Wednesday, March 21, 2018

Perempuan Mulia dengan Islam



Oleh : Dini Prananingrum, ST
(Pemerhati Masalah Perempuan, Pembina Pengajian Keluarga Sakinah Yogyakarta)


Kedudukan perempuan dalam pandangan umat-umat sebelum Islam sangat rendah dan hina. Dalam peradaban Yunani dan Romawi kuno mereka memperlakukan kaum perempuan hanya penikmat dan pemuas nafsu belaka. Suara mereka tak didengar, peran mereka termarjinalkan. Seperti yang diterangkan dalam buku Perempuan dan Kekuasaan (Fauzi, 2002), dikatakan bahwa perempuan sebelum Islam tidak memiliki peranan apapun, ia dirampas haknya, diperjual belikan seperti budak, dan diwariskan tetapi tidak mewarisi, sehingga sebahagian bangsa melakukan hal itu terus menerus dan menganggap perempuan tidak punya roh, hilang dengan kematiannya dan tidak tunduk pada syari'at, berbeda dengan laki-laki


Kini, ketika Islam dicampakkan dari kehidupan, lalu diterapkan sistem kapitalis-sekular, kaum perempuan dirundung keprihatinan. Sejak itu, kedukaan menyelimuti kehidupan kaum perempuan. Mereka tak lagi menjadi pilar peradaban. Namun menjadi tumbal peradaban sistem kapitalis–sekular. Mereka terjajah dan tereksploitasi oleh kerusakan sistem kapitalis-sekular yang dipaksakan dalam kehidupan.
Perempuan tak lagi mulia. Aurat diumbar atas nama kebebasan berekspresi dan eksplorasi diri. Kemiskinan mendera menjadikan mereka terpaksa mengais rezeki sendiri. Penyiksaan, penganiayaan, pembunuhan, seolah menjadi tontonan sehari-hari. Kaum perempuan muslim di dunia tak lagi tinggi martabatnya. Lihatlah bagaimana kondisi perempuan muslim di negeri ini. Angka perceraian meninggi. Isu perselingkuhan seringkali menjadi alasan istri menggugat cerai suami. Kekerasan dalam rumah tangga turut mewarnai tingginya angka perceraian di Indonesia. Keluarga berantakan, anak pun menjadi korban.


Alasan inilah yang kerap kali digaungkan kaum feminis agar perempuan bangkit dari keterpurukan. Padahal, ketertindasan dan kemalangan berkepanjangan yang menimpa mereka disebabkan kehidupan kapitalis – sekular yang menjauhkan agama dari kehidupan.
Jauh sebelum kaum feminis memproklamirkan emansipasi perempuan ala barat, Islam telah lebih dahulu mengangkat derajad perempuan dari masa kehinaan di era jahiliah ke masa kemulian. Semua sama di hadapan Allah, yang membedakan di hadapan Allah adalah yang paling bertaqwa.
Ide kesetaraan gender yang digaungkan kaum feminis bukanlah berasal dari Islam. Ide ini lahir atas respon dari kaum perempuan Barat yang mengalami intimidasi dan diskrimanasi yang mereka alami. Ide ini berkembang mengatasnamakan Hak Asasi Manusia (HAM) yang menyerukan bahwa emansipasi perempuan adalah menyamakan hak dengan kaum laki-laki, padahal tidak semua hak perempuan harus disamakan dengan laki-laki. Kalangan feminis hanya melihat dari aspek penuntutan hak saja, namun menafikkan pemenuhan kewajiban, yang menjadi konsekuensi dari hak-hak tersebut. Contoh konkritnya, perempuan diperbolehkan berkarier, tetapi juga harus memenuhi kewajibannya seperti tetap memakai jilbab dan kerudungnya dalam bekerja dan mengetahui posisinya di berbagai peran lainnya, yakni sebagai istri, ibu dan pengatur rumah tangga. 


Posisi Mulia Perempuan Dalam Islam


Al-Qur’an dan Sunnah memberikan perhatian yang sangat besar, serta kedudukan yang terhormat kepada perempuan baik sebagai anak, istri, ibu, saudara maupun peran lainnya. Begitu pentingnya hal tersebut, secara spesifik dalam Al-Qur`an terdapat satu surah yang membahas banyak hal berkaitan tentang perempuan, yaitu Surah an-Nisā (perempuan), terdiri atas 176 ayat  yang sebagian besar ayat dalam surat ini membicarakan persoalan yang berhubungan dengan kedudukan, peran dan perlindungan terhadap perempuan.


