Saturday, March 17, 2018

Mengelola Rasa tuk Buktikan Cinta



Oleh: Siti Rahmah


Dua kata yang seolah tidak akan pernah bisa di lepaskan dari kehidupan remaja, warna - warni kehidupannya senantiasa tercelup oleh rekaan rasa yang hinggap di dalam dada dan di maknai itu sebagai cinta. Nuansa remaja memang selalu beraromakan cinta walaupun dalam aplikatifnya berbeda dalam menuangkan rasa tersebut. Kita banyak menemui remaja yang sudah menata hidupnya dengan berhijrah di tandai dengan memakai hijab untuk remaja putri dan rajin menghadiri kajian - kajian Islam yang tentu saja akan menguatkan azzamnya dalam berhijrah. Bagi remaja seperti ini tentu saja pemaknaan cinta, pengolahan rasa berbeda dengan remaja alay ala Dilan.

Lain lagi dengan remaja alay, mereka yang senantiasa merasa paling berhak dengan yang namaya "cinta", mereka seakan yang paling mengerti akan gelora rasa dan mereka merasa paling tahu bagaimana memanjakan rasa dalam penyalurannya dengan si dia. Bahkan kisah - kisah remaja alay inilah yang kerap kali di jadikan sebagai bahan penarik hati dalam dunia perfilman. Tidak afdhol kiranya ngangkat kisah apalagi kisah remaja jika tidak dominan dengan bumbu cinta. Produk rekayasa inilah yang memicu, mendorong bahkan menajadi inspirasi bagi remaja dalam menyalurkan hasrta cintanya.

Makna Cinta yang hakiki

Pada dasarnya semua manusia pasti memiliki rasa yang di sebut cinta ini, ntah itu remaja atau pun orang tua. Muslim ataupun non muslim, kaya ataupun miskin. Cinta adalah fitrah yang telah Allah anugrahkan pada manusia. Cinta adalah manispestasi dari ghorizah nau yang penampakannya bisa muncul dengan bentuk ketertarikan terhadap lawan jenis, ini wajar adanya.

Tak ada salah ataupun dosa dengan rasa cinta yang di miliki. laki - laki mencintai perempuan begitupun sebaliknya perempuan mencintai laki - laki itu adalah fitrah dari Allah. Sebuah anugrah terindah yang menjadikan hidup berwarna karena adanya cinta. Tanpa cinta mungkin dunia akan terasa hitam putih bahkan kelam tanpa cahaya. 

Diciptkannya makhluk indah nan mempesonakan mata yang di sebut perempuan, begitupun Allah ciptakan mahkluk gagah nan kuat sebagai pelindung yaitu laki - laki dan diantara keduanya Allah anugrahkan rasa cinta, ketertarikan satu sama lain.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً   ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 21)

Mendudukan Cinta

Banyak yang terlena dengan cinta yang mulai menyapa di dalam dada, sehingga mampu menggelapkan mata. Seolah hanya untuk si dialah mereka ada, hanya si dialah tujuan hidupnya dan akan mampu melakukan apapun demi orang yang di cintanya.

Rasa cinta seperti ini tanpa kendali syara hanya akan membawa pelakunya sengsara dan binasa, betapa banyak kisah tragis yang terjadi ketika tidak mampu menundukan rasa cinta. Putus cinta dunia terasa kiamat bunuh diri jadi jalan terakhir, pasangan berkhianat bunuh pasangannya seakan menjadi jalan untuk memuaskan sakit hati, sekelumit kisah tragis ini kerap terjadi di kalangan remaja.

Cinta ketika tidak di dudukan pada kedudukannya maka ia ibarat api yang bisa membakar siapa saja yang menggenggamnya. Pada dasarnya ketika cinta itu muncul tidak bisa di biarkan sendiri tapi butuh ada nya bimbingan dan sandaran. Lantas apa yang menjadi sandarannya? Tentu saja sang Maha cinta yang begitu mencintai makhlukNya yaitu Allah. 

Cinta kepada Allah ini tentu saja harus menjadi sandara utama sebelum mereka mengenal cinta dan ketertarikan terhadap lawan jenis. Bahkan cinta kepada Allah ini di dalam kitab pilar pilar pengokoh nafsiyah disebut sebagai kewajiban. Menurut Al baidhawi cinta manusia kepada Rabbnya adalah keinginan untuk taat. Sehingga dengan berbekal landasan cinta kepada Allah inilah manusia akan mengarungi bahtera kehidupan penuh cintanya dalam koridor ketaatan dan mengelola rasa yang bergelora dengan aturan.  Bagi orang yang mampu mengelola rasanya bersandar kepada kecintaannya kepada Allah inilah Allah akan membalas cinta mereka  dengan pengungkapan yang indah dalam Al Quran.

Allah SWT berfirman:


قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ  يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"

Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 31)


Inilah yang seharusnya di miliki seseorang ketika dia hendak menata hati, mendudukan cinta pada kedudukan yang seharusnya. Mampu menempatkan cinta kepada Allah diatas segalanya, sehingga akan tercurahnya berkah.

Mengelola Rasa tuk Buktikan Cinta

Tak ada yang menyanggah ungkapan cinta hanya bisa di terima jika ada bukti. Jika pemuda alay membuktikan cinta nya dengan aktifitas - aktifitas merusak diri seperti pacaran, ngedate, nonton, kissing, bahkan ada yang sampai fitting hingga bunting (ups,,). Tidak demikian bagi remaja Islam yang sudah mampu mendudukan cintaNya diatas cinta yang mereka miliki, remaja seperti ini akan cerdas dalam mengelola rasa dan akan mampu membuktikan cintanya dengan kesungguhan dan tanggung jawab dunia akhirat.

Jika dia memiliki ketertarikan atau mencintainya lawan jenis yang belum halal baginya maka dia akan mengelola rasa itu dengan tuntunan syariat sampai akhirnya cintanya di halalkan dengan indah. Ketika dia sudah memiliki kemampuan untuk mengahalalkannya maka dia akan menempuh jalan khitbah sebagai bukti ketundukannya kepada syariat. Dengan begitu kesucian dan kemurnian rasa, kesucian cinta dan raga akan terpelihara karena nya.
Wallahu alam





SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!