Saturday, March 17, 2018

ON THE TRACK



Oleh : Laila Thamrin
(Anggota Komunitas Revowriter)

Setiap hari ketika saya berangkat antar anak-anak sekolah selalu disapa dengan penuh sesaknya jalan raya. Masing-masing berlomba agar bisa lebih dulu tiba di tempat tujuannya. Bahkan kadang, tak peduli dengan keselamatan jiwanya dan pengendara lainnya. Ya, julukan kota besar memang menyisakan berbagai persoalan. Dan salah satunya yang pasti nampak adalah kemacetan.

Kemacetan yang menghiasi jalan tiap pagi ini kadang sampai membuat pengendara tak lagi berada "on the track". Mereka melenceng ke bahu jalan, trotoar bahkan bisa menyelusup di halaman-halaman toko yang ada di sepanjang jalan itu. Membahayakan. Tapi ya itulah, asalkan bisa cepat sampai ke tujuan mereka rela saja keluar jalur.

Coba bayangkan, seandainya seorang muslim ingin sampai ke tujuan hakikinya kehidupannya, yaitu surga, tapi harus keluar jalur. Apa jadinya? Mungkinkah sampai? Yang ada malah kehinaan dan penyesalan yang tak terkira akan menyergapnya. Maka beruntunglah orang-orang yang senantiasa hidupnya "on the track". Hidup yang berada di jalur yang ditetapkan oleh Allah Swt. Dan dibimbing oleh Rasulullah Saw. Hidup di dalam jalan Islam yang penuh keberkahan dan kemuliaan. Di dunia hingga mencapai surgaNya.

Kita bisa bercermin pada kisah inspiratif sahabat Rasulullah Saw yang satu ini. Orang yang terkenal berwatak keras dan tegas, namun begitu tunduk ketika dihadapkan pada syariat. Hijrahnya kepada Islam yang berlangsung sangat cepat. Hingga hidupnya menjadi "on the track" sesuai Islam. Semua berkat doa yang dipanjatkan oleh Nabiyullah Saw sebelumnya.  Dialah Umar bin Khattab ra.
 
Awal disebarkan di tanah haram, Islam telah membuat gempar para penduduknya. Lebih-lebih para pembesar Quraisy. Mereka tak sudi Islam sebagai agama baru menggeser agama nenek moyang yang telah berurat berakar. Hingga berbagai daya upaya menghalanginya pun mereka lakukan. Begitu pun dengan Umar bin Khattab.

Namun Rasulullah Saw tak menyurutkan langkah beliau untuk terus menyampaikan Islam. Berawal dari beberapa pengikut, hingga berjumlah mencapai 40an orang. Beliau mengajarkan Islam di Darul Arqom bin Abi Arqom. Meski pengajaran Beliau Saw hanya di rumah tersebut, namun ternyata gaungnya hampir ke seluruh pelosok Mekkah. 

Hingga suatu hari Umar bin Khattab menghunus pedangnya ingin membunuh Rasulullah Saw. Akan tetapi, langkahnya dihadang oleh Abdullah an-Nahham al-‘Adawi. Yang  mengabarkan bahwa adiknya Umar, yaitu Fatimah binti Khattab telah ikut belajar kepada Muhammad, Rasul Allah, sang pembawa agama baru. Betapa kagetnya Umar. Segera dia membelokkan kakinya menuju ke rumah adik perempuannya itu. Dan bersamaan langkah Umar menuju kerumah adiknya, saat itu Khabbab bin Art  sedang mengajarkan al-Quran kepada Fatimah binti Khattab dan suaminya. 

Bergegas Khabbab bin Arts bersembunyi dibalik rumah ketika mendengar derap langkah kaki Umar. Dan Fatimah pun buru-buru menutup lembaran Alquran yang dibacanya. Tapi ternyata, Umar sempat mendengar apa yang dibaca mereka. Umar pun menanyakannya kepada Fatimah tentang apa yang baru didengarnya. Namun Fatimah mengelak. Dia tak mengatakan yang sebenarnya. Hanya mengatakan bahwa dirinya sedang mengobrol dengan suaminya. 

