Wednesday, May 30, 2018

Di Jalan Dakwah Ku Ingin Setia (Part2)



Oleh: Ratu Ika Chairunnisa


Dakwah itu selalu menakjubkan. Mampu jungkir balikan pemahaman batil, tak peduli sekuat apapun ia terpancang dalam pikiran.  Rubah total cara pandang siapapun tentang kehidupan. Hapus tujuan hidup yang tak sesuai dengan keinginan Allah Rabb semesta alam. Kebodohanpun perlahan pudar. Gelapnya hati berganti pendar cahaya penuntun jalan.

.

.

Lihatlah sejarah banyak manusia yang terperosok lumpur jahiliyah. Kelam. Namun menjadi bersinar ketika dakwah merangsek perlahan ke akal dan hatinya.


Umar bin khattab, misalnya. Ia adalah sosok yang sangat keras perangai dan permusuhannya terhadap Islam. Tergerus arus jahiliyah. Terbelit kelamnya peradaban. Pada masa jahiliyahnya, Ia pernah membunuh anak perempuannya hidup-hidup. Ia juga tak sungkan menyiksa dua orang budaknya karena mereka tak mau kembali menyembah patung dan berhala yang menjadi sesembahan kaum kafir.


Labibah dan Zinnirah, mendapat siksaan keras tuk uji teguhnya iman yang mereka genggam. Ratusaan cambuk didaratkan oleh Umar Bin Khattab tanpa ampun dan rasa belas kasihan. Kulit mereka siap sedia terkelupas demi iman yang pancarkan kekuatan tak kasat mata. 


Tak hanya budak miliknya yang disiksa Umar. Umar bin Khattab juga sudah teramat berhasrat ingin memutus habis nafas kehidupan Rasulullah Saw sang pembawa risalah islam nan mulia. Telah dipersiapkan pedangnya untuk membunuh orang yang kemudian setelahnya teramat ia cinta. Namun Allah berkehendak lain. Melalui dakwah sang adik. Keras hatinya layu seketika. Pikirannya terjungkal berubah arah. Ia berislam. Dan menjadi sahabat yang lebih mencintai Rasulullah SAW dibanding diri dan kehidupannya. 

.

.

Sejarah mencatat betapa kontribusi Umar dalam Islam tak bisa disepelekan. Dari kepemimpinannya Islam berhasil mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia. Mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Umar yang rela sederhana asalkan rakyatnya sejahtera. Umar bin Khattab pula khalifah yang teramat takut pertanggung jawaban di hadapan Allah kelak, ketika ada seekor keledai terperosok di jalanan berlubang di Negeri yang dipimpinnya.

.

.

Adapula Hindun binti Utbah. Sosok perempuan yang teramat besar api dendam dan permusuhannya pada Islam. Hingga perang Uhud menjadi puncak berkobarnya api dendam yang telah bersemayam. Ia luapkan amarah atas kepergian bapak dan keluarganya yang mati di tangan Hamzah saat perang badar, dengan memutilasi jasad Hamzah paman Nabi tercinta. Tak cukup sampai disitu saja, ia mencabik-cabik jantung Hamzah dan memakannya penuh dendam. Ia pun menjadikan potongan hidung dan telinga kaum muslimin yang syahid di perang Uhud sebagai gelang kaki dan kalung dengan penuh kebanggaan.


Tetapi, dakwah dengan penerapan Islam telah berhasil merubah total hidupnya. Ia yang masuk Islam setelah fathul Mekah  seketika memukul berhala miliknya di rumah dengan kapak hingga berkeping-keping. 


"Dulu, kami terperdaya karenamu!" serunya marah.


Hindun binti Utbah telah bertobat.  Dari pencerca menjadi seorang pembela. Dari lawan menjadi seorang kawan setia. Seperti kata Nabi Muhammad, yang terbaik di antara kalian dalam jahiliyah, dialah yang terbaik di antara kalian dalam Islam.


Setelah lebih dari 20 tahun melancarkan permusuhan, tanpa diduga Allah membuka hatinya. "Aku ingin mengikuti Muhammad," kata Hindun.


