Thursday, March 15, 2018

Stop Remaja dari Narkoba



Oleh : Sari Mariana,drg (Praktisi Kesehatan, Komunitas Revowriter) 

Penyalahgunaan narkoba di bumi kita tercinta semakin nyata. Kasus narkoba menjerat siapa saja mulai artis ternama sampai rakyat jelata.Setidaknya terdapat enam artis yang tertangkap sejak Januari-Februari 2018 ini, yakni Jennifer Dunn, Fachri Albar, Roro Fitria, anak pendangdut legendaris Elvy Sukaesih, Dhawiya hingga Rizal Djibran. Nama-nama artis tersebut menambah daftar panjang artis-artis yang terjerat narkoba sejak tahun lalu. Pada Februari 2017, diawali dengan Andika The Titans yang tertangkap karena kedapatan memiliki tembakau gorila. Kemudian pada Maret 2017, Ridho Rhoma menjadi tersangka karena memiliki sabu-sabu. Penangkapan kepada sejumlah artis ini tidak berhenti sampai saat itu saja. Hingga Februari 2018, setidaknya terdapat 15 artis yang tertangkap karena kasus narkoba.(Liputan6.com)

“Artis merupakan public figure, dilihat, dicontoh dan dipanuti, apalagi kalau menjadi idola. Nah, persoalannya sekarang, selebritas rentan penyalahgunaan narkotika, karena mereka tidak mengantisipasi,” ucap Kepala BNN Budi Waseso kepada Liputan6.com di Jakarta, 4 Agustus 2017.
Artis menjadi panutan para remaja. Fans mereka sebagian besar adalah remaja alay yang belum mempunyai pegangan hidup. Penyebabnya sebagian besar karena ketidakharmonisan keluarga, kurangnya kasih sayang dan pergaulan lingkungan yang salah.Tidak mengherankan remaja yang terjerat narkoba semakin banyak. Di Indonesia,dari BNN menyebutkan remaja menyumbang angka 27,32 persen dari total jumlah seluruh penduduk Indonesia yang terdampak Narkoba. Angka yang sangat mencengangkan bukan?

Kita tentu sudah banyak mendengar tentang bahaya yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba. Dari sekian banyak efek yang ditimbulkan, yang sangat berbahaya adalah dapat mempengaruhi kerja otak yang berfungsi sebagai pusat kendali tubuh. Karena bekerja pada otak, narkotika mengubah suasana perasaan, cara berpikir, kesadaran dan perilaku pemakainya. Itulah sebabnya narkoba disebut zat psikoaktif. Ada beberapa macam pengaruh narkoba pada kerja otak. Seperti menghambat kerja otak, yang disebut depresansia, sehingga kesadaran menurun dan timbul kantuk. Contoh golongan opioida (candu, morfin, heroin, petidin), obat penenang (sedativa dan hipnotika) seperti pil BK, Lexo, Rohyp, MG dan alkohol[A&A1] [A&A2] . Narkoba berpengaruh pada bagian otak yang bertanggung jawab atas kehidupan perasaan, yang disebut sistem limbus: Hipotalamus pusat kenikmatan pada otak adalah bagian dari sistem limbus.

Narkoba dapat memacu kerja otak atau disebut stimulan, sehingga timbul rasa segar dan semangat, percaya diri meningkat, hubungan dengan orang lain menjadi akrab, akan tetapi menyebabkan tidak bisa tidur, gelisah, jantung berdebar lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Contoh amfetamin, ekstasi, shabu, kokain, dan nikotin yang terdapat dalam tembakau. Ada pula narkoba yang menyebabkan khayal, disebut halusinogen. Contoh LSD. Ganja menimbulkan berbagai pengaruh, seperti berubahnya persepsi waktu dan ruang, serta meningkatnya daya khayal, sehingga ganja dapat digolongkan sebagai halusinogenika. Dalam sel otak terdapat bermacam-macam zat kimia yang disebut neurotransmitter. Zat kimia ini bekerja pada sambungan sel saraf yang satu dengan sel saraf lainnya (sinaps). Semua zat psikoaktif (narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lain) dapat mengubah perilaku, perasaan dan pikiran seseorang melalui pengaruhnya terhadap salah satu atau beberapa neurotransmitter. Neurotransmitter yang paling berperan dalam terjadinya ketergantungan adalah dopamine.

Dr Idrat dari Rumah Sakit Raden Mattaher (RSRM), Jambi, memaparkan bahwa penyalahgunaan narkotika memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf, diantaranya:
Pertama, gangguan saraf sensorik, di mana ada rasa kebas, penglihatan buram hingga bisa menyebabkan kebutaan. Kasus kebutaan akibat penggunaan narkotika sudah pernah saya temukan kasusnya. 

Kedua, gangguan saraf otonom. Gangguan ini menyebabkan gerakan yang tidak dikehendaki melalui gerak motorik. Sehingga orang yang dalam keadaan mabuk bisa melakukan apa saja di luar kesadarannya. “Misalnya saat mabuk, mengganggu orang, berkelahi dan sebagainya. 

