Monday, March 26, 2018

Student Loan, Menggerus Masa Depan Bangsa

Oleh : Mala oktavia (Pelajar SMA di Bojonegoro)



Salah satu aspek terpenting dalam hidup adalah ilmu. Setiap orang harus memiliki ilmu demi menunjang kebutuhan karirnya di masa depan. Banyak cara dalam memperoleh ilmu, tapi yang paling mudah dijumpai adalah dengan bersekolah. Dunia pendidikan dengan seluk beluknya membuat siswa berlomba-lomba memasuki sekolah yang menurutnya terbaik. Mampu mengembangkan segala potensi yang dimiliki.

Demi membentuk generasi-generasi yang unggul, diperlukan ilmu yang mumpuni. sekolah-sekolah yang kondusif dan menunjang segala kebutuhan siswa dalam menggapai cita-citanya, tak terkecuali bagi mahasiswa pejuang skripsi. Indonesia, dengan berbagai macam universitas yang dimiliki, menjajakan mutu pendidikan modern dan kualitas bersaing.
Kabar segar pun kini sedang berhembus menyapa calon-calon mahasiswa baru. Jika biasanya calon-calon mahasiswa sibuk mencari beasiswa untuk sekolahnya, kini ada cara lain bagi mahasiswa baru untuk mendapatkan dana penunjang sekolah mereka.

Student loan, begitulah namanya. Modal pinjaman bagi mahasiswa jenjang S1 yang digadang-gadang akan membantu mahasiswa dalam pembayaran sekolah sepanjang ia menempuh pendidikan. 

Pinjamannya pun beragam, mulai dari ratusan ribu, jutaan, hingga puluhan juta pun bisa. Ada yang tanpa jaminan dan ada pula yang dibebankan jaminan.
Sekilas, wacana ini memang membantu para mahasiswa dalam pendidikannya. Tidak hanya dipermudah dalam mendapatkam modal uang, tetapi sistemnya pun ptaktis. Tetapi secara tidak sadar, student loan telah menggiring pada mahasiswa khususnya generasi bangsa terjerat dalam jeratan hutang dan riba.

Ya, memang benar. Sebuah pinjaman seperti ini memang tak pernah lepas dari yang namanya riba, namun sistem kapitalis saat ini membungkus riba seakan hanya sebagai uang sukarela biasa. Padahal apapun bentuk riba, haram hukumnya dalam Isam.

“...dan Allah SWT telah menghalalkam jual beli dan mengharamkan riba...”(Q. S. al-Baqarah/2:275)

Bahkan Rasulullah pun menyebut bahwa yang berdosa atas dosa riba bukan hanya pelaku ribanya saja, melainkan juga yang mencatat dan lain sebagainya seperti hadits di bwah ini.

“Rasulullah mengutuk orang yang mengambil riba, orang yang mewakilkan, orang yang mencatat, dan orang yang menyaksikannya.”(HR. Muslim).

Bila wacana ini memang benar-benar akan direalisasikan, justru hal ini akan menggiring mahasiswa pada riba. Lebih-lebih dalam jangka panjang, hal ini akan membuat mahasiswa terperangkap tunggakan hutang dalam hidupnya. 

Di Amerika sendiri, dimana gagasan ini diusung dan direalisasikan, bahkan di beberapa negara maju yang juga menggunakan sistem student loan, telah merasakan efek negatif yang berkepanjangan. Dimana mahasiswa justru menggunakan fasilitas student loan untuk hidup konsumtif, mereka meminjam dalam jumlah yang besar bukan hanya untuk pendidikan, melainkan juga untuk membeli rumah, pakaian, kendaraan, dan lainnya hanya sekadar memenuhi gaya hidup saja.

Penulis

Hal ini tentunya menyebabkan tunggakan hutang yang dimiliki akan semakin besar, sedihnya hutang ini tak ditanggung sendiri oleh peminjam, tetapi juga negara yang memfasilitasi. Hidup mahasiswa yang meminjam pun ke depannya akan diliputi kesengsaraan, sepanjang hidupnya akan dihabiskan untuk mencari uang demi melunasi hutang-hutangnya yang kian melonjak karena bunga bank.
Sebenarnya, negara mempunyai kewajiban membantu pemuda dalam menyelesaikan pendidikannya, dengan memberikan pendidikan secara gratis pada siswa-siswi sekolah. Tak perlu memberikan pinjaman berbunga yang justru itu akan mempersulit para siswa ke depannya.
Wallahu a'lam bishowwab. 






SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!