Friday, March 23, 2018

Selamatkan Remaja dari Gaul Bebas


Oleh : Desi Yunise (Founder Komunitas Ibu Peduli Generasi dan Keluarga-KIPSA ; Anggota Komunitas Revowriter)



Ngeri! Pergaulan zaman sekarang.  Virus gaul bebas makin ganas.  Banyak kasus seolah jadi biasa, pemerkosaan, hamil di luar nikah, aborsi makin menggila.  Tak ada cara lain bila ingin menyelamatkan generasi mendatang, kecuali menghentikan budaya gaul bebas.  Caranya? Gaul ala Islam.  
Kemana anak-anak dulu yang  dalam keadaan suci?  Allah titipkan mereka pada para orang tua, masyarakat dan negara.    Kini mereka terjerumus dalam kubangan syahwat.   Mudah bermaksiat.  Tak takut menuai laknat.  Tak memikirkan adzab di akhirat.  Beginilah potret remaja saat ini yang hedonis.  Jika tak segera diatasi maka negeri ini akan mengalami “loss generation”.


Remaja tak berbeda dengan dewasa.  Itulah dalam pandangan Islam.  Hal ini karena remaja adalah mereka yang sudah memasuki masa akil baligh.  Bagi muslim ia ditandai dengan mimpi basah, sementara  muslimah tandanya dengan menstruasi setiap bulannya.
Agar remaja tak terjerumus gaul bebas.  Ada bekal penting yang harus difahaminya.  Pertama memahami sifat dari naluri seksual yang sedang menggebu-gebu.  Begitu pun mereka harus memahami hukum seputar pergaulan.  


Sifat Naluri Seksual.


Naluri seksual secara alami ada pada setiap manusia.  Baik wanita maupun laki-laki.  Laki-laki dewasa normal ia akan tertarik dengan wanita, pun sebaliknya.  Karena itulah biasanya akan timbul masalah jika tak diatur.  Magnet ketertarikan ini kuat, maka harus diatur.    



Aturan dari Allah SWT akan menjamin interaksi laki-laki dan wanita berjalan dalam koridor syariat dan melahirkan akhlak mulia.  
Naluri seksual  muncul  dalam 2 keadaan.  Pertama,   saat ada fakta yang terindera yang mengarah kepada bangkitnya syahwat.  Contohnya wanita terbuka aurat,  gambar dan tontonan porno, dan sebagainya.  Kedua, adanya “pikiran kotor”  yang berorientasi pada seksual.  Ini bisa dengan membayangkan obyek seksual karena tercetus oleh media.  Oleh karena itu,   faktor faktor yang membangkitkan syahwat bukan pada tempatnya,  harus dicegah.    Karenanya Islam sangat detail dalam mengatur hal ini.  Di satu sisi Islam melarang wanita menampakkan auratnya di hadapan laki-laki non mahromnya, namun mendorongnya untuk tampil menarik di hadapan suaminya.  Ini dimaksudkan agar tujuan penciptaan naluri itu tepat.  Sesuai yang dimaksudkan Sang Pencipta manusia.  Tujuan ini yaitu,  melangsungkan keturunan dalam lembaga suci pernikahan.  Maka dari itu diluar lembaga pernikahan, unsur- unsur yang membangkitkan syahwat harus ditutup rapat sesuai syariat. 

 
Oleh karena itu, para orang tua menjaga anak-anak agar jangan sampai mereka terpapar fakta yang membangkitkan syahwat.  Negara pun sudah semestinya menutup pintu –pintu bangkitnya syahwat dengan regulasi yang tepat.  Harusnya ada larangan khalwat, keharusan tutup aurat, larangan mengedarkan konten porno, media pun harus dikontrol. Semua itu demi menjaga jangan sampai di tengah-tengah masyarakat terjadi kerawanan syahwat. 


Sekumpulan Aturan Pergaulan dalam Islam.


