Tuesday, May 29, 2018

Bagaimanakah Lukman Mendidik Anaknya?


Dalam perkara pendidikan anak, Lukmanul Hakim adalah salah satu contoh teladan yang disebutkan di dalam al-qur’an. Mohon penjelasan, siapa sebenarnya Lukmanul Hakim serta bagaimana beliau mendidik anaknya?


JAWABAN:


Lukmanul hakim adalah Lukman ibnu ‘Anqa’ ibnu Sadun. Beliau adalah seorang budak, penggembala kambing, berperawakan kurus, berkulit hitam, berhidung pesek dan berkaki kecil. Akan tetapi orang-orang senang bercakap-cakap dengan beliau, karena kalimat-kalimat yang beliau ucapkan senantiasa bermakna, penuh hikmah.


Itulah kemuliaan yang dianugerahkan Allah kepada Lukman. Firman Allah dalam surat Lukman (31) ayat 12 “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."  


Anugerah hikmah yang dimiliki Lukman inilah, yang membuatnya digelari al-Hakim. Hingga ia dikenal dengan sebutan Lukmanul hakim.


Suatu ketika ada yang bertanya tentang apa yang membuatnya memiliki hikmah. Maka Lukman pun menyebutkan hal-hal yang ia lakukan. Ia menahan pandangan, ia menjaga lisan, ia memperhatikan makanan yang ia makan, ia pelihara kemaluannya, berkata jujur, menunaikan janji, menghormati tamu, memenuhi tetangga dan meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat. Inilah sosok Lukmanul Hakim yang patut kita contoh.


Adapun bagaimana Lukman mendidik anaknya? Surat Lukman (31) ayat 13-19 menggambarkan potretnya. Menggambarkan apa saja yang diajarkan Lukman dan bagaimana cara Lukman mengajarkannya.


Ada lima hal yang diajarkan Lukman pada anaknya. Pertama, Lukman mengajarkan pemurnian aqidah. "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." T.Q.S Lukman (31) ayat 13.

Kedua, Lukman menyampaikan wasiat Allah agar manusia berbuat baik (memperlakukan dengan baik) kedua ibu bapaknya. Terutama ibunya yang telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapih selama dua tahun.


Meski demikian, seandainya kedua ibu bapak tersebut memaksa untuk berlaku syirik, dengan tegas Lukman berkata “Falaa tuti’huma” jangan ikuti keduanya. Namun “Shohib huma” bersahabatlah dengan keduanya di dunia ini dengan cara yang ma’ruf. Artinya, boleh melawan kehendak kedua orang tua dalam perkara syirik, namun wajib atas kita tetap mempergauli keduanya dengan baik. Tetap berkata baik, bersikap baik, melayani mereka dengan baik, dst.


Ketiga, Lukman mengajarkan kepada anaknya bagaimana konsep amal seorang muslim. Bahwa seorang muslim harus senantiasa melakukan kebaikan. Sebab kebaikan sekecil apa pun, sekalipun tersembunyi di dalam batu, tersimpan di langit dan terpendam di dalam bumi; Allah akan membalasnya. Karena Allah sangat detail dalam mengetahui segala sesuatu.


Firman Allah dalam surat Lukman (31) ayat 16, “(Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”


Tak perlu khawatir, meski kebaikan kita tak tampak di mata manusia dan tak terdengar oleh telinga makhluk-Nya. Karena Allah pasti membalasnya. Begitu luar biasa totalitas amal yang diajarkan Lukman pada anaknya.


Keempat, Lukman memerintahkan anaknya menegakkan sholat, beramar ma’ruf nahi munkar dan bersabar atas apa yang menimpa. Firman Allah dalam surat Lukman (31) ayat 17, “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang besar dan berat (Azmil umur).”


Ada keterkaitan apa dalam tiga perintah ini; mendirikan shalat, amar ma’ruf nahi munkar dan bersabar, hingga Lukman menghimpunnya dalam satu poin nasehat? Surat al-Baqarah (2) ayat 45 menjawabnya. “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu…” Maksudnya jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong wahai orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar. 


Sungguh luar biasa Lukman, ia mengajari anaknya untuk memikul tanggung jawab beramar ma’ruf nahi munkar. Memikul perkara besar dan berat (‘azmil umur). Perkara yang beresiko. Perkara yang memerlukan tekad, ketegaran dan ketetapan hati untuk melakukannya. Perkara yang tidak akan sanggup dipikul kecuali oleh orang-orang yang sabar dan orang-orang yang memiliki kedekatan kepada Allah, memiliki ruhiyah yang tinggi dengan memperbanyak menegakkan shalat.


Kelima, Lukman mengajarkan anaknya berakhlak yang baik. Tidak berlaku sombong, tidak berjalan dengan angkuh dan tidak berbicara dengan keras.


Inilah lima poin penting nasehat Lukman untuk anaknya. Dengan lima poin inilah, karakter seorang muslim dibentuk. Yautu ia hanya menjadikan Allah satu-satunya tujuan, tidak ada serikat. Ia berlaku baik pada kedua orang tua. Ia selalu beramal kebaikan dimanapun kapanpun. Ia kokoh bagai karang dalam menyampaikan kebenaran namun santun dalam sikap keseharian.


Semoga kita mampu seperti Lukman. Semoga anak-anak kita mampu kita bentuk dengan karakter hebat sebagaimana Lukman mementuk karakter anaknya.


Wallahua’lam.


Dijawab oleh Ustadzah Deasy Rosnawati, S.T.P


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!