Thursday, March 22, 2018

Yuk Mengenal Saintist Muslimah!



Oleh: Choirin Fitri R, S.Pd (Praktisi Pendidikan)

Remaja masa kini jika ditanya artis favoritnya pasti langsung jawab tanpa nyontek sana-sini. Tapi, jika ditanya ilmuwan muslim, kebanyakan geleng-geleng kepala. Bukan, karena lupa tapi karena memang
belum tahu alias belum ada yang mengenalkan.

Coba saja tanya! Siapa sih Ibnu Sina, al-Khuwarizmi, Abbas Ibnu Firnas atau saintist muslim lainnya. Kalaupun mereka tahu, berarti mereka remaja istimewa. Atau mungkin sudah tanya si mbah yang pinter itu, mbah google.

Wajar memang jika generasi masa kini jauh dari pemahaman tentang para ilmuwan muslim. Ya, maklum,

selain tidak dikenalkan biografi para ilmuwan muslim ini masih minim yang menuliskannya. Padahal, jika
dilihat dari perkembangan Islam dari masa ke masa banyak melahirkan orang-orang yang berkompeten di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebut saja al-Khuwarizmi. Dia adalah bapak matematika. Dialah penemu angka Nol. Orang barat menyebutnya Algoritma sebagai nama latin al-Khuwarizmi. Kalau tidak ada si bapak yang satu ini, mungkin kita masih akan dibuat pusing dengan angka romawi. Bisa jadi kita pun akan kesulitan menominalkan uang. Angka nol memang banyak sekali gunanya. Iyakan?

Bagi yang suka selfie dan jeprat-jepret sana-sini harus berterima kasih pada Ibnu Haitsam. Kenapa? Beliualah yang meletakkan ilmu dasar optik yang terus berkembang hingga sekarang.

Di bidang kedokteran ada Ibnu Sina. Orang barat memanggilnya Avicena. Ahli bedah juga dipelori seorang muslim, Abu Qasim Al Zahrowi namanya. Masih banyak lagi ilmuwan-ilmuwan muslim yang menorehkan tinta emas di bidang kimia, teknologi, astronomi, fisika, dan lainnya.

Dalam peradaban Islam ternyata tak hanya kaum pria saja yang diberi porsi lebih dalam berbagai bidang. Jika diusut dan dirunut sejak hadirnya Rasullullah ke muka bumi ini akan ditemukan betapa banyak para
muslimah yang menorehkan sejarahnya dengan tinta emas. Mereka bukan muslimah seperti yang dituduhkan saat ini, terkungkung di bilik-bilik rumah. Merekalah para muslimah tangguh yang
mendampingi Rasul, para sahabatnya, dan generasi sesudah mereka untuk menorehkan sejarah emas
peradaban Islam.

Beberapa orang hidup pada zaman Rasulullah. Diantaranya, Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Aisyah
seorang istri Rasul yang memiliki kecerdasan luar biasa. Tak hanya pandai ilmu hadis, wanita mulia ini pun pandai ilmu pengobatan yang ia pelajari dari para perawat muslimah yang hidup semasa
dengannya.


Rufaidah binti Saad al-Aslamy seorang dokter wanita pertama di masa Rasulullah. Ia belajar langsung dari ayahnya dan senantiasa ikut ke medan jihad di bawah kepemimpinan Rasul. Ia memimpin para 
muslimah menjadi perawat orang-orang yang terluka di medan jihad. 

Seorang guru pertama muslimah pun lahir di zaman Rasulullah. Dialah as-Syifa' al-Adawiyah. Tak hanya menjadi guru, ia pun menguasai ilmu medis terutama ilmu kejiwaan dan terkenal sebagai ahli ruqyah.
Selepas kepergian Rasulullah dari dunia ini, kepemimpinan Rasul sebagai seorang kepala negara digantikan oleh para Khalifah sesudahnya. Para wanita pun tetap diberi porsi yang sama dalam hal pendidikan termasuk kemampuan di bidang sains dan teknologi. Akhirnya terlahir para muslimah yang ahli di bidangnya. 

Astrolub, salah satu alat nafigasi saat di zamannya tidak hanya dibuat oleh para pria. Seorang muslimah cerdas bernama Maryam Al Ijliyah juga memberikan kontribusi pada pembuatannya. Yang dikemudian 
hari namanya lebih terkenal dengan sebutan Maryam al-Asturlabi berkat jasanya di bidang alat nafigasi modern ini. 

Zubaidah binti Abu Ja'far al-Mansur pun memiliki peninggalan sejarah yang bisa dilihat hingga kini. Sebagai seorang istri Khalifah, beliau memiliki kecerdasan dan kepekaan sosial yang tinggi. Ketika pergi 
haji dia melihat betapa susahnya kaum muslimin mendapatkan air. Hingga dengan harta pribadinya ia mengumpulkan para ilmuwan dan arsitektur untuk mengsekusi idenya membuat mata air. Mata air itu 
pun berhasil menghubungkan satu kota dengan kota lainnya hingga ke Makkah. Mata air Zubaidah begitu mereka menamainya. 

Perempuan-perempuan mulia di bawah naungan Islam ini tak hanya berkontribusi di bidang sains dan teknologi. Mereka pun berkontribusi melahirkan orang-orang hebat sekelas Ulama, para penakluk negri, 
dan berbagai posisi mulia lainnya. 
So, amat salah jika kaum terpelajar saat ini lebih menjunjung peradaban barat yang terlihat modern. Padahal, seandainya dulu mereka tidak belajar dari peradaban emas Islam, niscaya mereka akan terus 
berada dalam kegelapan.

Remaja muslim harus segera bangkit dari tidur panjangnya. Tak usah terlena dengan tipu daya orang-
orang kafir yang ingin merusak citra Islam. Segera ambil peran dalam barisan kemuliaan Islam sekarang 
atau tidak sama sekali!


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!