Pergaulan laki-laki dan perempuan harus diatur.  Jika tidak, kerusakan akhlak dan moral yang terjadi.    Generasi penerus peradaban mulia.  Agar meleka tak terjebak dalam gaul bebas, perhatikanlah  dan laksanakanlah hukum-hukum  berikut ini :  


  1. Perintah menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.  Hal ini tercantum dalam QS An Nur: 30:31.  Melihat aurat dengan atau tanpa syahwat hukumnya haram.  Harus memalingkan pandangan.  Terhadap yang bukan aurat  pun, pandangan harus ditundukkan    dengan cara boleh melihat asalkan tanpa syahwat.  Jika mulai bangkit melihat dengan syahwat saat itu juga harus dipalingkan dan ditundukkan. 
  2. Perintah agar laki-laki dan perempuan memiliki sifat taqwa sebagaimana QS Al Ahzab :70.  Taqwa pada dasarnya adalah rasa takut azab  Allah SWT yang melahirkan ketundukan terhadap semua perintah dan larangan Allah SWT.  Taqwa akan menghalangi manusia berbuat maksiat.  Ini pencegahan diri yang paling ampuh.
  3. Perintah  perempuan mengenakan pakaian yang sempurna yaitu jilbab dan kerudung saat di kehidupan publik.  Sesuai perintah Allah QS An Nur : 31 dan QS Ahzab :59.
  4. Larangan  laki-laki dan perempuan untuk berkhalwat satu sama lain.  Khalwat yaitu menyepi hingga tak memungkinkan orang lain bergabung dengan keduanya kecuali dengan izin keduanya.  Khalwat ini merupakan perbuatan rusak.  Kondisi khalwat ini menjadikan keduanya larut dalam pandangan penuh syahwat.  Inilah perbuatan mendekati zina.  Islam sangat melarang keras perbuatan ini.  Sabda Rasulullah SAW : “Janganlah seorang pria berduaan dengan seorang wanita kecuali seorang wanita itu disertai mahromnya.  Karena sesungguhnya yang ketiga adalah setan” (HR Muslim).
  5. Larangan kepada wanita untuk tabarruj , seperti QS An Nur : 60.  Tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan kecantikan  di depan laki-laki asing bukan mahrom.  Tabarruj membuka celah bangkitnya naluri seksual baik bagi laki-laki maupun perempuan.  Tindakan ini akan mendorong laki-laki mengejar wanita tersebab aspek feminitas.  Sebaliknya wanita tercetus mengejar laki-laki karena aspek maskulinnya.  Ini pun akan membuka pintu bangkitnya syahwat bukan pada tempatnya.  Sehingga mengalihkan perhatian  keduanya dari tugas mereka mengemban risalah di muka bumi ini.  Berhias bagi wanita adalah naluri fitri, namun harus tetap dibatasi.  Silahkan mereka berhias sepuasnya di hadapan suaminya.
  6. Perintah agar masyarakat memisahkan kehidupan laki-laki dan wanita dalam kehidupan umum.  Kecuali untuk keperluan yang dibolehkan oleh syara, seperti pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.  Sehingga,  anak-anak harus dibiasakan sedini mungkin agar ia terbiasa bergaul hanya dengan yang sesama jenis, tak biasa untuk bercampur- baur dengan lawan jenis.  Mereka pun dibiasakan untuk tidak mengadakan pertemuan dengan lawan jenis, kecuali ada keperluan yang syar’i.  Ini akan menjadi habits yang secara alami membentuk suasana tidak nyaman saat dalam kondisi campur baur tanpa alasan yang syar’i.  
  7. Larangan bagi laki-laki dan perempuan untuk melakukan segala bentuk perbuatan yang membahayakan akhlak atau merusak masyarakat .   
“Nabi SAW telah melarang kami dari pekerjaan seorang pelayan wanita kecuali yang dikerjakan dengan kedua tangannya.  Beliau bersabda, “begini (dia kerjakan) dengan jari jemarinya seperti membuat roti, memintal  dan menenun” (HR Ahmad).

Apabila hukum-hukum tersebut dilaksanakan, maka laki-laki dan perempuan yang ada di tengah-tengah masyarakat akan bekerja sama (baca :bergaul) secara sehat.  Ini akan menjadikan  pergaulan di antara mereka berjalan dalam koridor kesucian dan ketaqwaan.  Maka gaul bebas bisa diberantas.



SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!