Thursday, May 31, 2018

DI JALAN DAKWAH KU INGIN SETIA ( PART 3)



Oleh: Ratu Ika Chairunnisa


Sepuluh tahun sudah diri ini tercelup dalam warna indah jalan dakwah. Berjumpa dengan orang-orang istimewa. Yang saat melihatnya keyakinan itu semakin membara. Surga pun nampak dekat di pelupuk mata. Gulana masalah pribadi hilang seketika. Berganti fokus dengan masalah umat yang jauh lebih banyak harusnya menyedot perhatian kita.


Islam mulai mengalir di setiap aliran darah. menghembus dalam setiap desahan nafas. Terpancang mengakar dalam jiwa. Yang terbayang, terpikir, terasa dan selalu ingin teraplikasi dalam tingkah laku hanyalah Islam, Islam dan Islam saja.


Aah, aku tak pernah terbayang bisa merasakan perasaan yang begitu dalam. Memikirkan masalah umat yang jauh lebih hebat. Membuat setiap detik waktu sesak dipenuhi dengan pikiran bagaimana agar Islam bisa dirasakan oleh seluruh manusia di dunia. Agar kaum muslimin segera kembali ke pangkuan syari'at Islam saja.

.

.

Hatipun dijejali dengan kerinduan yang kian mengangkasa. Pada sang Khalifah yang jadi perisai bagi seluruh umat muslim di dunia. Ingin berada di belakangnya tuk bebaskan Palestina, Rohingya, Suriah dan Negeri Muslim lainnya, walau bukan dengan memanggul senjata, karena aku wanita.

.

.

Rindu yang terus menggelegak akan terapnya aturan Islam di seluruh sisi kehidupan. Rindu nyanyian ketaatan yang digemakan di seluruh alam. Rindu kibaran Al Liwa dan ar rayah yang berkibaran lantang penuh wibawa. Gentarkan sesiapa yang coba menelanjangi mulianya Islam, ulama dan kaum muslimin seluruhnya.

.

.

Dan dari perantara HTI lah rasa itu ada. Darinya terbuka jelas mata, hati, pikiran yang selama ini terpasung jeratan sistem sekuler kapitalisme nan menyiksa. Lepas sudah ikatan kufur yang buat diri tak mampu menyembah Allah selain pada ibadah ritual Semata. Aku terbebas. Bebas dari penghambaan kepada dunia yang memenjara. Aku merdeka. Dari kungkungan nafsu yang terus berpacu. Dan aku bahagia. Saat dengannya Allah selalu yang jadi nomor satu. Saat Allah yang selalu jadi sandaran sehebat apapun masalah yang membeban. Saat dakwah lah yang jadi poros berputarnya setiap detik kehidupan.


Karena HTI jua tujuan hidupku berubah seketika. Aku yang dendam dengan kejamnya dunia, dulu begitu berhasrat Ingin buktikan bahwa kelak aku pun bisa merengkuhnya. Membalas dengan menjadi orang yang juga banyak harta. Bisa membeli harga diri agar tak mudah dicaci.


Tapi itu semua salah. Darinya ku tahu, bahwa  kita hanyalah seorang hamba. Tugas kita adalah beribadah total pada Allah Sang Maha Pencipta. Bukan lagi sekedar mencari harta, tahta, dan kesenangan dunia. Allah SWT berfirman:


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)


Aku sadar dunia teramat singkat. Hanya sekedar tempat persinggahan tuk raup pundi-pundi pahala saja. Ia bukanlah tempat tinggal kita sebenarnya. Ia hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Bukankah setiap permainan hanya sesaat saja? Selalu ada akhir dari sehebat apapun permainan yang tercipta. Jika games biasa kita punya nyawa 3 kali hingga game over tiba, namun tidak dengan dunia. Ia hanya satu kali saja. Tak dapat terulang. Tak bisa mundur ke belakang. Maka, rugi dan bodoh sekali jika habis seluruh waktu n energi kita tuk pertahankan permainan nan singkat. Lupa dengan kenikamatan negeri akhirat yang  kekal dan jauh lebih memikat. 


Allah berfirman:


"Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" [al-An’âm/6: 32]


Imam al-Alûsi rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah semua perbuatan yang dikhususkan hanya untuk kehidupan dunia ini seperti main-main dan senda gurau, yaitu tidak bermanfaat dan tidak tetap (kekal). Dengan penjelasan ini, sebagaimana dikatakan oleh banyak ulama’, amal-amal shalih yang dilakukan di dunia ini tidak termasuk (main-main dan sendau gurau), seperti ibadah dan perbuatan yang dilakukan untuk kebutuhan pokok dalam kehidupan.” [1]


Dari tujuan hidup inilah dengan mudah pemikiran cabang pun ikut berubah. Bahwa konsekuensi iman tak hanya sekedar percaya. Namun juga harus terikat pada seluruh aturan Allah dengan penuh kesadaran. Menghamba pada-Nya dalam seluruh dimensi kehidupan. Darinyalah lahir ketenangan yang tak mampu tergantikan meski dengan sebanyak apapun harta dalam genggaman.


Aah. Yang pasti ku ingin terus setia di jalan ini. Bersama kalian sahabat perjuangan. Meski kintribusi diri hanya seperti  sebutir pasir yang tak nampak besar oleh mata. Biarlah. Biarkan aku terus ada dan memahat catatan sejarah. Bahwa aku pun pernah dan terus menjadi bagian dari pejuangnya hingga kemenangan Islam itu tiba. Atau kematian yang justru lebih dulu menyapa.


Bersambung




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!