Thursday, March 22, 2018

Pada Generasi Hebat Ada Rahim Hebat

Oleh : Ulinnuha Khoirunnisa Arofati (Pelajar Kelas XI SMA Bina Insan Mandiri Nganjuk) 


Saya terhenyak saat mendengar ada seorang muslimah yang memvisikan dirinya dalam visi mulia. Sebuah kalimat sederhana namun meninggalkan banyak pengaruh dan pendalaman makna. Bahwa GENERASI YANG HEBAT SELALU TERLAHIR DARI RAHIM YANG HEBAT PULA. 


Kalimat ini maknanya dalam. Hanya dari rahim-rahim yang hebat lah yang akan melahirkan sosok-sosok luar biasa. Sosok yang tak bisa dipanggil sebagai manusia pengecut, manusia tanpa adab atau manusia serba biasa. Dari seorang ibu-lah akan nampak kualitas keturunannya. 


Tersebutlah suatu ketika seorang wanita mulia, ia menjadi wanita dambaan para pria kala itu. Keistimewaannya bersebab nasab yang terhormat dan akhlak yang terpuji saat bergaul, menjadikannya terjodohkan oleh pria luar biasa pula. Ialah Ibunda Aminah, wanita suci yang menjadi ibunda dari manusia paling fenomenal sepanjang masa, Muhammad bin Abdullah.


Lain kisah selepas masa tersebut, adalah seorang wanita dari kabilah Azad- sebuah kabilah Arab murni –yang terpandang sebagai wanita ahli ibadah, berakhlak mulia nan tampak dalam sifat kecerdasannya untuk berani mengingatkan penguasa. Pada suatu ketika wanita tersebut hendak dipinangkan oleh seorang pria yang sangat wara’. Saat sang pria itu hendak dilamarkan dengan wanita tersebut, sang ayah bertanya : 

“Wahai anak muda, maukah kau menikah dengan putriku, putriku adalah seorang wanita yang bisu, tuli dan buta.” 


Mendengar pernyataan itupun sang pria hanya mengiyakan sembari berpikir panjang. Selepas ijab Kabul terucap, sang pria tersebut handak menemui wanita yang menjadi istri sahnya tersebut. Dibukalah pintu kamar, dan tercengangglah lelaki itu. Dijumpainya hanya sesosok wanita cantik tanpa cacat sedang duduk menanti sesuatu. 


Ditanyakanlah pada sang ayah tentang siapa wanita yang menjadi istrinya denga ciri-ciri buta bisu dan tuli tersebut. Sang ayah pun menjelaskan bahwa sang istri pemuda tersebut sekaligus putrinya merupakan wanita yang ada dikamar tadi. Ia pun menjelaskan bahwa maksud perkataan tersebut adalah bisu dari pembicaraatn kotor; buta dari pandangan maksiat; pun tuli dari pendengaran sia-sia. 



Subhanallah. Ialah Ummu Muhammad Bin Idris Asy-Syafi’i. Ummu dari Lelaki sholih yang telah menghabiskan masa mudanya dengan aktivitas berkualitas. Sempurna hafal seluruh isi Al Quran pada usia 7 tahun dan dimintai fatwa agamanya pada usia 12 tahun. Hingga kini kiprah madzhabnya menjadi madzhab paling banyak diadopsi muslim negeri ini, Indonesia, dengan madzhab Imam Asy-Syafi’i.


Kita tak lupa pula dengan kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, bukan?. Seorang khalifah bersahaja yang pada masa kepemimpinannya tak ditemukan seorang penerima zakatpun bersebab kecukupan atas kebutuhan tiap individu rakyatnya. Lantas siapakah wanita agung yang berperan hebat dibelakangnya?
Adalah suatu ketika, khalifah Umar bin khattab berpatroli diam-diam pada malam hari. Telah manjadi kebiasaannya untuk menyamar selayaknya manusia atau rakyat biasa agar sang khalifah dapat menyaksikan pelayanan-pelayanan yang kurang dari para aparatur Negara. 



Khalifah yang saat itu bersama Aslam, kakek Abdullah bin zubair bin aslam tanpa sengaja mendengar percakapan diantara dua orang wanita didalam sebuah rumah yang dilewatinya. 
“wahai putriku campurkanalah air ini kedalam botol-botol susu dagangan kita.”. perintah sang wanita pertama.
“ tidak wahai ibu. Sesungguhnya khalifah kita, Umar telah melarang perbuatan dosa demikian.” Sahut wanita yang berikutnya.
“tapi anakku percayalah Umar tak melihat kita.” 
Kalimat tersebut dijawab hangat oleh sang putri “wahai ibu sungguh jika Umar tak melihat kita, Tuhan Umarlah yang senantiasa menyaksikan perbuatan kita.”


Mendengar percakapan tersebut Umar bin Al-khattab segera pulang dan seraya menanyai putra-putranya. Ditanyakanlah, “wahai putra-putraku diantara kalian siapakah yang ingin menikah.” Lalu Aslam seorang putranya pun mengacungkan diri. “wahai ayah aku belum menikah, nikahkanlah aku dengan seorang wanita.” Kemudian Umar pun menikahkannya dengan wanita anak penjual susu yang ditemuinya malam hari itu. Dari Rahim wanita jujur ini kemudian, lahir seorang lelaki adil, khalifah kaum muslimin; Umar bin abdul aziz salah seoang pemimpin khilafah bani Umayyah.



Ketiga ibu hebat yang telah tercantum tersebut hanyalah segelintir kisah diantara banyaknya ibu hebat yang dari rahimnya terdidik manusia-manusia sholih, bertaqwa nan cerdas dalam pengkritisan.


Rasul Saw telah memberi kabar, rusaknya suatu negri adalah karena wanitanya dan baiknya suatu negeripun bersebab karena wanitanya. Sehingga untuk memperbaiki generasi, yang dibutuhkan adalah wanita-wanita penjagaan kesucian dan kemulian. Bukan wanita biasa yang dibutuhkan yang justru akan menghasilkan kemunduran peradaban islam. 

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!