Wednesday, May 23, 2018

Cinta yang Sempurna


Oleh : Arinta Kumala Verdiana


Bicara tentang cinta, tak kan pernah keluh bibir kita merangkai untaian aksara yang membuat teduh. Tak akan kering lisan kita menjalin kata hingga lembar cerita beriring-iring. Ibarat hujan yang sejuk membasahi bumi, menyemai cinta nan bersemi. Penuh warna dan pesona, seindah lengkung pelangi yang tak tertandingi.


Apalagi jika kita berbicara tentang cinta yang sempurna. Siapa yang berani mengklaim dirinya punya cinta yang sempurna ?. Saya rasa tidak ada yang punya cinta yang sempurna di dunia ini. Cinta manusia selalu bercela. Meski kata selalu manis bak gula-gula, dan rasa di dada membuncah dan menyala-nyala. 


Hanya satu yang memiliki cinta yang sempurna. Dia-lah Rabb kita tercinta. Allah Sang Penggenggam jagad raya. Kita bisa merasakan buktinya dengan lukisan cinta-Nya di ‘kanvas’ alam semesta. Dia telah menciptakan alam raya beserta segala isinya dengan begitu sempurna. Dan telah mengaturnya pula dengan sempurna. Lihat saja tubuh kita. Begaimana keteraturan yang sempurna menunjukkan kekuasaan-Nya. Jantung yang senantiasa berdetak. Memompa aliran darah ke seluruh tubuh kita, dengan mekanisme kerja yang luar biasa. Hanya dalam hitungan menit mengirim darah melalui pembuluh darah sepanjang kita mengelilingi bumi 2,5 kali putaran.  Itu hanya satu contoh bukti kebesaran-Nya. Bukti kesempurnaan cinta-Nya. Selautan tinta pena mungkin tak akan cukup menggoreskan tentang cinta-Nya yang sempurna.


Cinta-Nya yang sempurna juga bisa kita rasakan dari pengaturan-Nya kepada kita manusia. Yaitu berupa syari’at yang mengatur seluruh aspek kehidupan kita. Mulai dari aturan yang berkaitan langsung dengan Allah (ibadah mahdhoh) seperti sholat, zakat, puasa, haji, lalu aturan yang berkaitan dengan diri kita sendiri seperti aturan berpakaian, aturan tentang makanan dan minuman dan akhlak, hingga aturan yang berkaitan dengan manusia yang satu dengan manusia yang lain seperti sistem ekonomi, pendidikan, hukum, pemerintahan, dan lain-lain. Sungguh sangat keliru jika kita berpikir bahwa syari’at-Nya mengekang kebebasan manusia. Justru syariat-Nya adalah bentuk cinta-Nya yang sempurna yang akan memuliakan kita di dunia maupun di akhirat.


Yang perlu kita tanyakan pada diri kita sekarang adalah: apakah kita sudah berusaha membalas cinta-Nya yang sempurna. Meskipun sebesar apapun kita berusaha tak akan mampu untuk membalas besarnya cinta Allah swt kepada kita. Kalau kata Raihan (group nasyid dari Malaysia) “Harga selautan syukurku, hanyalah setitis nikmatmu di bumi”. Betul kan ?!. Tapi sebagai bentuk rasa syukur kita kepada-Nya, sudah menjadi suatu keharusan untuk berusaha membalas cinta-Nya.


Pertanyaannya, dengan apa kita membalasnnya ?. Sangat sederhana. Yaitu dengan mencintai-Nya juga. Bagaimana kita mencintai-Nya ?. Sebagaimana dalam firman-nya “Katakanlah “jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (TQS. Ali Imron [3]: 31-32). Jadi untuk mencintainya cukup dengan menta’ati syari’at-Nya. Karena memang itulah tugas hamba. Menta’ati syariat-Nya secara menyuluruh. Tanpa pilih dan pilah ya. Bagaimana, siap untuk membalas cinta-Nya yang sempurna ?. Harus siap dong !.




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!