Monday, May 28, 2018

Inikah Rasanya yang Pertama Kalinya?


Oleh: Nor Aniyah, S.Pd


Banyak yang bingung saat mendengarkan. Entah tidak menarik. Apakah membosankan. Atau tidak tahu sama sekali. Bisa dipahami nggak ya oleh mereka? 


Ungkapan-ungkapan itu tadi, sering banget disampaikan oleh adik-adik remaja. Dulu Kakak juga begitu. Hampir sama saja, rasanya untuk yang pertama kalinya bicara di hadapan teman-teman.  


Jangan-jangan nanti nggak jelas. Malah dianggap aneh, karena menyampaikan yang nggak biasanya didengar orang. Sampai ada yang tertidur-tidur. Sebagian kurang memperhatikan. Sebenarnya, itu hanya perasaan kita saja. 


Apakah pengaruh ketidaksiapan? Bisa jadi. Atau karena kurang banyak ilmu? Mungkin juga. Hanya kita yang dapat merasakan dan menilai diri kita sudah sampai di mana. 


Kesan sedikit aneh saat pertama kali itu biasa. Tapi tidak apa-apa kok. Nggak usah terlalu dipikirkan bila masih kurang maksimal. Nanti bisa dicoba lagi, memperbaiki apa-apa yang kurang. 


Walaupun awalnya seperti bicara sendiri, harus tetap semangat untuk latihan ya. Apapun itu, maju saja meski tidak dianggap. Jangan malu untuk melakukan kebaikan. Semua perlu proses. 


Terkait penyampaian yang bagus, perlu latihan dan pembiasaan. Ilmunya harus selalu didalami. Di saat yang sama usahakan rutin latihan tampil. Bisa sambil ngaca di rumah. Sambil mencoba ekspresi, boleh. Harus rajin mengulang. Terus ulangi, berkali-kali. 


Kenyamanan saat bicara bisa datang dari keakraban dan kepercayaan. Anggap audiens itu saudara kita sendiri. Dan percayalah, pada apa yang disampaikan. Cintai kebenaran yang kita yakini. Dengan begitu akan terasa makin berkesan dalam pemahaman, dan semakin lancar untuk disampaikan.  


Kata Ustadz, agar lisan kita mulia, maka gunakanlah untuk banyak berzikir kepada Allah. Gunakan untuk banyak menasehati sesama. Serta gunakan untuk melakukan amar ma'ruf nahi mungkar. Dengan menyampaikan kebaikan berarti kita termasuk ke dalamnya. 


Allah SWT juga sudah menerangkan pada kita: "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (TQS. Fussilat: 33)


Supaya terus jadi pengingat, bahwa menyampaikan kebaikan adalah sesuatu yang mulia. Jangan terhenti hanya dengan kecemasan akan gagal sekali. Toh, terbuka kesempatan untuk memperbaiki diri. Ambil sikap lebih giat dan berusaha melakukan yang terbaik. Sedangkan hasilnya, tidak ada di tangan kita. Allah SWT yang menentukan hasil dan hidayah. Kita hanya dapat merencanakan. 


Tinggal pilihan kita, menjadi yang terbaik atau tidak memilih sama sekali. Pastinya menjadi yang terbaik dong. Itulah yang akan memperoleh keberuntungan di dunia dan akhirat. 


Tak apa, kekurangan memang akan selalu ada dalam hidup. Manusia tidak ada yang terlahir sebagi sosok sempurna. Tak usah mengeluhkan diri penuh kekurangan. Carilah kelebihan potensi yang dimiliki untuk teru dikembangkan. Teruslah berusaha mempelajari hal-hal yang belum bisa, yang memudahkan aktifitas kita menyampaikan kebaikan Islam.[] 


*) Pemerhati Masalah Sosial dan Remaja, berdomisili di Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel. Penulis dari Komunitas Muslimah Banua Menulis.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!