Wednesday, March 21, 2018

Membentuk Anak Shaleh, Untuk Tabungan Dunia dan Akhirat



Oleh : Eka Suwitaningsih (Ibu Rumah Tangga, Peduli Generasi)


Pernikahan adalah gerbang lahirnya generasi pada rahim seorang Istri. Islam telah menetapkan hukum seputar pernikahan, sebagai salah satu bentuk pelestarian keturunan (fungsi reproduksi). Dan dengan pernikahan maka akan terpenuhilah tuntutan fitrahnya yaitu hubungan kasih sayang antar anggota keluarga. Setidaknya pernikahan memiliki beberapa fungsi diantaranya fungsi reproduksi yaitu untuk melanjutkan keturunan, fungsi proteksi atau perlindungan, fungsi sosial, fungsi afektif, fungsi rekreasi, fungsi spiritual, fungsi edukasi dan fungsi ekonomi.


Setiap insan apabila ia telah siap menikah, di perintahkan untuk segera menikah. Memilih pasangan yang baik agamanya, begitu juga keturunannya, hartanya, serta kecantikannya/atau karena ketampanannya, namun dalam hadist Muslim disebutkan pilihlah karena agamanya, niscaya akan beruntung. 


Karena agama adalah pondasi dalam kehidupan, diharapkan sebuah mahligai rumah tangga akan kokoh, meskipun ujian akan senantiasa menghadang dan silih berganti.


Kelak keturunan ini yang akan mewarisi atas kedua orang tuanya. Penerus setiap apa yang diwariskannya. Maka dari itu, menyiapkan anak-anak shaleh dan shalehah menjadi tuntutan kita sebagai orang tua. Tidak hanya untuk kehidupan di dunia juga kelak di akhirat.


Bagaimana membentuk anak-anak menjadi sholeh dan sholehah sebagai berikut :


Pertama, membekali mereka dengan Ilmu agama sejak dini. Kita bisa mulai dari pendidikan di keluarga. Di kisaran anak usia 0 - 6 tahun. Lingkungan keluarga menjadi madrasatul ula (sekolah pertama), memberi contoh/tauladan yang baik untuk anggota keluarga. 


kedua, pada usia pra baligh (6-12 tahun) mencarikan komunitas/lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang anak, selain lingkungan keluarga, lingkungan ini salah satu yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Kisaran anak usia 6 - 12 tahun, menguatkan lagi tentang konsep keimanan, yaitu mengenal Allah dan rasul Nya, mengingat Nya dan senantiasa taat untuk beribadah, juga di berikan pendidikan tentang akhlak, dan pemahaman tentang fisik yaitu tubuh dan bagaimana menjaganya. Pendidikan intelektual, yaitu kita memilihkan pendidikan yang terbaik untuknya. Pendidikan sosial, bagaimana bersikap santun dan berakhlak baik di lingkungan sosial.


ketiga, persiapan usia baligh, pada usia ini pendidikan seksual harus sudah di tanamkan pada usia 7 tahun dengan memisahkn tempat tidur mereka, menutup aurat juga dapat di ajarkan sedini mungkin, dan diajarkan adab memandang orang tua, dan saat berbicara kepada nya, agar sopan dan tidak meninggikan suara, di ajarkan juga tentang etika meminta izin, pada waktu-waktu aurat. Yaitu menjelang subuh, waktu menanggalkan pakaian luar sebelum shalat zuhur dan setelah shalat isya.
Allah SWT berfirman:


وَاِذَا بَلَغَ الْاَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُـلُمَ فَلْيَسْتَـأْذِنُوْا كَمَا اسْتَـأْذَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اٰيٰتِهٖ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ


"Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur dewasa, maka hendaklah mereka (juga) meminta izin, seperti orang-orang yang lebih dewasa meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana."(QS. An-Nur 24: Ayat 59).


Anak pada usia baligh ini di harapkan sudah memahami tentang apa yang di haramkan dan apa yang di perintahkan Allah SWT, dan pendidikan ini sudah di perkenalkan dan di biasakan sejak dini.
Keempat, masa dewasa/akhir remaja, pada masa- masa ini membina anak bukan lagi seperti tawanan, tapi menjadi sahabat mereka penuh kasih sayang, tetap menjaga kaidah dan adab, karena secara pemikiran mereka telah mampu membedakan apa yang baik dan buruk, halal dan haram. Orang tua mendampingi mereka, mendukung dan mengarahkan mereka agar tidak salah dalam menentukan pilihan hidup. Dengan pemahaman aqidah yang mantap sejak kecil, akan memudahkan orang tua mengasuhnya di usia remaja hingga dia dewasa.


Karena anak adalah tabungan masa depan baik di dunia maupun di akhirat, bagi orang tua, calon orang tua siapkan ilmu untuk bekal mendidik generasi, menjadi generasi tangguh. Dengan terus meminta pertolongan dari Allah agar diberikan jalan keluar setiap permasalahan-permasalahan yang datang kepada kita. 


Dan tidak hanya tugas orang tua saja, membentuk generasi shalih, lingkungan sosial juga punya peranan penting, begitu juga negara. Tantangan mendidik anak juga tidak bisa lepas dari peran negara, sebagai pengayom, pelindung, penjamin ekonomi, dan sebagainya. Sebagai contoh untuk bisa menghidupi keluarga seorang bapak kapala keluarga harus bekerja, maka lapangan pekerjaan harus bisa di ciptakan oleh negera, karena nyawa generasi ada pada punggung seorang ayah. Kesulitan dalam mencari nafkah, akan berdampak juga bagi keberlangsungan kehidupan suatu keluarga.



Namun sungguh di sayangkan, dalam sistem kapitalis saat ini, untuk membentuk anak yang shaleh amatlah berat tidak sedikit yang mengalami kegagalan, dan salah satunya diakibatkan oleh faktor external keluarga, yaitu lingkungan sosial. Di lingkungan keluarga di bentengin dengan kuat, namun gagal ketika sudah terjun ke dalam masyarakat. Terlibat riba, yang jelas itu di haramkan, praktek korupsi yang sudah jadi budaya, baik yang kelas teri hingga kelas kakap yang di pertontonkan oleh para pejabat negara, belum lagi generasi muda banyak terjerumus kedalam dunia hitam narkoba, drug dan masih banyak lainnya. 



Maka seharusnya untuk membentuk anak shaleh, karena di dunia juga menjadi aset bangsa, harus terapkan hukum sesuai dengan syariat Islam, untuk menghukumi setiap pelanggaran sesuai dengan aturan Islam. Yang akan menjamin generasi shalih, pengisi peradaban mulia, di bawah Daulah Khilafah Islamiyah ala Manhaj an Nubuah, maka tugas orang tua akan semakin mudah mencetak generasi shalih, seperti pada masa-masa kejayaan Islam 13 abad lamanya banyak melahirkan generasi-generasi faqih fiddin dan menguasai juga keahlian tentang dunia.
Wallahu a'lam bi showab

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!