Saturday, March 17, 2018

Muslimah Setengah Hijrah


Oleh: Ratu Ika Chairunnisa (Penasehat ITP Banten)

Melihat dunia nyata dan dunia maya hari ini, ada yang membuat kita sesak dada dengan beragam problema di dalamnya, namun ada pula yang membuat hati ini berbunga tanda bahagia. Saat melihat antusiasme kaum muslimah untuk berhijrah dan memperbaiki dirinya, rasanya benar-benar membuat diri ini terharu penuh suka cita Bagaimana tidak, pakaian syar'i muslimah kian diburu dan menjadi hal biasa menghiasi pandangan mata. Kajian-kajian keislaman mulai ramai diikuti oleh para pemuda, termasuk di dalamnya adalah kaum muslimah. Pacaran yang sudah melekat menjadi life style anak muda, kini justru mulai banyak yang paham haram dan dosanya, hingga akhirnya berazam untuk tak pacaran sebelum menikah.

 Jadi ingat status ustad felix siauw yang menuliskan bahwa di era digital sekarang ini, hidayah ada diujung jari. Ya, banyak yang akhirnya mantap berhijrah hanya karena sering melihat kajian youtube ustad-ustad ternama, atau membaca beragam tulisan dan meme di sosial media. Waw. Luar biasa sekali bukan? Ini tak ada di masa aku kuliah dulu, dulu meski sudah didatangi berkali-kali, door to door dari satu kosan ke kosan lainnya, masih saja banyak yang sulit menerima Islam. Tapi kini tanpa tatap muka pun, hidayah tetap bisa masuk melalui celah sosial media. Namun ternyata, trend hijrah yang kini ada, menyisakan PR tersendiri bagi para pengemban dakwah, untuk bisa lebih mengarahkan semangat besar mereka agar sesuai dengan aturan Islam yang sempurna. Karena faktanya, banyak muslimah yang hijrah hanya karena ikut-ikutan teman semata, banyak juga yang memakai pakaian syar'i karena sekedar ikut trend dan merasa cantik saat mengenakannya, bahkan ada yang merasa bak princess dengan gamis lebar nan mempesona. Ayoo ngaku siapa yang begini? 😂 Akhirnya susah dibedakan dari penampilannya, mana muslimah yang memang sudah memahami Islam, dan mana yang cuma sekedar ikut-ikutan.

Maka dengan mudah pula kita saksikan, seseorang yang hari ini berhijab syar'i dengan jilbab lebar dan kerudung panjang menjuntai bahkan hingga ke paha, namun esoknya berganti celana ketat dan kerudung tak menutupi dada. Atau berhijab syar'i saat ke pengajian dan ke pesta pernikahan, namun kembali tak syar'i saat bekerja atau jalan-jalan bersama keluarga. Banyak juga yang sudah berhijab syar'i plus bercadar, tapi tak memakai kaos kaki saat keluar, padahal kaki juga aurat sebagaimana aurat tubuh lainnya. Ada yang sudah memakai cadar, tapi masih foto bareng dengan ikhwan, masih campur baur dengan yang bukan mahrom, jalan barengpun dianggap hal lumrah dan biasa. Tak mau pacaran, tapi genit dengan ikhwan, kode-kodean dan chat-chatan meminta perhatian. Atau tak kalah banyak yang sudah terlihat islami, tapi masih bertransaksi ribawi saat berekonomi. Duuh.

Jika diperhatikan, ini karena banyaknya yang berhijrah bukan benar-benar karena kesadaran berpikir yang kokoh, banyak pula yang tak diimbangi dengan rutin mengkaji Islam dan datang langsung ke majlis ilmu, mencukupkan diri saat pakaian telah berubah, tapi ilmu keislaman tak jua mau ditambah. Atau tak sedikit pula yang semangat mengkaji islam hanya saat membahas cinta, jodoh dan nikah, tapi enggan membahas aturan Islam berkaitan dengan ekonomi, politik, sosial, hukum, dll. Walhasil lahirlah fenomena muslimah setengah hijrah.

Ukhti sayang, hijrah memang tak lantas membuat kita sempurna, tak juga membuat kita bebas dari dosa. Tapi ia adalah proses tuk terus belajar dan menerapkan setiap ilmu yang dipunya.Yaa, hijrah memang butuh proses, tapi jangan lupa, setiap proses itu harus juga menghasilkan progres. Jangan sampai berlindung dibalik kata proses tapi nyatanya kita tetap diam tak mau berubah dan melangkah. Sudah merasa cukup saat pakaian berubah ala muslimah, tapi tak diiringi dengan ilmu yang terus ditambah, juga tingkah laku yang semakin dibenah. Karena sejatinya, hijrah tak cukup hanya merubah penampilannya saja, kawan, namun harus juga diikuti dengan rutin mengkaji Islam, berupaya menerapkan semua aturan-Nya, juga ikut serta mendakwahkannya.

Jangan sampai mengaku berproses, namun nyatanya justru menikmati setiap maksiat yang ada. Jangan sampai mengaku berproses, namun faktanya masih nyaman mengikuti nafsu, tak mau tahu saat Allah menyeru. Padahal Allah Swt senantiasa meminta kita orang-orang yang beriman, untuk bersegera dalam taat, bukan menunda-nunda, apalagi nyaman bercumbu mesra dengan maksiat.

