Friday, March 23, 2018

Nak, Meminjam Itu Bukan Merampas



Oleh: Deasy Rosnawati, S.T.P  (Pengamat Pendidikan, Perempuan, Keluarga, dan Generasi)

Pernah melihat anak-anak bertengkar gara-gara meminjam sesuatu tapi sebenarnya ia merampas? Sering. Dan kebanyakan kita mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya dengan baik, karena kita sendiri kadang kurang cermat dalam memahami faktanya. Bahkan kita kurang paham berbagai hukum syara’ yang berkaitan dengan penjagaan kepemilikan.

Kepemilikan (al-milkiyah) seseorang atas barang maknanya adalah otoritas. Seseorang memiliki otoritas
penuh pada barang yang ia miliki. Ia memiliki buku misalnya; maka ia berhak penuh untuk membacanya, untuk meminjamkannya, untuk menjualnya, bahkan untuk membuangnya. Dimana orang lain tidak memiliki otoritas di dalamnya.

Meminjam artinya meminta kebolehan kepada pemilik barang untuk mendapat manfaat atas barang tersebut tanpa kompensasi. Karena hak peminjam barang hanya pada manfaat, maka peminjam barang, wajib mengembalikan dzat barang yang dipinjamnya dan wajib menjaga keutuhan dzat barang tersebut.

Selain itu, peminjam tidak boleh meminjamkan barang tersebut kepada orang lain, karena ia tidak
memiliki otoritas terhadap dzat barang tersebut.

Bagaimana jika barang yang dipinjam rusak atau hilang di tangan peminjam? Apakah peminjam wajib mengganti barang yang dipinjam? Tidak. Peminjam tidak memiliki keharusan mengganti barang yang dipinjamnya meski rusak atau hilang. Akan tetapi hal ini dikecualikan bila peminjam tersebut berlaku ta’addiy yaitu menggunakan barang pinjaman secara berlebihan (melampaui batas). Atau peminjam tersebut berlaku tafrith artinya tidak bersungguh-sungguh dalam menjaga barang yang dipinjamnya.

Seseorang yang berlaku ta’addiy dan tafrith, wajib atasnya memperbaiki atau mengganti barang yang dipinjamnya. Demikian pendapat  Ali bin Abi Thalib ra.

Adapun mengambil atau menggunakan barang orang lain tanpa izin, dalam islam disebut dalam beberapa istilah. Diantaranya:

Mencuri, adalah mengambil barang orang lain dari tempat penyimpanannya. Muharibah (membegal), adalah mengambil barang orang lain dengan penuh kecongkakan (mukabiroh). Istila’ (mencopet dan menjambret), yaitu mengambil barang orang lain saat orang tersebut lengah. Khiyanat adalah mengambil harta orang lain yang berada dalam amanahnya. Dan ghasb adalah menggunakan barang orang lain tanpa izin.

Semua ini berkaitan dengan perampasan terhadap hak orang lain akan hartanya, dan terkatagori dalam tindakan keharaman.

Dalam konteks pendidikan anak, penting bagi kita memahamkan kepada anak-anak kita akan hal ini. Sejak kapan dipahamkan? Sejak rasa memiliki (Hubbut tamalluk) muncul pada mereka. Biasanya di usia
balita. Pada masa ini, anak-anak cenderung bertengkar satu sama lain kerena berebut mainan.

Ketidakpahaman kita sering kali memunculkan ekspresi yang salah. Misalnya, kita yang keburu emosi,
tidak mencoba mendudukkan persoalan, malah merampas mainan yang jadi rebutan. Atau kita mentolerir kesalahan anak yang merebut mainan hanya karena anak tersebut menangis. Dalam benak kita, anak menangis berarti ia terzhalimi, padahal belum tentu kenyataannya padahal belum tentu kenyataannya.

Ekspresi yang salah tidak membuat kita menyelesaikan masalah dengan baik. Yang ada justru kita mencontohkan pelanggaran syari’at itu sendiri.

Mudah-mudahan, dengan memahami perkara ini, kita jadi mampu bersikap secara tepat. Mampu menahan emosi saat anak-anak bertengkar, mampu mendudukkan persoalan secara tepat, mampu memutuskan perselisihan dengan tepat sesuai dengan syari’at.

Dan mudah-mudahan, dengan memahamkan hal ini pada anak-anak kita, mereka menjadi pribadi-pribadi yang mengerti hak dan kewajiban sejak dini. Dan mampu menghargai hak orang lain dan tidak berlaku zhalim.
Wallahua’lam


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!