Wednesday, March 21, 2018

Nenek Moyangku Seorang Bibliomania

Oleh : Muro’ah (Aktivis Akademi Menulis Kreatif)


Rambut klimis belah dua, kacamata tebel dengan buku yang juga tebal-tebal sambil berjalan bergegs. Hanya satu tujuannya, perpustakaan!.


Seringkali adegan tersebut ditemukan dalam film-film atau sinetron remaja.Sebuah deskripsi yang ditanamkan untuk menggambarkan remaja yang suka baca buku. Kutu buku, begitu mereka menyebutnya. Jarang main dan bersenang-senang, bergumul dengan bacaan yang entah kapan selesainya. Cupu!! Kuper!! Akhirnya disematkan pada sang kutu buku.


Menjadi kutu buku adalah hal yang memalukan bagi remaja, karena karakter yang dibangun kontras dengan karakter zaman now. Remaja itu harus gaul, mengikuti perkembangan, stylish, nongkrong di cafe dan hura-hura. Siapa yang membuat karakter kutu buku dan remaja gaul. Tentu saja, mereka yang memiliki kepentingan jangka panjang pada generasi muslim. 


Ah...buruk sangka aja!! Bukan begitu kawan. Ada hubungan antara minimnya minat baca dengan kemajuan sebuah bangsa. Kalau generasinya malas baca bagaimana mereka bisa cerdas, bagaimana mereka punya pengetahuan yang luas dan bagaimana mereka punya pemahaman yang tinggi untuk berkontribusi bagi negeri mereka. Karena itu untuk mengalihkan remaja dari baca mereka membuat beragam cara, mulai dari memunculkan icon remaja gaul di berbagai media, games, dan juga sampai blue film. Mereka racuni otak remaja agar tumpul dan mandul.


Yes, mereka berhasil membuat propaganda. Intinya, jangan sampai jadi kutu buku. Amit-amit deh, gitu kali ya pikiran remaja. Bakal sialan tujuh turunan deh. Ekstrim banget ya jadi kutu buku.

Generasi Bibliomania


Andai remaja tau. Nenek moyang kita bukan seorang pelaut tapi bibliomania. Makanan apa pula itu? Tuh kan, efek gak bersahabat dengan buku. Bahasa keren gini malah gak tau apa artinya. Hehe...peace!! Jadi bibliomania itu tergila-gila dengan buku. Inilah karakter nenek moyang kita alias generasi salafus-shalih. Di antara mereka, ada Ibnul Jauzi yang membaca 200.000 jilid buku. Abu Bakr Ahmad Taqiyuddin yang melahap 700 koleksi buku perpustakaan. Di antara mereka ada juga yang mengulang-ngulang bacaan satu buku hingga 700 kali. 



Bagi kaum muslim buku adalah kawan duduk yang baik. Tak aneh kita akan banyak menemukan warisan hasil karya mereka. Penulis-penulis muslim bertebaran. Misalnya Imam al-Ghazali yang menghasilkan 100 judul buku, Ibnu Sina 267 buku, alkindi 256 buku, juga banyak ilmuwan serta ulama lain yang menorehkan hasil karya mereka dari berbagai bidang.


Sungguh budaya membaca akan menopang sebuah peradaban, membaca dalam arti yang lebih luas juga meliputi proses berfikir akan melahirkan kekayaan pemikiran. Tentu pemikiran yang dilandasi oleh cara pandang hidup tertentu yaitu sebagai hamba Allah.


Kalau aktivitas membaca dijauhi, maka kita akan mudah dikuasi dan dikendalikan orang lain. Gak mau kan? So...cintailah buku dan membaca sejak sekarang. Ingat Joseph Brodsky aja (pengarang rusia) bilang: “ada beberapa kejahatan yang lebih buruk dari sekedar membakar buku. Salah satunya adalah: tidak membaca buku!!


Nah lho...padahal kita sudah jauh hari dimotivasi untuk membaca, bahkan wahyu pertama saja adalah tentang membaca. Yuk ah, kita rengkuh kembali karakter generasi muslim kita sesungguhnya, cinta baca.
Salam literasi.

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!