Wednesday, May 23, 2018

Ibu Kartini Identik dengan Emansipasi


Oleh: Vio Ani Suwarni, S.Pd (Guru Sejarah Indonesia SMAN 1 Rengasdengklok)


Oke meskipun nuansa April sudah berlalu dan sekarang kita berada di bulan yang penuh dengan ampunan. Akan tetapi, tidak ada salahnya membahas pembahasan yang super kece ini. Berbicara bulan April, tidak lengkap rasanya jika tidak membahas R.A. Kartini. Berbicara R.A. Kartini tidak lengkap rasanya jika tidak membahas emansipasi. Sebenarnya emansipasi itu apa sih?


Emansipasi menurut Wikipedia: ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat. Jadi di dalam emansipasi ini ada usaha untuk menyamakan kedudukan perempuan dengan laki-laki. Maka jangan heran, jikalau di zaman now ini seolah-olah perempuan selalu ingin disamakan dengan laki-laki dalam berbagai hal.


Usaha tersebut dapat telihat dengan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Sering kita jumpai, banyak sekali perempuan yang bekerja, bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Ingat Bro and Sist perempuan itu bagian dari tulang rusuk, jangan jadikan perempuan sebagai tulang punggung ya, hehehehe


Selain banyaknya wanita yang bekerja, banyak juga wanita yang berkarier dengan berbagai macam pekerjaan, sehingga melupakan kewajiban yang seharusnya ia laksanakan, yakni menjadi Ummu Warabbatul Bayt. Tidaklah heran banyak anak yang kurang kasih sayang, karena kedua orang tuanya sama-sama berada di luar rumah. Tidak ada yang memperhatikan anak tersebut. Sebenarnya perempuan boleh tidak sih, bekerja dan berkarier di luar rumah? Boleh saja, akan tetapi dengan catatan, tugasnya sebagai seoarang istri dan ibu sudah dilaksanakan dengan baik.


Oke kembali lagi ke Ibu Kartini, beliau merupakan putri dari seorang bangsawan, hidupnya selalu dipingit. Keadaan yang demikian, tentu saja membuat beliau merasa terkekang. Terkekangnya beliau ditandai dengan banyaknya surat-surat yang beliau tulis dan kirimkan untuk sahabatnya yang ada di Belanda. Beliau seoarang muslimah, akan tetapi karena Islam belum seperti sekarang, dalam artian belum begitu dikenal, sehingga beliau mempelajari Islam belum secara kaffah.


Hal ini lah yang membuat beliau lebih melihat negara dan kebudayaan yang lain. Beliau terpukau melihat kebudayaan Barat, yang "Seolah-olah memberikan kebabasan kepada perempuan". Selain itu perempuan bebas menduduki jabatan-jabatan tertentu di dalam bidang perpolitikan, pekerjaan dan lain sebagainya. Berbanding terbalik dengan beliau yang selalu dipingit hingga menunggu hari pernikahannya. Padahal beliau ingin sekali mengenyam pendidikan yang lebih tinggi untuk nantinya sebagai bekal mendidik generasi.


Perjuangan R.A. Kartini bukan untuk menyamakan perempuan dan laki-laki. Karena laki-laki dan perempuan sudah memiliki jalannya tersendiri untuk mendapatkan pahala dari sang ilahi Robbi. Karena pada hakikatnya laki-laki sudah diamanahkan mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya. Sedangkan perempuan diberikan amanah untuk mendidik generasi. 


Seorang ibu tidak akan pernah tergantikan. Semua pekerjaan mungkin bisa ada yang menggantikan, akan tetapi tidak akan pernah ada seoarang pun yang bisa menggantikan seorang ibu. 


Boleh saja seorang perempuan menjadi dokter, guru, pengusaha dan sejumlah pekerjaan yang lainnya. Terjunnya perempuan dalam ranah pekerjaan di luar rumah, semata-mata untuk menyalurkan ilmu yang dimilikinya dan membersihkan faham-faham yang kufur di tengah-tengah masyarakat. Islam sangat memuliakan perempuan, dengan Islam perempuan akan dimuliakan.


Wallahu a'lam bishawab



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!