Thursday, March 15, 2018

Mendidik Remaja Perempuan



Oleh : Desi Yunise
(Founder KIPSA Komunitas Ibu Peduli Generasi dan Keluarga, Anggota Komunitas Revowriter)


Masa remaja digambarkan sebagai masa paling tak terlupakan bagi tahapan kehidupan manusia.  Disebabkan di masa ini memang manusia normal mulai memasuki masa pubertas.  Di masa ini hormon fisiologis manusia disempurnakan dalam perkembangannya.  Mereka siap bereproduksi melanjutkan keturunan.  Biasanya  laki-laki ditandai dengan mimpi basah.  Perempuan ditandai oleh  mulai keluar darah haidh setiap bulannya.

Islam sebagai agama sempurna tak mengingkari adanya naluri berkasih sayang.  Bahkan Allah SWT salah satu sifat yang dimiliki-Nya adalah Maha Pengasih Maha Penyayang.  Naluri ini memang tak bisa dihilangkan pada diri manusia, bahkan memang diberikan-Nya sebagai bagian penciptaan manusia.  Namun manusia harus memahami maksud naluri ini diciptakan.  Allah SWT menciptakan naluri ini agar manusia terdorong melangsungkan jenis  manusia, sehingga spesies manusia tidak punah.  Kalau ada kesenangan saat menuju tujuan ini, maka itu adalah anugerah dari Allah SWT.  Bukan semata-mata untuk menikmati kesenangan sesaat tanpa aturan. 

Naluri berkasih sayang ini dalam Islam hanya bisa disalurkan dalam suatu ikatan suci, yaitu pernikahan.  Bukan dengan seks bebas dan zina.  Bahkan dalam ajaran agama Islam ini merupakan pelanggaran berat yang dicap sebagai dosa besar.  Dan terbukti saat seks bebas marak, disitulah Penyakit Menular Seksual (PMS) dan HIV-AIDS jadi merajalela.

Maka, adanya naluri kasih-sayang ini, sudah semestinya diarahkan untuk mempersiapkan para remaja dalam menjalankan posisinya dalam keluarga.  Laki-laki dipahamkan posisinya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab menjadi pemimpin, menafkahi anggota keluarganya, melindungi dan mengurus semua tanggungannya.  Demikian juga perempuan, sudah selayaknya diarahkan pada  tiga peran penting perempuan.  Peran ini adalah peran sebagai ibu, sebagai isteri dan peran sebagai anggota masyarakat pendidik generasi.

Maka dari itu pendidikan generasi yang akan datang tak boleh terlepas dari mempersiapkan remaja perempuan siap dalam memerankan posisinya.  Peran utama  dalam pandangan Islam ada tiga :

1.    Perempuan  Sebagai Ibu

Islam memandang bahwa fungsi keibuan perempuan adalah fungsi terpenting .  Peran laki-laki dalam fungsi reproduksi berlangsung singkat.  Peran perempuan  masih berlanjut hingga sembilan bulan.  Seluruh keadaan fisiologis dan psikologis ibu mempengaruhinya.  Bukan hanya yang dimakan ibu, tapi yang dirasakannya. Suka-dukanya, tangis-tawanya mempengaruhi bayi dalam kandungannya.  Setelah bayi lahir, peran ibu masih berlanjut dan menentukan perkembangan bayi. 


Mengandung dan melahirkan adalah tugas perempuan  yang tak bisa digantikan oleh siapa pun.  Tugas ini adalah lahan amal sholih yang agung di sisi Allah.  Dari rahim para perempuan  akan lahir generasi baru, menggantikan generasi saat ini.  Islam mengumpamakan perempuan  sebagai ladang , tempat menyemai benih dan menumbuhkan bibit baru.  Jika ladang itu baik, niscaya baik pula yang tumbuh di sana.  Sebaliknya, jika ladang itu jelek, akan jelek pula apa yang hidup di atasnya.  Tak heran, jika serangan budaya asing  berupaya merusak ladang ini dengan berbagai cara.  Pendidikan remaja perempuan harus diarahkan untuk menyiapkan mereka mengemban amanah ini.


2.     Perempuan  Sebagai Isteri

Dalam Islam , keluarga  adalah tempat menumbuhkan ketentraman, kebahagiaan dan cinta kasih.  Karena itu maka mendidik para perempuan  harus juga diarahkan agar dia memiliki sifat sifat  ini.  Sifat-sifat ini perlu diasah dan ditumbuhkan seiring dengan usia reproduksi perempuan. 
Perempuan  pun harus pandai-pandai berhias untuk suaminya, bukan untuk yang lain.  Karena dalam Islam diantara sifat perempuan  sholihah adalah menyenangkan saat dipandang.  Ini pun akan menyalurkan  naluri keperempuanannya  yang suka berhias, namun dibatasi hanya kepada pasangan halalnya. 

Ustadzah Desi Yunise
 
Prempuan  pun harus pandai-pandai dalam menghibur suami dalam penatnya di luar rumah.  Bunda  Khadijah ra  isterinya Rasulullah SAW adalah tauladan utama kaum perempuan  dalam menenangkan suaminya di jalan dakwah. 
3.     Perempuan Sebagai anggota Masyarakat.

Perempuaan  pun bertanggung jawab terhadap anggota masyarakatnya.  Sebagaimana laki-laki berkewajiban yang sama di sektor publik dalam menuntut ilmu dan amar makruf nahi munkar.  Maka prestasi perempuan juga dinilai dari kesuksesannya mengambil peran dalam mendidik masyarakat, tak hanya sebatas mendidik keluarganya semata.  Karena acuh tak acuhnya perempuan  akan membuat kemungkaran terus merajalela. 
Peran perempuan di tengah masyarakat ini, akan semakin menyumbangkan hasil yang nyata dalam kontrol sosial dan mendidik masyarakat.  Hal ini bisa direalisasikan dengan ikut aktif dalam forum-forum kemasyarakatan.


Demikianlah pendidikan remaja perempuan  harus diarahkan dengan mempersiapkannya menjalankan peran di atas dengan  sebaik baiknya.  Jika perempuannya baik maka baik pula generasi yang dilahirkannya.  Hal ini butuh dukungan masyarakat dan negara untuk membangun lingkungan yang kondusif bagi  mereka.









SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!