Tuesday, March 27, 2018

Muti'ah di Zaman Now, Adakah ?

Oleh : Sunarti Praktisi Kesehatan dan Anggota Revowriter



Di zaman now teknologi membantu dalam berbagai aktivitas. Hadirnya telepon genggam dengan kecanggihan fasilitasnya, membuat manusia bisa menjangkau dunia luas. 


HP berhasil menyambungkan bernagai hubungan, yermasuk pertemanan.  


Tak jarang berbagai kebaikan didapat dari fasilitas ini. Namun tak sedikit pula keburukan berawal dari sini.


Seperti maraknya perselingkuhan yang menghantam tembok keluarga, yang sudah dibangun bertahun-tahun. 


Berbagai kasus perceraian berwal dari HP yang dianggap sebagai penghubung paling cepat dan efektif saat ini. 


Karena kesibukan pekerjaan akhirnya antara suami istri tidak lagi terbentuk keharmonisan yang nyata. Maka pelampiasan dituangkan dengan teman-temannya di dunia maya. 


Kenikmatan Itu Berupa Maksiat. 
Dimulai dengan 'say hello' di halaman fb yang berlanjut hingga ke group-group watshap. 



Perhatian kecil muncul hingga mengarah pada pertemuan secara umum, reuni bersama misalnya. 
Tidak terima dengan bertemu sekali, mencoba untuk ngobrol secara pribadi.


Stimulasi dari hal-hal yang dianggap obrolan biasa, saling curhat, saling menasehati seolah obrolan ringan. 


Dari sini tumbuhlah kepercayaan seolah keterikatan batin terbentuk antara mereka. Dibumbui oleh lezatnya bisikan syaithon. 


Gelora diantara keduanyan semakin ditambah dengan candaan di group sekolah, yang masih mengungkit seputar kebersamaan mereka.  



Yah, laksana satu keluarga. Seolah ada suami istri di dalamnya. Bahkan tak jarang mengedit foto-foto profil dijajarkan laki dan perempuan, layaknya suami istri, kemudian dishare ke group dan dijadikan bahan candaan.  
"Ngeri".


Tidak berhenti sampai di sini, berlanjutlah menjadi rasa saling merindukan dan berharap untuk saling bertemu.


Nggarizah nau' mulai muncul di kepala-kepala yang pemikirannya tidak terbekali dengan dengan ajaran di dalam Sistem Pergaulan Islam. Bisikan syaithon makin kuat.



Tak terkendali hingga menginginkan pertemuan secara pribadi. Dengan alasan bisnis, urusan anak hingga urusan silah ukhuwah.  
"Astagfirullah"


Maka tanpa pikir panjang, seorang wanita di zaman now, biasa mengundang teman-teman prianya untuk datang ke rumah. 


Yang lebih menakutkan, tanpa keberadaan suami atau mahramnya di rumah. 


Seolah tanpa pembatas dalam kehidupan pria dan wanita. Enjoy dengan kebersamaannya, padahal modus dalam benaknya. 


Datangnya maksiat bukan semata-mata karena godaan syaithon, tapi manusia sendiri yang justru mengundangnya. 



Batas pergaulan antara pria dan wanita sudah tidak diindahkan lagi. 
Hal ini tidak hanya terjadi pada orang-orang yang tidak paham dengan Islam saja. 


Tapi juga menimpa pada kalangan yang notabene mereka bersekolah di institusi berlabel sekolah Islam. 


Adakah Mutiah di zaman now ?
Pertanyaan yang sulit dijawab di masa kebebasan sekarang. 



Derasnya arus kebebasan telah menggerus relung-relung hati muslimah.  



Membuat buta hati, hingga kemaksiatan menyentuh tangan-tangan mulianya. 
Disadari atau tidak lambat laun terseret pada kebiasaan yang sudah diterima oleh sebagian masyarakat. 
Perlahan tapi pasti, pemahaman ini terus melaju ke dalam dinding-dinding keluarga muslim. Sementara, di sisi lain, para pelaku kemaksiatan tidak memiliki rasa takut akan hukuman yang diberlakukan. Sistem ganas ini telah membawa muslimah berada pada gelimang dosa. 



Belajar pada Muti'ah ra, penghuni surga yang pertama.


Muti'ah menolak beberapa kali kedatangan Putri Rosulullah, Fatimah Az Zahra, karena belum mendapatkan izin dari suaminya. 



Suatu hari putri Nabi SAW. Fatimah Az Zahra ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., siapakah wanita pertama yang memasuki surga setelahUmmahatul Mukminin setelah istri-istri Nabi SAW.? 



Rasulullah bersabda, Dialah Mutiah.
Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana wanita yang dikatakan oleh Nabi SAW itu tinggal. Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.


Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam.


"Assalaamualaikum ya ahlil bait", salam Fatimah. 


Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita, 


"Waalaikassalaam siapakah diluar?", lanjutnya bertanya.
 


Fatimah menjawab, "Saya Fatimah putri Muhammad SAW".
Mutiah menjawab, "Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta".
Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). 



Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu.
"Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?" tanya Fatimah kaget. 


Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, "Wahai putri Nabi, bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku", jawab Mutiah, menjelaskan. 



Serta merta , tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata wanita mulia. ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.

Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.
Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.


Fatimah merasa semakin tidak enak hati, memikirkan begitu mulianya wanita ini menjunjung tinggi ajaran Rasulullah SAW. dan begitu tunduk dan tawaddu kepada suaminya.

Pada hari yang ketiga, kembali Fatimah bersama kedua anaknya datang ke rumah Muti'ah pada sore hari. Namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangkan, dia terkagum. Muti'ah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai dengan bau yang harum, sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona.
Dalam kondisi seperti itu, Muti'ah mengatakan kepada Fatimah bahwa suaminya sebentar lagi akan pulang kerja dan dia sedang bersiap-siap menyambutnya.Akhirnya Fatimah pulang kembali dengan kekaguman yang tak terperi kepada Muti'ah.


Begitulah Islam mengajarkan pergaulan antar pria dan wanita. Ada batasan tegas, bukan dalam artian merendahkan posisi muslimah, namun dalam rangka menjaga kehormatannya. 

Wallahu alam bisawwab


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!