Diriwayatkan Aisyah RA, Hindun datang kepada Nabi lalu berkata, "Wahai Rasulullah. Demi Allah, di muka bumi ini tidak ada seorang penghuni tenda pun yang lebih aku sukai agar dihinakan Allah melebihi pengikutmu. Tetapi, kali ini tidak ada seorang penghuni tenda pun yang lebih aku suka agar dimuliakan Allah melebihi pengikutmu." 


Masya Allah. Begitulah dakwah. Mampu membakar habis kejahiliyahan yang bahkan telah berkarat puluhan tahun lamanya. Memuliakan manusia yang semula terhina. Meninggikan derajat seseorang tanpa peduli kedudukannya di mata manusia. Bilal bin Rabbah, seorang budak hitam legam tak berharga di mata manusia menjadi mulia tersebab dakwah. Bahkan terompahnya lebih dulu sampai di surga sebelum ruhnya tenang di sana.

.

.

Jadi, kata siapa bicara dakwah sekedar bicara tanpa action semata? Kata siapa dakwah tak miliki kontribusi besar bagi perubahan kehidupan manusia? Bahkan singgasana kuasa para raja dan pemimpin kabilah pun bisa guncang karenanya. Tak ada sama sekali peran fisik dalam perubahan Negara dan masyarakat Madinah yang digawangi oleh Rasulullah SAW. Semua bermula dari lisan berisikan kalam indah sang pencipta saja.

.

.

Hingga Sa'ad bin Mu'adz sang penguasa justru dengan sukacita memberi kuasa pada Sang Nabi tuk jadi kepala negara. Melalui lisan Mus'ab bin Umairlah iman mengalir di setiap aliran darahnya. Menjadi pijakan kokoh yang rubah segala pikir, rasa dan tingkah lakunya. Hingga semua bermuara pada ridho Allah semata. Berpijak dalam rel hukum syara' yang kan ridhoi setiap langkahnya.

.

.

Lantas untuk apa ada penjegalan dakwah jika memang bicara dakwah tak mampu rubah wajah dunia? Untuk apa ada ketakutan besar penguasa pada geliat dakwah jika tak berpengaruh mengguncang singgasana dzalim para pemegang kuasa?

.

.

.

Maka, orang yang akal dan hatinya belum tersentuh dakwah. Belum berada di barisan pejuang Islam, takkan pernah bisa mengerti. Bagaimana setiap pengembannya kan rela melakukan hal mustahil sekalipun dipandangan manusia. Hanya dengan berbekal Iman pada janji Allah dan Rasul-Nya semata. Berjalan dengan teguh dengan bahan bakar iman yang terus menyala. 

.

.

Mereka takkan mengerti bagaimana dakwah bisa terus menggelinding besar tanpa dana dari asing ataupun pemerintah. Tanpa kartu anggota dan keuntungan duniawi para anggotanya. Mereka tak mengerti bahwa setiap pejuang Islam telah disatukan pemikiran, perasaan dan aturan dengan ikatan yang sama. Ikatan aqidah dan mabda yang buat mereka rela menjual jiwa, raga, harta dan seluruh hidupnya hanya untuk Allah Azza wa Jalla.

.


Sudahlah. Buka hati kalian sedikit saja. Biarkan cahaya iman itu menelusup hangat dalam jiwa. Biarkan telinga, akal dan hati itu sesaat saja terbuka. Semoga kalian pembenci dan penghalang dakwah Islam kelak kan berubah menjadi generasi Umar Bin Khattab abad millenial. Agar kelak kalian bisa rasakan. Bahwa tak ada kenikmatam tertinggi selain islam. Tak ada jalan terbaik selain jalan perjuangan Islam. Hingga kalian ingin selalu setia di jalan ini. Jalan dakwah yang membuat Rasulullah dan para sahabat bercucuran keringat, air mata, darah, namun tak pernah kehilangan mata air bahagia. Justru ingin selalu setia hingga ajal tiba. Hingga surga menjadi tempat terbaik melepas lelahnya menggenggam bara uji dunia.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!