambah guru direpotkan oleh masalah administrasi yang menumpuk sehingga memecahkan konsentrasi dan menyita banyak waktu. Hal ini akan berdampak pada proses belajar mengajar, akhirnya guru hanya sekedar mengajar bukan mendidik murid. Bukan menanamkan karakter, tapi sibuk menilai karakter anak didik karena tuntutan kurikulum untuk tertib administrasi. Akhirnya harapan menciptakan Murid yang berkarakter mulia  tinggal harapan. belum bisa di implementasikan dalam kehidupan murid. 


Ditambah metode yang digunakan untuk membentuk karakter, arahnya hanya pada pembiasaan dan pengulangan tanpa di barengi perubahan pola pemikiran dalam melakukan suatu perbuatan, bahwa ada idrak sillabillah, kesadaran akan hubungan dengan Allah, bahwa Allah melihat apa yang kita lakukan dimanapun kita berada dan kita bertanggung jawab kepada Allah atas apa yang sudah dilakukan. Semisal membuang sampah. arahannya biasakan membuang sampah pada tempatnya, tanpa penanaman pola pemikiran , sehingga murid ketika tidak membuang sampah sembàrangan bukan karena kesadaran , tapi takut kena sangsi dari guru.


Ditambah kurangnya keteladanan guru yang  berujung pada berkurangnya rasa hormat kapada guru. Kurang dekatnya guru dengan murid juga membuat jurang pemisah, komplitlah sudah kegalauan anak zaman now dirumah kurang diperhatikan dan disekolah juga tidak mendapatkan perhatian yang serius. Akhirnya lahirlah generasi galau zaman now. 


Kurang komunikasi antara guru dan orang tua murid juga memperparah keadaan. Gagal membangun kesamaan persepsi dalam mendidik anak. Sekolah bukan tukang cuci yang membersihkan noda -noda pada anak. Kemudian orang tua  berlepas tangan. karena merasa sudah membayar. Lalu menganggap itu sudah tanggung jawab guru untuk memberikan pendidikan dan pengawaaan sesuai dengan apa yang di butuhkan murid. Tanpa partisipasi aktif dari orang tua untuk mengontrol proses pendidikan.


Langkah penting selanjutnya adalah merangkul steek holder àtau pengambil kebijakan dan seluruh elemen yang terkait dalam pendidikan dalam rangka penyamaan persepsi tentang tujuan pendidikan. Bahwa tujuan pendidikan adalah pertama mencetak generasi yang berperilaku sesuai dengan tuntunan sang pencipta, yang kedua mencetak cendekiawan yang beriman dan bertakwa. Wallahu A'lam.


Penulis adalah Guru MTs P Antadari Martapura dan member  Akademi Menulis Kreatif  (AMK




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!