Allah SWT berfirman:

وَسَارِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,"
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 133)

Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا ۗ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, Kami mendengar, dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. An-Nur 24: Ayat 51)

Ya, jawaban orang mukmin hanya 2, bukan yang lainnya, yaitu kami dengar dan kami taat. Bukan kami dengar, kami tunda dan pikir-pikir dulu. Maka, apapun ilmu yang sudah didapatkan, tak ada alasan untuk tak diterapkan. Sebagaimana generasi para sahabat yang senantiasa bersegera penuhi setiap perintah Allah dan Rasul-Nya. Saat larangan minum khamr turun misalnya, mereka serta merta memecahkan kendi2 persediaan khamr yang mereka punya, mereka muntahkan seluruh khamr yang sudah mengalir dikerongkongannya, saat itu juga, saat seruan larangan baru saja menggema. Tanpa perlu menunggu esok, lusa apalagi tak jelas waktu tuk melaksanakannya. Itulah iman, selalu tak nyaman jika nafsu yang jadi pedoman. Ia kan terus memaksa diri tuk taat tak peduli ujian hebat terus mendekat. 

Dan Islam adalah agama juga panduan hidup yang sempurna (QS. AL-Maidah:3). Ia adalah jalan hidup dan ideologi yang semestinya menuntun segala pikiran, perasaan juga segenap tingkah laku kita. Ya, ia tak cukup hanya ada saat shalat dan puasa kita saja. Islam juga harus hadir saat kita berinteraksi dengan diri sendiri juga manusia lainnya. Maka sudah semestinya, pergaulan kita hanya bersandar pada ridho Allah semata, bukan sekedar yang penting tak pacaran, tapi asiik campur baur tak syar'i bersama ikhwan, atau labeli ta'aruf padahal isinya sayang-sayangan, sesekali berduaan. Sudah seharusnya, Idola kita hanya lah sosok yang Allah cinta, tontonan kita hanya yang bisa mendekatkan kita pada pencipta, muamalah nya kita hanya yang sesuai dengan syari'at-Nya saja, berpolitiknya kita bukan sekedar seni mencari tampuk kuasa dengan ikatan maslahat dan kepentingan semata, tapi bagaimana ia memenangkan hukum syara' agar Islam yang mampu menjadi landadan Negara, jadi istri nya kita pun menjadi istri yang yang sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dan seluruh detik waktu kita senantiasa berupaya mengikatkan diri dengan aturan-Nya saja.
Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَآ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

Yaa, Allah Sendiri lho yang minta kita masuk islam secara kaaffah. Menyeluruh, nggak setengah-setengah. Kalo nggak kaffah, berarti kita milih ngikutin langkah-langkah syeithan. Iih serem, kan. Pun dengan hijrah. Jangan sampai kita cuma jadi muslimah setengah hijrah. Yang hanya ingin berubah pada perkara yang kita senangi saja. Bisa nggak pacaran, tapi bisnis haram masih dikerjakan, bisa berhijab syar'i saat di kehidupam sehari-hari, tapi tak mampu syar'i saat di tempat kerja karena ada aturan pakaian sendiri. Bisa nutup aurat sempurna tapi nggak mau luangin waktu buat menuntut ilmu agama, atau antusias ikut kajian, hanya saat bahas masalah cinta, jodoh dan pernikahan, tapi ogah belajar fiqih, politik, ekonomi, pemerintaham, dan ilmu-ilmu selainnya.

Padahal Islam itu ibarat tubuh kita yang sempurna, tak bisa kan fokus pada kaki saja, misalnya. Maunya fokus menggerakkan kaki saja, tanpa kontribusi anggota tubuh lainnya, tak bisa kawan. Tanpa perintah otak, kaki tak mungkin bisa bergerak, tanpa badan pun kaki tak bisa berjalan sendirian. Semua anggota tubuh kita saling membutuhkan dan saling menopang. Ia sebuah sistem yang tak bisa terpisahkan. Begitupun dengan Islam, tak cukup hanya diambil bagian yang menyejukkan. Seraya membenci syari'at yang kita pikir menyeramkan. Hingga saat Allah perintahkan kita shalat, kita semangat tuk laksanakan, namun saat Al-Qur'an memerintahkan wajibnya Qishosh, kita katakan itu tak lagi sesuai dengan zaman. Astaghfirullah.

So, yuuk sempurnakan hijrahmu, hijrahku dan hijrah kita. Agar bisa menjadi muslimah yang seutuhnya, muslimah yang menjadi sebaik-baik perhiasan dunia, dengan keimanan yang kokoh tak tergoyahkan, juga ketaatan yang tinggi menjulang. Jadilah duta Islam terbaik, yang saat melihat pakaiannya orang lain bisa melihat Islam disana, saat mendengar tutur kata dan pemikirannya orang bisa semakin tahu bagiamana indahnya Islam sebenarnya, dan saat melihat perbuatannya orang lain bisa tahu bagaimana Islam sempurna mengatur setiap inchi kehidupan pemeluknya. Maka, jangan cukupkan diri menjadi muslimah ala kadarnya, atau sekedar puas menjadi muslimah setengah hijrah. Yuuk semangat berburu ilmu Islam dengan rasa haus tiada tara, hingga tak pernah merasa cukup dan sombong atas setitik ilmu yang baru dipunya, agar setiap detik waktu kita hanya dihabiskan untuk berburu ilmu dan pahala semata, dan berupaya menyebarkannya ke seisi semesta, agar keindahan Islam bisa kembali tegak menjadi pemimpin peradaban dunia. Semoga dengannya, aku, kamu dan kita semua bisa Allah kumpulkan di Jannah-Nya, dan dicemburui para bidadari surga




SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!