Tapi ternyata Umar murka. Ditendangnya adik iparnya, suami Fatimah hingga terjerembab dan mukanya berdarah. Fatimah pun lari menyongsong suaminya dan berusaha membangunkannya. Umar kalap. Dia pun mengayunkan tangannya ke wajah adik perempuannya, hingga darah pun mengucur dari bibir perempuan ini. Fatimah pun marah dan berkata, “Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”

Umar kaget melihat akibat yang dia lakukan. Dia menyesal telah melukai adiknya. Lalu Umar pun ingin meminta lembaran yang dibaca Fatimah tadi. Fatimah menolaknya. Fatimah mau menyerahkannya asalkan Umar mandi terlebih dahulu, karena Umar masih kafir hingga najis jika memegang lembaran Alquran yang suci. Alquran hanya boleh dipegang oleh orang yang telah bersuci. Umar pun menurut. Keinginan kuat di hatinya tiba-tiba menuntunnya untuk mematuhi apa yang diminta adiknya. Umar pun mandi. 

Setelah mandi, Umar menerima lembaran tersebut. Dia lalu membaca : Bismillahirrahmanirrahim.  Dia pun berkomentar, “Ini adalah nama-nama yang indah nan suci”
Dia terus membaca : "tho-ha" Hingga ayat : “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha : 14).

Seketika Umar berkata, “Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan padaku di mana Muhammad”. Dia sangat takjub dengan apa yang dibacanya. Kemudian Khabbab bin Al Art segera muncul ke hadapan Umar, seraya berkata: “Bergembiralah wahai Umar, aku berharap bahwa doa Rasulullah SAW pada malam Kamis lalu adalah untukmu, beliau SAW berdoa :

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Rasulullah SAW sekarang berada di sebuah rumah di kaki bukit Shafa”.

Masya Allah...seorang Umar yang keras perangainya, bisa takluk dan tunduk ketika mendapat sentuhan ayat-ayat Allah. Olah pikirnya jauh lebih dikedepankannya dibandingkan olah rasanya. Hingga dia tersungkur tunduk pada Rabb-nya.

Umar pun bergegas menjumpai Rasulullah Saw. Para sahabat yang mendampingi Rasulullah pun tegang ketika Umar dengan pedangnya mengetuk pintu. Namun Rasulullah Saw bersikap tenang, dan menyuruh Hamzah bin Abdul Muthollib membukakan pintu. Umar pun masuk dan dia berkata dihadapan Rasul,  "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah."

Gema takbir para sahabat pun tak terbendung kala Umar mengucapkan kesaksiannya. Bahkan suaranya hingga terdengar ke Masjidil Haram. Doa Rasulullah Saw dikabulkan Allah. Umar bin Khattab ra pun menjadi penguat dakwah. Sikapnya yang tegas terhadap orang-orang kafir membuat para musuh-musuh Allah gentar bertemu dengannya. Namun dibalik ketegasannya, dia senantiasa lemah lembut kepada kaum muslimin. 

Hijrahnya Umar bin Khattab adalah sebuah bukti bahwa Islam bisa menundukkan siapapun. Bahkan Islam mendapatkan kemenangan demi kemenangan dengan hijrahnya  Umar bin Khattab ra. Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Kami menjadi lebih kuat setelah Umar bin Khattab memeluk Islam.”

Umar adalah orang yang cakap dalam mengatur strategi perang. Juga sangat pemberani  bertarung di medan perang. Musuh akan lari tunggang langgang jika berpapasan dengan Umar. Bahkan setan pun lari jika bertemu Umar. Dari Aisyah, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar.”

Umar bin Khattab ra juga dikenal sebagai orang yang tegas dalam memegang Islam. Dia tak gentar menindak siapapun yang melanggar syariat Allah. Rasulullah Saw bersabda, "Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar.” (HR. Tirmidzi)

Begitulah, ketika hidup seorang muslim "on the track" atau selalu berada di atas jalan Islam, tentu dia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat. Namun jika dia melenceng sedikit saja, alhasil dia akan mendapatkan kesulitan baik di  dunia dan akhirat. Maka pilihan mana yang akan jadi pilihan kita? On the track  ataukah out of the track?

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!