Saturday, March 17, 2018

Pilih Sistem Pendidikan Islam, Kapan Lagi Kalau Bukan Sekarang!



Oleh: Amrina Rosyada (pelajar kelas 11)

                Buat kamu yang masih remaja alias abege yang masih mengenyam bangku sekolah, pasti udah tahu kan berita viral beberapa waktu lalu tentang seorang siswa di salah satu SMA di Madura yang telah membunuh gurunya. Naudzubillah..merinding plus miris banget, Sob, dengernya. Pasalnya, siswa yang masih berusia belasan tahun ini tega menganiaya sang guru. Pak Budi, demikian dia disapa, menghembuskan napas terakhir kala dilarikan ke RS. Padahal, pak Budi  saat itu baru memiliki istri dan sedang hamil 4 bulan. Bermula dari pak Budi yang menegur pelaku karena terus-menerus mengganggu temannya saat jam pelajaran sedang berlangsung. Namun, teguran korban tidak digubris oleh pelaku sehingga pak Budi mencoret pipi pelaku dengan cat lukis. Bukannya tenang, pelaku justru tak terima, kemudian berdiri mencekik dan memukul leher pak Budi. Sang guru pun jatuh tersungkur dan dilarikan ke RSUD Dr. Soetomo beberapa jam setelahnya (www.tribunnews.com).

Mundur dikit ke tahun sebelumnya, tepatnya 17 Juni 2017. Aksi brutal seorang murid di Kalbar berujung benjol di kepala sang guru. Saat pembagian rapor, pelaku tak terima karena tak naik kelas, guru pun jadi sasaran emosi.  Sebuah kursi kayu tak luput jadi senjata penganiayaan. Duh, gaes… miris bin ngenes dengernya. Itu masih dua kasus loh, belum kasus-kasus serupa atau lainnya yang dilakukan oleh anak bangsa ini. Hh.. bener-bener ngelus dada rasanya.

                Kenapa hal itu bisa terjadi? Pertanyaan ini pasti keluar dari pikiran kalian. Bukan hanya kalian, masyarakat pun pasti mempertanyakan hal serupa. Bukan hanya dari kalangan terpelajar, orang yang kurang berpendidikan pun akan bertanya-tanya apabila melihat fakta ini.Kalo  nggak percaya, coba tanya deh sama abang-abang becak yang sering mangkal di deket rumahmu :)

                Sekolah adalah tempat menimba ilmu, tempat bagi para pelajar dididik dengan harapan menjadi insan berilmu dan berakhlak mulia. Kelak mampu membawa perubahan besar bagi bangsa ini dengan ilmu yang ia miliki. Masa depan sebuah bangsa sangatlah ditentukan oleh para generasinya. Namun, jika banyak generasi muda telah mengalami kemerosotan adab dan akhlak seperti saat ini, lantas apa jadinya bangsa kita kedepannya? Seperti kata Ridwan Kamil, “Negeri ini butuh banyak pemuda pencari solusi, bukan pemuda pemaki-maki.”

                Jika sekolah adalah tempat menimba ilmu, lantas kenapa banyak terjadi permasalahan dalam sektor pendidikan negeri ini? Dari sini bisa kita simpulkan bahwa ada sesuatu yang  tidak pas. Hal ini bisa terjadi karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal, yaitu faktor dari pelajar itu sendiri dalam menuntut ilmu. Pelajar jaman now tuh males banget ngerjain sesuatu yang bikin mereka ribet. Tul, gak? Sebaliknya, mereka lebih suka berkecimpung sama sesuatu yang serba instan. Kalo males belajar, ya tinggal nyontek temen sebangku. Kalo males sekolah, ya tinggal ikut audisi pencarian bakat. Syukur-syukur bisa lolos, terus terkenal deh. Dangkal  banget kan pemikiran para pelajar kita?

                Faktor eksternal bisa juga terjadi akibat dari provokasi orang luar atau sistem pendidikan yang ada di sekolah tersebut. Jika mau jujur, sistem pendidikan saat ini telah mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan. Mayoritas lembaga pendidikan jauh dari nilai-nilai tersebut. Apalagi pendidikan kita menjadikan agama hanya sebatas ritual semata. Bahkan memisahkannya dari ilmu pengetahuan. Hmm…tak heran, persoalan adab pun jauh dari jangkauan. Jadinya, murid-murid pinter otaknya tapi tak punya adab. Padahal, adab terhadap guru itu hal yang mutlak alias pakem dalam proses pendidikan karena keberkahan ilmu tergantung adab murid pada guru. Sayang seribu sayang, adab kesopanan kepada guru ini mulai luntur.

                Fokus pendidikan tak lagi untuk meraih keberkahan ilmu, justru biar dapat ijazah untuk cari kerja. Ujung-ujungnya ya dapat duitlah. Kondisi ini seperti yang disampaikan oleh imam Al-Ghazali bahwa orientasi yang tidak menitikberatkan pada agama adalah suatu kebodohan. Jika ingin mencetak generasi hebat di masa depan, maka pengajaran saat ini kudunya juga menitikberatkan pada agama. Bukan malah memisahkan apalagi mengkriminalkan. Nah, loh….!

Pelajar harus sadar, pihak lembaga harus sadar, masyarakat harus sadar. Bahkan, pemerintah pun harus segera sadar agar berbenah dalam sistem pendidikan kita. Semestinya sistem pendidikan yang diterapkan ialah sistem yang mampu membangun konsep-konsep islami. Lagi-lagi kudu mau menitikberatkan pada agama. Bukan hanya sekedar ta’lim atau pengajaran belaka, tapi juga tatsqif, yaitu pembinaan secara intensif yang bertujuan untuk mengubah adab dan perilaku seseorang itu menjadi lebih baik. Walhasil, murid tak hanya mumpuni ilmunya, tapi bagus adabnya.

                Berkaca pada peradaban Islam yang mulia selama 13 abad silam, nyatanya sistem pendidikan Islam mampu melahirkan generasi hebat di berbagai bidang. Mereka memiliki keduanya: adab dan ilmu. Sekaliber Imam Asy-Syafi’i aja pas jadi murid sangat hati-hati (lembut) saat membolak-balikkan kertas di depan gurunya (Imam Malik) kerana segan kepadanya dan supaya nggak kedengeran gurunya.
Bayangkan, membolak-balik kertas aja segan, apalagi sampai main cekik dan lempar kursi ke guru. Nggak bakalan ada perilaku demikian dalam sistem pendidikan Islam. So, ayo beralih pada sistem pendidikan Islam. Kapan lagi kalau bukan sekarang!


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!