Monday, March 26, 2018

Pelangi Yang Tak Dirindui

Oleh: Wati Umi Diwanti*



“Mendung tak berarti hujan.” Maka “pelangi pun tak selalu indah.” Setidaknya itulah ungkapan yang mewakili kondisi yang terjadi saat ini. saat varian warna indah ciptaan ilahi disamakan dengan dengan varian orientasi seksual oleh para LGBT (Lesbi, Gay, Biseks, Transgender). Pelangi tak lagi menawan hati. Justru membuat cemas hati, terutama kami para ibu jaman ini.


Selama ini untuk menjaga anak-anak dari pergaulan (seks) bebas dengan lawan jenis saja para ibu sering menangis. Di rumah dinasehati, di sekolah pun diperingati. Tapi karena lingkungan dan tayangan justru mengilhami bahkan menstimulasi. Maka tak heran masih anak yang terjerumus.


Belum lagi permasalahan lain yang menimpa generasi seperti tawuran, bullying dan narkoba yang terus terus memakan korban. Dengan hanya uang jajan ribuan rupiah saja anak-anak bisa membeli barang haram yang memabukkan ini. Sekarang kecemasan ibu ditambah lagi dengan kehadiran kaum pelangi.


Ibu mana yang rela anak yang dikandungnya susah payah, dilahirkan dengan taruhan nyawa, dibesarkan dengan tetasan keringat bahkan air mata. Berharapa mereka menjadi penerus keluarga. Ternyata tertulari penyimpangan 


Jika dulu para ibu masih bisa merasa aman saat anaknya berteman dengan yang sama gendernya. Karna yang dikhawatirkan hanya gaul bebasnya. Sekarang rasa aman itupun mulai menghilang. Justru menjadi bahaya laten seiring mulai merebaknya penganut LGBT ini.


Jangan Biarkan Ibu Sendiri


Hakikatnya masalah yang menimpa generasi adalah masalah utama sebuah negeri. Apalagi terkait virus LGBT. Dia tak hanya menjadi salah satu sumber utama penyebaran HIV Aids. Parahnya lagi pembiaran komunitas kaum pelangi ini lambat laun namun pasti akan membuat negeri ini mengalami lost generasi. Jikapun mereka berdalih bisa melakukan sewa rahim. Tentu tak semudah itu. Tak akan berimbang dengan angka kematian.


Sehebat-hebatnya seorang ibu tak mungkin bisa mendekap anaknya sepanjang hari sepanjang hayat. Karena anak bukanlah peliharaan yang interaksinya bisa dilokalisasi. Mereka perlu keleluasaan bersosialisasi. Karenanya jangan biarkan ibu berjuang sendiri menghadapi berbagai serangan yang membidik generasi.


Dimulai Dari Rumah


Seisi rumah harus memahami tugas bersama membina generasi. Tidak semua hal tentang anak bisa diserahkan total pada ibu. Khususnya anak lelaki, dia perlu teladan nyata dari seorang ayah atau wali yang menggantikan sosok ayah. Karenanya penyadaran pada kaum ayah pun perlu digalakan. Agar mereka tak lagi menganggap mendidik anak hanya tugas ibu.


Selain mempengaruhi perkembangan anak, kehadiran seorang ayah juga sangat mempengaruhi stabilitas emosi seorang ibu. Dengan adanya sosok lelaki yang bertanggung jawab, secara tidak langsung membuat seorang istri mampu lebih baik memerankan fungsinya sebagai pendidik di rumahnya. Ayah ibarat kepala sekolah, ibulah sang guru. Kebijakan kepala sekolah sangat berpengaruh pada kinerja guru.

 
Ibu dan ayah yang saling bersinergi mampu memberikan warna yang kuat pada karakter kejiwaan anak. Orang tua mampu menjadi panutan dan kawan yang menyenangkan bagi anak. Akan menjadi modal dasar bagi anak saat mulai bersentuhan dengan dunia luar.


Dukungan Masyarakat


Sekeras-kerasnya batu akan berlubang ditetesi air terus –menerus. Demikian juga anak, sebaik-baiknya bentukan orang tua jika lingkungan menetesinya dengan keburukan. Cepat atau lambat pasti akan merubah diri anak. Apalagi jika tetesan kerusakan itu tidak hanya dari satu arah. Bagaimana tayangan televise, gambar-gambar, bahkan kelakuan orang dewasa disekitarnya. Jika dibiarkan dalam kerusakan, dijamin upaya keras para orang tua dirumah akan berujung sia-sia.


Karenanya budaya saling mencegah kemungkaran dan menyeru pada kebaikan harus senantiasa dihidupkan. Jangan biarkan HAM tanpa batasan menjadi benteng penghalang kepedulian sosial yang sejak nenek moyang mewarnai negeri ini. Seperti halnya gaul bebas yang jelas-jelas budaya bablas, karena mulai dibiarkan dengan dalih kebebasan. Lihatlah sekarang para pelakunya tak lagi malu mengaktraksikan kemesraan terlarang di depan umum. Jika LGBT ini juga dibiarkan, suatu hari pasti juga akan menjamur.

 Negara Sebagai Penjaga


Coba kita analogikan dengan kewajiban memakai sabuk pengaman bagi pengemudi mobil. Meski sudah disosialisasikan dan budaya saling mengingatkan sudah digiatkan. Tanpa adanya sanksi yang dikenakan bagi pelanggarnya dijamin masih banyak yang mengabaikan. Padahal sudah banyak contoh kasus banyak korban akibat tak memakai sabuk pengaman. 


Berbeda saat sabuk pengaman tak lagi sebatas anjuran. Ada undang-undang pasti yang menghukumi para pelanggar. Ditambah ditugaskannya para bapak polisi disetiap ruas jalan, otomatis sangat efektif membuat orang mengenakannya. Baik sukarela maupun terpakasa, tidak masalah yang penting mereka terhindar dari salah satu sebab celaka.


Demikian dengan segala jenis pelanggaran yang menjadi sumber kemudharatan. Harusnya memang tidak sekedar berupa anjuran untuk meninggalkan tapi perlu adanya sanksi hukum yang diterapkan. Sanksi yang menjerakan sehingga meberi efek untuk pencegahan. lebih dari itu, perlu sekali ada petugas negara yang dikerahkan untuk senantiasa berjaga, bertindak cepat saat ditemukan kasus pelanggaran.


Dengan demikian fungsi masyarakat sebagai pemberi peringatan tidak akan melompat menjadi penjatuh sanksi. Selama ini masyarakat terkadang menjadi kalap main hakim sendiri karena mereka sudah bosan. Saat nasihat tak diindahkan sementara tak ada petugas yang aktif menindak. Jadilah mereka sudahi dengan cara mereka sendiri. 


Pembiaran terhadap kaum pelangi yang tak dirindui ini tak hanya mengancap generasi tetapi juga berpotensi mengundang masyarakat untuk main hakim sendiri. Karenany hendaknya penguasa negeri ini segera menetapkan hukuman untuk kasus LGBT. Dan sebaik-baik ketetapan hukum bagi manusia tentunya yang bersumber dari Sang Pencipta manusia.

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.” (QS.Al An’am: 57)


*Pengasuh MQ. Khodijah Al-Qubro, Revowriter Kalsel


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!