Wednesday, May 30, 2018

DI JALAN DAKWAH KU INGIN SETIA (PART 1)

Oleh: Ratu Ika Chairunnisa


Dakwah adalah kata ajaib yang darinya mampu rubah sepongah apapun dunia. Ya, bukan hanya individu yang mampu berubah karenanya, namun sebuah peradaban dzalim pun bisa tercerabut akarnya hingga tumbang tak bersisa. Lihatlah Mekah yang angkuh dengan jeratan tradisi jahiliyah. Gunakan segala kuasa tuk padamkan nyala dakwah. Namun justru api dakwah tak sedikitpun padam. Ia terus berkobar. Bertambah besar. Membakar setiap kedzoliman yang mengangkangi dunia. Melahap setiap kebatilan yang memimpin peradaban manusia.


Mekah pun takluk. Persia berhasil dirobek-robek kekuasaanya. Membesar mulia bersama Islam. Romawi pun tak dapat menahan pancaran cahaya yang terus menelusup hangat ke seluruh penjuru. Romawi Timur ikut larut menjadi digdaya bersama Khilafah Islamiyah. Memimpin dunia dengan aturan Islam yang jadi rahmat bagi seluruh alam. Muliakan manusia tanpa memandang harta, tahta, agama, suku, bangsa dan identitas lainnya. Melebur. Syahdu dengan ketentraman aturan Rabb semesta alam. 


13 abad lamanya dunia menjadi saksi bahwa keadilan itu nyata, bukan slogan opini pembunuh semata. Toleransi itu mewujud indah, dengan tanpa melemahkan aqidah, atau sekedar wacana omong kosong belaka. Kesejahteraan merata bisa dengan mudah terlihat oleh mata. Aroma kehebatannya terus mewangi hingga kini.  Dan semua takkan terjadi tanpa adanya dakwah.


Dakwahlah yang membuat penguasa Madinah rela menyerahkan kuasanya pada Rasulullah SAW. Dakwah yang membuat seluruh penduduk Madinah rela dipimpin oleh aturan Islam saja. Rela menyerahkan seluruh jiwa, raga, harta, dan semua yang mereka punya tuk Islam dan kaum muslimin Mekah yang baru berhijrah. Dakwah yang membuat suku Aus dan Khazraj tak lagi terpasung oleh ikatan kesukuan jahiliyah. Dakwah yang membuat semua menjadi sama atas dasar ikatan aqidah. Dakwah yang menjadi nyawa Islam hingga terus hidup di seisi semesta. 


Dari dakwah pula aku seolah baru terlahir kembali ke dunia. Baru mengenal dengan benar arti diri dan kehidupan yang sebenarnya. Benderang semua kebenaran yang semula samar. Jelas semua kebatilan yang berhiaskan kemilau perhiasan dunia. Duniaku hidup. Terbakar. Bersama panas mabda Islam yang terus paksa sebarkan nikmatnya Islam ke seluruh alam. Bahagia tak terkira yang terus ada. Tak peduli halang rintang yang menghadang sepanjang jalan. Yang ku tahu, aku tetap dan terus bahagia saat Allah dan aturan-Nya yang selalu dimenangkan.


Karena dakwahlah ku tahu bahwa beriman tak cukup sekedar karena keturunan. Beriman tak hanya butuh bekal perasaan. Beriman butuh diawali dari proses berfikir tentang alam semesta, manusia dan kehidupan. Hingga keyakinan lah yang terus mengakar. Kokoh. Karena banyak bukti nyata jika mau sejenak memperhatikan proses penciptaan. Bahwa Allah lah satu-satunya dzat yang maha menciptakan. Ia tak serupa dengan makhluk. Ia azali. Kekal. Kuasanya sempurna tanpa cela. Allah lah al-Khaliq. Sekaligus Al-Mudabbir.


Ya, Allah bukan sekedar Sang Pencipta yang kemudian membiarkan kita makhluknya bertebaran sesukanya di rimba dunia. Hingga tersesat atau diterkam binatang buas dan binasa.


Allah Maha baik. Ia lengkapi kita dengan seperangkat aturan yang sempurna melingkupi setiap inchi hidup kita. Hingga tak ada masalah kecil dan besar yang luput dari aturan-Nya. Ia berikan guide dengan cuma-cuma tanpa biaya. Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW adalah guide terbaik yang kan tunjuki kita pada jalan mulia agar selamat di dunia hingga memijak indah Surga.

.

.

 Bayangkan, jika menyewa tour guide beberapa hari di tempat wisata yang asing bagi kita saja butuh biaya tak sedikit. Apalagi untuk menyewa guide seumur hidup kita. Sepanjang masa. Seumur usia.Tapi masya Allah. Allah berikan semuanya cuma-cuma tanpa biaya.

.

.

 Allah turunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk terbaik yang tak pernah alpa. Allah hadirkan Rasul sebagai contoh teragung penerap Al-Qur'an juga sebagai guide lebih rinci yang masih umum di dalam Al-Qur'an. Rasul buktikan bahwa dengan menerapkan segenap aturan-Nya hanya hasilkan kebaikan bagi seluruh alam. Hanya hadirkan ketentraman bagi seluruh penduduk bumi tanpa terkecuali. Bukan sekedar uji coba yang hasilkan mala praktek semata. Rusak fitrah manusia dan peradaban yang menaunginya.


Ya, semua karena dakwah. Hingga buatku sadar betapa angkuhnya manusia yang tak mau diatur oleh aturan-Nya. Mengagungkan Allah saat ibadah. Tapi menghinakan-Nya dengan menginjak syari'at-Nya yang mulia. Katakan ia tak sesuai dengan zaman. Lantangkan suara bahwa ia kan memecah belaka Negara. Menganggap diri lebih kuasa tuk atur urusan kehidupannya. Batasi wewenang Allah SWT hanya terpenjara pada urusan ritual semata.

.

.

Heey bukankah Allah tak berbatas kuasa-Nya?  Alangkah kerdilnya jika hanya terbatas mampu urusi ritual semata. Abai dengan kehidupan publik yang justru darinya banyak lahir kerusakan individu, masyarakat dan negara. Apakah masih ada secuil iman pada Allah di hati kita? Mengapa sulit sekali percaya bahwa Allah yang lebih berhak mengatur kehidupan manusia, dan seisi alam semesta?




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!