Monday, March 26, 2018

Remaja Penentu Arah Kemajuan Bangsa dan Umat

Oleh : Ummu Enzi (Komunitas Muslimah Peduli Generasi dan Penggiat Revowriter)


Ketika ingin melihat potensi sebuah bangsa, maka lihatlah remajanya. Tentu tidak salah idiom tersebut karena ketika sobat muda remaja tidak menyadari hal ini, maka tentu akan mempengaruhi generasi mendatang menuju keterpurukan. 



Sebagai remaja, maka harus memahami bahwa kelak di tangan kalian lah yang akan mempunya pengaruh besar dalam mengendalikan arah kemajuan suatu bangsa. Maka sobat muda harus mempersiapkan diri membawa perubahan besar ke arah kebaikan dan kekuatan sebuah bangsa. Tentu kesiapan di sini harus ditunjang dengan perilaku dan pemikiran islam yang terhunjam kuat dalam dada sesuai dengan tuntunan Islam.
Ada 2 faktor utama utama yang mempengaruhi perkembangan perilaku remaja, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. 



Faktor internal adalah adalah persepsi dan pemahaman yang dimiliki oleh remaja. Hal yang bisa mempengaruhi persepsi dan pemahamannya adalah keyakinan atau akidah yang diyakini. Seorang remaja muslim tentu harus memiliki akidah Islam yang tertancap kuat dalam benak dan pemikirannya. Dengan akidah Islam pula lah akan bisa menuntun remaja memahami jati diri dan arah perjalanan hidupnya. Dia akan tahu harus kemana melangkah serta memahami konsekuensi setiap pilihan tidakannya karena dia tahu siapa penciptanya. Paham akan ada balasan dari penciptanya bagi setiap perilakunya di dunia. Arah perjalanan hidupnya jelas dan terarah. Dia tidak akan mudah rapuh dan bisa menjaga dirinya dari pergaulan maksiat serta kehidupan hedonis dan materialistis akan dia jauhi. Dengan akidah Islam yang menancap kuat juga akan membuatnya berfikir beribu kali ketika akan melakukan perbuatan dosa. Dia tahu mana perbuatan benar dan mana perbuatan dosa. 
Untuk faktor eksternal, ada banyak unsur yang tercakup di dalamnya, di antaranya adalah pergaulan atau teman, keluarga, masyarakat, dan negara. 



Pergaulan dengan teman sebaya cukup punya pengaruh besar dalam membentuk kepribadian seorang remaja. Rasulullah Saw bersabda: 


 “Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin.” (HR Bukhari)



 “Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.” (HR Abu Dawud).



Keluarga sebagai pondasi awal dalam pembentukan kepribadian remaja tentu juga merupakan benteng kuat untuk melindungi remaja dari pergaulan buruk serta tontonan atau permainan-permainan online yang buruk.
Menjadikan keluarga sebagai sebuah tempat yang nyaman, penuh kehangatan, serta terjalin komunikasi yang baik sehingga setiap anggota keluarga khususnya remaja akan betah di rumah. Dengan komunikasi yang baik dan lancar bisa menjadi pembuka sumbatan permasalahan. Jika ada permasalahan pada remaja, maka akan mudah dideteksi lebih awal. Orangtua bisa mengarahkan pergaulan anak dengan menyeleksi dan memberi bimbingan dengan siapa dia bisa berteman atau berkawan.


Kerjasama dengan pihak sekolah juga akan bisa mengetahui perkembangan serta permasalahan anak remaja. 



Yang tidak kalah penting adalah peran negara dalam membentengi akidah dan pemikiran remaja. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat dan canggih hingga dikatakan dunia dalam genggaman, maka hanya negara lah yang mampu membendung hal-hal negatif yang berbau kekerasan, pornografi, dan hal negatif lainnya. Dengan regulasi dan aturan UU maka arus tayangan bisa disaring dan dicegah jika berbau hal negatif yang bertentangan dengan Islam. Hal ini bisa dilakukan jika negara menerapkan Islam kaffah. Dengan upaya-upaya ini, maka remaja akan terlindungi dari perilaku brutal dan akan menjadi generasi emas penyokong peradaban. 
Lihatlah contoh remaja yang hidup pada jaman Rasulullah! Hasil didikan akidah islam sehingga lahirlah remaja-remaja berkepribadian islam. 



Usamah bin Zaid pada usia 18 tahun sudah diberi kepercayaan memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu. Lalu Sa'ad bin Abi Waqqash (17 tahun) adalah seorang remaja yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah dan termasuk dari enam orang ahlus syuro. Al Arqam bin Abil Arqam (16 tahun) ikhlas menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul Saw selama 13 tahun berturut-turut. Zubair bin Awwam lah (15 tahun) yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Kemudian Zaid bin Tsabit dalam usia 13 tahun telah menjadi penulis wahyu. Dan masih banyak remaja lain yang berprestasi yang hidup sejaman dengan Rasulullah.



Yang tidak kalah berprestasi adalah Muhammad Al Fatih, walau hidup sekitar 500 tahun paska masa Rasulullah, namun kecintaannya kepada Allah dan RasulNya tidak bisa dibantah. Bukti kecintaannnya adalah mewujudkan janji Rasulullah dengan kegemilangannya dalam menaklukkanopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa. Saat itu usia Muhammad Al Fatih masih 22 tahun. Ada lagi Abdurrahman An Nashir 21 tahun. Pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya. 



Apakah kita tidak rindu dengan munculnya remaja-remaja gemilang tersebut pada masa sekarang? Generasi-generasi gemilang berkepribadian Islam pembentuk peradaban gemilang. 

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!