Friday, March 23, 2018

Wanita dalam Lintas Peradaban

Oleh : Ainul Mufidah (Anggota komunitas Revowriter )
 


Wanita selalu menjadi sorotan, tak akan habis waktu berbicara tentang persona yang satu ini. Beragam judul novel banyak terinspirasi, ratusan bahkan ribuan episode tayangan dari iklan sampai drama wara wiri di televisi. Kiprahnya dalam kesibukan pun bervariasi, sebagai ibu rumah tanggga, guru, dokter, bahkan menjadi teknisi transportasi yang biasanya di dominasi laki-laki.


Alqur’an pun menyajikan topik wanita dalam banyak ayat dan berbagai surat, Bahkan menjadikannya salah satu nama dari nama-nama surat dalam alquran yaitu surat Annisa yang di dalamnya banyak membicarakan persoalan wanita. Mengisahkannya pun tak cukup tinta satu samudera untuk menuliskan.


Bagaimana sejarah memposisikan wanita?


Dalam setiap peradaban, dimana wanita menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan di dalamnya. Hampir seluruh peradaban yang pernah ada selain islam tak memanusiakan wanita.



Adalah Yunani, bangsa yang terkenal memiliki peradaban dan kebudayaan yang maju pada masanya, menganggap,bahwa wanita adalah makhluk yang bisa diperjualbelikan, mereka tak ubahnya barang yang bisa diperdagangkan. Mereka tidak menganggap wanita sebagai manusia yang harus dihormati. Selain itu, mereka tidak punya hak sipil, hak waris.juga hak mengelola harta, 


Socrates berkata;” Keberadaan wanita merupakan sumber utama bagi kehancuran dunia. Wanita ibarat pohon beracun, luarnya tampak indah, namun ketika burung-burung pipit memakannya,mereka akan mati sekitar”. Bagi bangsa Yunani, wanita adalah makhluk yang rendah gunanya. Hanya untuk menambah keturunan dan untuk pengatur rumah tangga. Aristoteles pernah menulis bahwa pusat segala makhluk adalah laki-laki saja dan jika seseorang melahirkan anak wanita dianggap sangat jelek, bagaikan seorang laki-laki yang pincang setengah manusia. (Thahar, 1982:25)


Tak jauh berbeda dengan peradaban Yunani, wanita dalam pandangan bangsa Romawi, Persia, Cina, India, Yahudi, bahkan Nasrani, memandang wanita sebagai makhluk inferior. Kaum laki-laki dalam masyarakat Romawi mempunyai hak mutlak terhadap keluarganya, layaknya seorang raja kepada rakyatnya. Dia bebas memperlakukan istrinya semaunya. Sampai-sampai dalam keadaan tertentu ia boleh membunuh istrinya. Mereka memperlakuakan wanita seperti pelayan. Kaum wanita hanya dianggap sebagai pemuas nafsu syahwat semata. Bahkan di panggung teater pun menampilkan kontes wanita telanjang. Praktek cabul dan tidak senonoh ini sampai sekarang masih kita saksikan, hanya saja dibungkus dengan lebih modern salah satunya adalah kontes Miss World.


Bangsa Persia memandang wanita sebagai pihak yang boleh dizhalimi haknya dan mudah ditimpakan hukuman berat hanya karena sedikit kesalahan. Apabila kesalahan terus dilakukan malah diperbolehkan untuk menyembelihnya. Apabila datang haid, maka wanita diusir dari tempatnya ke tempat yang jauh dan tidak boleh ada yang berhubungan dengannya kecuali orang yang bertugas mengantarkan makanan kepadanya. 


Setali tiga uang dengan peradaban diatas yang menempatkan posisi perempuan tak ubahnya sebagai budak. Masa sebelum Islam, yaitu masa-masa kehidupan bangsa Arab, dimana pada saat itu wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada para Rasul telah terputus dan kehidupan mereka telah menyimpang dari jalan para Rasul.



Pada masa itu, kaum wanita hidup dalam kesengsaraan, mereka membenci kelahiran anak perempuan. Sehingga diantara mereka ada yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya hingga mati di dalam tanah. Dan ada juga yang membiarkannya hidup namun dalam kehinaan dan kesengsaraan. Mereka tidak punya hak waris, malah ia menjadi warisan suami yang meninggal seperti layaknya harta warisan yang diperebutkan. 


Demikianlah kepedihan, kepiluan dan kesengsaraan kaum wanita sepanjang sejarah di berbagai masa yang jauh dari nilai-nilai Islam.


Perempuan dalam pandangan islam


Sebagaimana disampaikan diawal, islam memiliki perhatian khusus terhadap kaum wanita. Seluruh problematika wanita dikupas tuntas sampai akar-akarnya. Islam telah menempatkan wanita di tempat yang marmuqah (bergengsi) sejak awal kedatangannya. Syariah islam sangat konsisten memperlakukan wanita. Allah SWT menciptakan seorang wanita untuk menjadi seorang ibu dan pengatur rumah tangga. Inilah kehormatan yang wajib dijaga. Islam telah menetapkan hak yang sama bagi wanita sebagaimana laki-laki (QS albaqarah [2]; 228). Tidak hanya itu, Islam pun memuliakan wanita dengan menjamin hak-haknya sebagai manusia, yakni dilindungi kehormatan, akal, jiwa, agama, keamanan, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, termasuk memperoleh hak waris juga menjamin hak berpolitiknya oleh syariah.


Demikianlah islam memandang wanita sebagaimana laki-laki. Jaminan yang diberikan islam kepada wanita secara signifikan akan menjadikan kaum wanita menjadi makhluk mulia, terhormat di hadapan Allah SWT dan manusia.  
Hanya dalam pengakuan serta naungan hukum dan syariat Islamlah seorang wanita memperoleh berbagai kemuliaan, penghargaan, penghormatan, dan perlindungan extra, bahkan secara fulltime dan sangat sempurna.

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!