Wednesday, March 21, 2018

TUMIL


Oleh: Emma Elhira
(Pembina Remaja Ideologis dan Anggota Komunitas Revowriter)


Gaes, pernah dengar kata Tumil..? Istilah baru anak zaman now niih. Tumil sendiri diambil dari kata singkatan dalam bahasa Sunda yaitu “Tukang Mimilu” Jadi “TUMIL”. Sebenarnya dalam kamus bahasa sunda kalian nggak bakalan nemu kata tumil itu sendiri. Karena Tumil adalah bahasa gaul ciptaan anak-anak jaman sekarang. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah tukang ngikutin atau tukang ngintilin, atau sebutan bagi orang yang ke mana-mana doyannya ngintilin orang lain, kemana-mana ngikut. Ada-ada ajah.. Lucu yess..? Tumil yang dibahas disini sii sebenernya yang biasa kita sebut ber tasyabuh. Ngebebek budaya yang selain dari Islam.


Tumil itu sendiri bisa jadi dua sisi mata uang lhoo.. bisa jadi tumil nya kamu malah bikin masuk surga, tapi disisi lain tumil juga yang bisa mengantarkan kamu ke api neraka.. iih.. amit-amit... Semoga tumil nya kita mah ke hal yang baik yaa... Aamiin. Tapi betewe cuman tumil kok sampe bisa ngerjerumusin kita ke neraka sii?, masa cuman ngintilin doang bisa jatuh pada keharaman. Lebay deh. Ga percaya...? Kalo kita Tumil nya pada budaya kufur, kan dosa. Ngikutin budaya dan kebiasaan mereka yang tidak sesuai syariat. Kaya ngerayain hari ulang tahun, ngerayain tahun baru yang bukan tahun barunya umat muslim. 


Tahun baru Masehi, Tahun baru cina, Tahun baru Saka atau sekedar ngucapin nya juga kan ga boleh. Dosa. Biasanya kita justru lebih bangga pada budaya yang datangnya dari peradaban negara kafir. Merasa keren dan kekinian. Gaul dan gaya. Ish.. ga pake banget deh pokok nya.. Atau karena kebiasaan tumil itu, ada juga yang malah terjerumus dengan pergaulan bebas, ngeroko, nongkrong, bahkan sampe pake narkoba. Tuh, gara-gara tumil yang ga sehat.


Padahal Islam udah ngasih rambu-rambu buat kita agar ga kebawa-bawa ke hal-hal yang ga banget. Ga boleh menyerupai orang kafir itu haram jatuhnya. Seperti yang tertera dalam beberapa hadis berikut ini.. Yuk, nyimak...

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ


“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)


Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا



“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Kenapa sampai kita dilarang meniru-niru 
orang kafir secara lahiriyah? 

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

أَنَّ الْمُشَابَهَةَ فِي الْأُمُورِ الظَّاهِرَةِ تُورِثُ تَنَاسُبًا وَتَشَابُهًا فِي الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَلِهَذَا نُهِينَا عَنْ مُشَابَهَةِ الْكُفَّارِ


“Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 154).


Di tempat lain dalam Majmu’ Al Fatawa, beliau berkata,

فَإِذَا كَانَ هَذَا فِي التَّشَبُّهِ بِهِمْ وَإِنْ كَانَ مِنْ الْعَادَاتِ فَكَيْفَ التَّشَبُّهُ بِهِمْ فِيمَا هُوَ أَبْلَغُ مِنْ ذَلِكَ ؟!



“Jika dalam perkara adat (kebiasaan) saja kita dilarang tasyabbuh dengan mereka, bagaimana lagi dalam perkara yang lebih dari itu?!” (Majmu’ Al Fatawa, 25: 332)


Sebagai umat Islam, yang konon katanya umat mayoritas di negara kita Indonesia ini, pandai-pandai lah memilih untuk tumil. Tumil nya kita sebaikanya ke teman yang suka nongkrong di Majelis-majelis ilmu, yang gaul nya sama teman yang bener-bener bisa bawa kita kearah yang lebih postif, bukan positif hamil ya gaes.. jangan salah.. hehe. Bisa merubah kita yang tadinya ga baik jadi mulia, yang tadinya ga kerudungan jadi jilbaban, yang tadinya masa bodo sama urusan umat islam jadi melek politik, yang tadinya ga ngerti banget soal agama jadi lebih baik lagi dalam fastabikul khoirot.


Okeh, pahami tumil mu. Jadilah generasi cerdas yang menjadi diri sendiri, siap menjadi generasi yang akan merubah peradaban. Bukan jadi generasi tumil yang tidak taat syariat.
Salam.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!