Sesungguhnya Islam menempatkan perempuan dengan berbagai hak, kewajiban dan taklif syariah sesuai pada posisi dan porsinya. Islam mengakui hak perempuan sebagai manusia dengan sempurna sama dengan laki-laki.  


Islam tidak hanya menjabarkan mengenai penuntutan hak saja akan tetapi juga menjelaskan tentang kewajiban-kewajiban merupakan konsekuensi dari hak yang bertujuan untuk memuliakan perempuan itu sendiri.


Kedudukan perempuan sama dengan laki-laki dalam pandangan Allah
Islam menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki punya kedudukan yang sama. Islam datang dengan membawa taklif syariah yang dibebankan kepada kaum perempuan dan kaum laki-laki. Hukum syariah telah menerangkan pemecahan terhadap aktifitas keduanya sejak awal kedatangannya, Islam telah menjadikan perempuan sama dengan laki-laki, ketika Allah Swt mengeluarkan perintah dan larangan kepada Adam dan Hawa, hal itu ditujukan kepada keduanya.
Kedudukan perempuan yang sama dengan laki-laki dalam pandangan Allah dapat dilihat dalam QS. Al-Ahzab : 35, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan kepada mereka ampunan dan pahala yang besar”.


Kedudukan perempuan sama dengan laki-laki untuk memperoleh pengajaran.



Kaum perempuan berhak dan tidak ada larangan baginya untuk mencari ilmu dan menambah wawasannya baik dalam konteks keagamaan maupun keduniaan. Dalam hadits Nabi saw. طلب العم فريضة علي كل مسلم ومسلمة , artinya: “Diwajibkan menuntut ilmu bagi tiap-tiap laki-laki dan perempuan muslim”.(H.R. Al-Thabrani melalui Ibnu Mas’ud). Hadits ini diperkuat oleh firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 122. Hal ini membuktikan bahwa Islam menganjurkan bagi siapa saja termasuk kaum perempuan untuk belajar dan memperdalam ilmunya.
Kedudukan perempuan dan laki-laki sama dalam hal ekonomi dan berkontribusi di tengah-tengah masyarakat. 


Islam memberikan hak kepada perempuan dalam hukum yang menyangkut masalah ekonomi. Allah SWT telah menetapkan bekerja untuk mencari nafkah sebagai kewajiban bagi laki-laki. Sebaliknya bekerja untuk mencari nafkah bukan kewajiban bagi perempuan, namun hanya bersifat mubah (boleh) baginya jika dia hendak mengaplikasikan ilmunya dan memberikan manfaat untuk masyarakat dan negara, dan jika tidak menghendakinya, dia pun boleh untuk tidak melakukannya. Bahkan ketika perempuan memiliki harta yang didapatkan dari bekerja, hibah, mahar ataupun waris, Islam memberikan kebebasan kepadanya untuk menguasai atau menyumbangkan hartanya, sekalipun ia telah berumah tangga. 
Namun Islam juga mewajibkan baginya untuk mendakwahkan apa yang ia ketahui kepada kaum perempuan lainnya jika ia adalah seorang yang ahli dalam ilmu agama. Begitu pula jika ia merupakan seorang yang ahli dalam bidang tertentu, maka ia bisa mempunyai andil dalam urusan tersebut namun dengan batasan-batasan yang telah disyariatkan dan tentunya setelah kewajibannya sebagai istri dan ibu rumah tangga telah terpenuhi.


Pada masa Islam, tidak sedikit dari kalangan perempuan yang memberikan kontribusi besar dan berpengaruh dalam urusan kenegaraan salah satunya adalah Zubaidah binti Abu Ja'far al-Mansur istri khalifah harun al-Rasyid, seorang perempuan cerdas yang memberikan nasehat kepada suaminya tentang masalah–masalah politik dan administratif. Dia diketahui telah memulai sebuah proyek raksasa untuk membangun stasiun layanan dengan sumur air sepanjang rute ziarah dari Baghdad ke Mekkah. Mata air Zubaida yang terkenal di pinggiran Mekkah masih membawa namanya.


Islam Memuliakan Perempuan

Berdasarkan ini semua maka dapat diketahui bahwa Islam sangat memuliakan perempuan, menempatkan pada hak dan posisi yang strategis yang tidak dimiliki oleh laki-laki, bahkan Islam melindunginya dari hal yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Sungguhlah hak-hak perempuan muslimah jauh lebih mulia dari apa yang diperjuangkan oleh kalangan feminis ala Barat.   

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!