Ketiga, gerakan gangguan saraf motorik. Gerakan tanpa koordinasi dengan sistem motoriknya. “Orang lagi on, kepalanya goyang-goyang sendiri, pengaruh narkotika hilang, baru berhenti. 

Keempat, gangguan saraf vegetatif yakni terkait bahasa yang keluar di luar kesadaran. Tak hanya itu, di otak juga narkotika menimbulkan rasa takut dan kurang percaya diri jika tidak menggunakannya. Dalam jangka panjang secara perlahan bisa merusak sistem saraf di otak mulai dari ringan hingga permanen. Saat penggunaan narkoba, muatan listrik dalam otak berlebihan, jika ini sudah kecanduan, maka lama-lama kelamaan saraf bisa rusak.

 Jadi, perasaan nikmat, rasa nyaman, tenang atau rasa gembira yang dicari oleh pemakai narkoba , harus dibayar mahal oleh penggunanya. Dampak buruk yag terjadi seperti ketergantungan, kerusakan berbagai organ tubuh, berbagai macam penyakit, rusaknya hubungan dengan keluarga dan teman, rusaknya kehidupan moral, putus sekolah, pengangguran, serta hancurnya masa depan dirinya. Mengkonsumsi narkoba secara terus-menerus menyebabkan peningkatan toleransi tubuh sehingga pemakai tidak dapat mengkontrol penggunaannya dan cenderung untuk terus meningkatkan dosis pemakaian sampai akhirnya tubuhnya tidak dapat menerima lagi. Ini yang disebut overdosis yang sering mengakibatkan kematian.

Narkoba telah jelas merusak kehidupan remaja yang merupakan generasi penerus bangsa. Ini tidak boleh dibiarkan dan harus segera dicari solusinya. Islam yang mennjadi agama sebagian besar rakyat Indonesia telah memberikan tuntunan yang sangat jelas bagaimana menanggulangi narkoba. Dalam hadis dengan sanad sahih dari Ummu salamah RA bahwa Rasulullah SAW telah melarang dari segala sesuatu yang memabukkan (muskir) dan melemahkan (mufattir). (HR Ahmad, Abu Dawud no 3686). (Saud Al Utaibi, Al Mausu’ah Al Jina`iyah Al Islamiyah, 1/700). Yang dimaksud mufattir (tranquilizer), adalah zat yang menimbulkan rasa tenang/rileks (istirkha`) dan malas (tatsaqul) pada tubuh manusia. (Rawwas Qal’ahjie, Mu’jam Lughah Al Fuqoha`, hlm. 342).

Haramnya narkoba juga dapat didasarkan pada kaidah fiqih tentang bahaya (dharar) yang berbunyi : Al ashlu fi al madhaar at tahrim (hukum asal benda yang berbahaya [mudharat] adalah haram). (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyah Al Islamiyah, 3/457; Muhammad Shidqi bin Ahmad Al Burnu, Mausu’ah Al Qawa’id Al Fiqhiyah, 1/24). 

Ketika Islam mengatur dengan tegas keharaman narkoba maka Negara sebagai pihak yang berwenang dalam mengatur kehidupan masyarakat harus menerapkan hukum yang jelas kepada pelaku narkoba. Tidak malah dilindungi dan hanya dilakukan rehabilitasi. Jika hanya rehabilitasi maka tidak akan menimbulkan efek yang jera, Buktinya banyak pelaku narkoba ketika sudah keluar dari rehabilitasi kembali lagi kecanduan barang haram ini.

Pemerintah juga mengatur perdagangan luar negeri dengan tegas karena sebagian besar narkoba ini berasal dari luar negeri. Jika pintu masuk ditutup dengan rapat maka tidak ada celah lagi narkoba masuk ke Negara kita. Yang tidak kalah penting adalah penutupan tempat maksiat seperti klub malam, diskotik,yang menjadi sarang peredaran narkoba. Bukan rahasia lagi jika para artis mendapatkan narkoba karena bergaul dalam dunia malam.

Masyarakat punya peran yang besar dalam menanggulangi narkoba. Peran aktif dalam lingkungan dalam mencegah peredaran narkoba merupakan cara yang efektif. Masyarakat segera melaporkan kepada pihak yang berwenang ketika menemui orang-orang yang dicurigai terjerat obat terlarang.        Dan yang tak kalah penting adalah keimanan dari individu masyarakat. Masing-masing individu meyakini bahwa narkoba harus dijauhi karena dilarang oleh Sang Pencipta Allah SWT. Keimanan yang kokoh akan mampu menangkal setiap godaan yang akan menjerumuskan kepada pemakaian barang haram. Keyakinan bahwa Allah akan senantiasa melihat perbuatan hambaNya menjadi tolok ukur dalam melakukan perbuatan. Pendidikan agama di keluarga akan menguatkan keimanan remaja untuk senantiasa menjauhi larangan Allah. Semoga dengan ketakwaan individu, upaya masyarakat, dan peran Negara yang tegas sanggup memberantas narkoba sampai ke akarnya.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!